Oleh: meysanda | Januari 2, 2009

WACANA-PERCIKAN TESIS

PEMIKIRAN ISLAM

[SEJARAH AWAL ALIRAN PEMIKIRAN] 

Abdullah Khusairi, MA

Program Pasca Sarjana IAIN Imam Bonjol Padang 2008

 

            Pemikiran dalam Islam lahir tidak bersamaan dengan kemunculan Islam, tetapi lahir jauh sesudahnya, setelah melalui proses sejarah yang panjang. Ia berangkat dari kepentingan-kepentingan sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada masa Rasulullah SAW, kaum Muslim tidak mengalami masalah berat ketika berhadapan dengan masalah akidah, ibadah dan muamalah, karena setiap masalah yang muncul dapat dirujuk kepada Nabi Muhammad SAW. Namun setelah Rasulullah SAW wafat pada 632 M, kaum Muslim mulai menghadapi berbagai masalah, khususnya masalah suksesi. Masalah yang paling awal adalah, siapakah pengganti rasul yang akan memimpin umat? Pengganti Muhammad SAW sebagai rasulullah tidak mungkin ada, karena beliau adalah nabi akhir zaman, tetapi pengganti Muhammad SAW sebagai kepala negara, membuat bermunculan pendapat dari kalangan sahabat. Dan keputusan yang diambil tidak memuaskan semua pihak. Dari sinilah muncul cikal bakal munculnya pemikiran-pemikiran baru dari para sahabat.  Jawaban dari masalah awal, pengganti  nabi, akhirnya tercapai dengan kesepakatan. Sebagaimana diketahui, tampuk kepemimpinan (khalifah) diserahkan kepada Abubakar. Dua tahun kemudian, beralih ke Umar bin Khattab. Setelah itu, berpindah ke Utsman bin Affan. Terakhir, dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. Dengan corak kepemimpinan masing-masing, mereka ini disebut khulafa’ur rasyidin.[1]

            Saat kepemimpin Ali bin Abi Thalib, kepemimpinan dan gejolak politik menunjukkan aroma kepentingan kelompok yang sangat kental. Perbedaan-perbedaan pendapat membuat perpecahan dan lunturnya citra kepemimpinan. Siasat politik dan strategi perang yang selama ini untuk mengekspansi daerah kekuasaan akhirnya digunakan untuk perang saudara. Inilah awal dari munculnya aliran pemikiran dalam Islam.

1. Khawarij

            Kata khawarij adalah bentuk jamak dari kharij yang berarti orang-orang yang keluar. Sebagian sejarawan berpendapat bahwa setiap orang yang memisahkan diri dari pimpinannya disebut khawarij. Tetapi yang dimaksud dengan khawarij dalam tulisan ini adalah golongan yang memisahkan diri dari kelompok ‘Alî ibn Abî al-Thâlib.[2] Awalnya mereka adalah pengikut ‘Alî ibn Abî al-Thâlib kemudian meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim) dalam perang shiffin pada tahun 37 H (648 H) dengan kelompok pemberontak Muawiyah bin Abi Sufyan.[3] Pemberontakan ini terjadi telah pula berawal dari kekuasaan sebelumnya, dimana Muawiyah merupakan bagian dari kekuasaan yang pernah dipegang oleh Utsman bin Affan. Muawiyah memberontak dari provinsi bagian yang dipimpinnya dengan alasan meminta ‘Alî untuk mencari dan menghukum siapa yang telah membunuh Utsman, paman Muawiyah yang menangkat Muawiyah sebagai Gubernur Syiria. Persengketaan khalifah ini akhirnya bergeser menjadi masalah teologis. Kelompok khawarij tidak sepakat menerima tahkim. Menurut mereka tahkim adalah adat jahiliyah yang haram diikuti tidak sesuai dengan al-Quran. Lebih-lebih dalam tahkim tersebut, Ali dalam posisi yang kalah dan harus menerima kelicikan dalam tahkim. Dalam banyak buku disebutkan, peristiwa ini merupakan kudeta dari daerah karena lemahnya posisi politik yang berada di pihak Ali.[4]

            Munculnya kelompok khawarij, merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan, munculnya aliran-aliran pemikiran dalam Islam lain sesudahnya.  Secara umum, ajaran pokok khawarij ini dapat disebutkan;

a.      Khalifah

Konsep khilafah menurut aliran ini lebih demokratis ketimbang konsep Syi’ah[5]. Khilafah dapat dipilih secara bebas tanpa diskriminasi. Tak perlu harus orang Quraish. Selama khalifah berlaku adil, menjalankan syari’at wajiba ditaati dan jika menyimpang wajib dijatuhkan bahkan dibunuh.[6] Karakter kelompok ini adalah pemahaman mereka terhadap nash al-Quran terbatas hanya pada makna tekstual, tanpa menganalisa maksud, tujuan dan konteks nash.

b.      Mukmin dan Kafir

Khawarij berpendapat bahwa iman itu tidak cukup dengan ucapan dan keyakinan tapi harus direalisasikan dengan perbuatan, bahkan lebih keras dari itu mereka mengklaim orang yang pernah melakukan dosa besar. Siapa saja yang beriman kepada Allah, Rasul, mendirikan shalat, berpuasa dan mengamakan segala rukun Islam dengan sempurna kemudian ia melakukan dosa besar, maka orang tersebut adalah kafir.[7]

Bagi khawarij seorang yang mengaku mukmin harus mengkristalkan iman di dalam dirinya. Kalau kurang salah satu dari tiga ini, maka iman seseorang tersebut belum sempurn. Iman bisa bertambah dan bisa berkurang sesuai dengan kadar amal. Bahkan iman itu bisa habis bila seseorang melakukan dosa besar sehingga dengan demikian di atelah menjadi kafir. Apabila pelaku dosa besar ini tidak bertaubat sebelum meninggalkan maka ia akan kekal dalam nereka sesuai dengan kekafirannya itu. Selain itu, dosa besar menurut mereka adalah sama dengan kekufuran, pelaku dosa besar adalah kafir bila tidak bertaubat. Berdasarkan prinsip ini, mereka mengkafirkan semua pelaku tahkim dan kaum muslimin yang mengikutinya karena mereka telah salah memahami wahyu. Yang dikategorikan sebagai pelaku dosa besar dalam pandangan mereka adalah syirik, sihir, membunuh manusia tanpa hak, memakan harta anak yatim, makan riba, berkata-kata dan bersaksi dusta, durhaka kepada orang tua, lari dari medan perang, menuduh curang wanita shaleh. Masalah hukum dan klaim kafir terhadap pelaku tahkim dan pengikutnya, khawarij berpedoman pada surat al-Maidah: [5]: 44. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.[8]

            Khawarij banyak dianut oleh suku Badui yang hidup nomaden. Kehidupan yang keras di gurun pasir dan perang menjadi mata pencaharian serta pengetahuan yang lemah menjadikan alasan yang kuat, pemahaman kaum ini sangat tekstual. Dalam perkembangannya, aliran ini terpecah-pecah hanya karena masalah perbedaan yang sangat sepele. Misalnya, orang mukmin yang tidak setempat dengan mereka ada yang menilai kafir, boleh diperangi dan ada pula yang menilai tidak kafir dan tidak boleh diperangi. Namun demikian, semua sekte sepakat mengatakan bahwa orang yang berbeda berpendapat dengan mereka adalah kafir.

        Di antara sekte pecahan dari khawârij yang terkenal adalah: al-Muhakkimah[9]al-Azariqah[10], al-Najdah[11],  al-Shufriyyah[12], al-‘Ajaridah[13] dan al-Ibadhiyah[14]. Masih beberapa yang beberapa sekte lagi, tetapi tidak terlalu signifikan untuk diuraikan, karena pengaruh yang tidak terlalu besar dan kuat.

            Dari aliran-aliran yang telah dikemukakan, terdapat dua kelompok lain yang telah jauh keluar dari nilai-nilai ajaran Islam. Pendapatnya cenderung subjektif untuk kepentingan kelompok dan terkesan sangat diambil karena situasi yang mereka hadapi. Dengan kata lain, sudah dalam keadaan terjepit pada saat itu. Aliran-aliran ini adalah: Yazidiyyah: Aliran ini pada awalnya pengikuti alliran al-Ibadiyyah, namun kemudian berpendapat bahwa Allah akan mengutuskan seorang rasul dari kalangan luar Arab yang akan diberikan kitab menggantikan syariat yang dbiawa oleh Muhammad SAW.

Maimunnah: Aliran ini dipimpin oleh Maimun al-Ajrad. Mereka berpendapat bahwa seorang boleh menikahi cucu peremppuan dari anak laki-laki dan anak perempuan dari saudara laki-laki sebab al-Quran tidak menyebut wanita-wanita tersebtu dalam kelompok wanita yang harap dinikahi. Mereka juga menilai bahwa Surat Yusuf tidak termasuk bagian dari al-Quran karena menceritakan tentang seks.[15]

2. Murji’ah

            Murji’ah merupakan bentuk isim fa’il dari kata arja’a yang berarti menangguhkan, melambatkan, mengemudiankan. Menurut Al-Syahrastani, dinukilkan oleh Afrizal M dalam Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam, kata arja’a juga berarti mengharapkan. Jadi, maksudnya terminologinya, Murji’ah berarti aliran yang mengemudiankan amal dari iman dan ada juga yang menunda persoalan dosa sampai  hari kiamat.[16]

            Seperti khawârij, murji’ah juga muncul karena persoalan politik. Namun bedanya, golongan khawârij muncul disebabkan oleh masalah politik secara langsung sedangkan murji’ah muncul disebabkan secara tidak langsung. Golongan ini lebih bersikap netral dan pasif terhadap masalah yang berkembang ketika itu, terutama dalam penilaian pelaku dosa besar, apakah pelaku dosa besari itu menjadi kafir atau masih tergolong mukmin, bagi murji’ah mereka tetaplah mukmin hanya saja masalah dosa besar diserahkan kepada Allah menilai nantinya di hari perhitungan.[17]

            Menurut murji’ah, kelompok ‘Ali dan Mu’âwiyah masih dapat dipercaya. Oleh sebab itu, golongan ini tidak mau mengeluarkan pendapat tentang siapa yang salah atau benar dan menunda penyelesaian pada hari kiamat. Artinya, ajaran ini sangat kontras dengan ajaran khawarij.

            Dikatakan Yusran Asmuni, latar belakang munculnya kehadiran murji’ah ini adalah; perbedaan-perbedaan pendapat syi’ah dan khawarij dalam mengkafirkan orang yang ingin merebut kekuasaan Ali dan orang yang menyetujui tahkim. Adanya pendapat yang menyalahkan Aisyah dan kawan-kawannya yang menyebabkan terjadinya perang jamal. Adanya pendapat yang menyalahkan orang yang ingin merebut kekuasan Usman bin Affan.[18]

            Secara garis besar, ajaran-ajaran pokok murji’ah adalah:

a.       Pengakuan iman cukup hanya dalam hati. Jadi pengikut golongan ini tak dituntut membuktikan keimanan dalam perbuatan sehari-hari. Ini merupakan sesuatu yang janggal dan sulit diterima kalangan Murjites sendiri, karena iman dan amal perbuatan dalam Islam merupakan satu kesatuan.

b.      Selama meyakini dua kalimah syahadat, seorang Muslim yang berdosa besar tak dihukum kafir. Hukuman terhadap perbuatan manusia ditangguhkan, artinya hanya Allah yang berhak menjatuhkannya di akhirat.

c.       Hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan sampai  hari kiamat dan diserahkan kepada Allah apakah pelaku dosa besar diampuni atau tidak. [19]

            Tokoh utama aliran ini ialah Hasan bin Bilal Muzni, Abu Sallat Samman, dan Diror bin ‘Umar. Dalam perkembangan selanjutnya, aliran ini terbagi menjadi kelompok moderat yang dipelopori Hasan bin Muhammad bin ‘Ali bin Abi Thalib dan kelompok ekstrem dipelopori Jahm bin Shofwan. Namun, seperti aliran khawarij, aliran murji’ah juga hanya tinggal dalam catatan sejarah. Tetapi, ajaran-ajarannya tentang kufur dan dosa besar masih diikuti kaum Muslimin bahkan diserap ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.[20]

            Karena iman bagi golongan murjiah terletak dalam hati, hanya Tuhan yang mengetahui, timbullah dalam pendapat mereka bahwa melakukan maksiat, atau pekerjaan jahat tidak merusak iman. Jika seseorang mati dalam keadaan beriman, dosa-dosa dan pekerjaan jahat yang dilakukannya tidak akan merugikan orang itu.[21]

            Pemikiran-pemikiran di atas menimbulkan pengertian bahwa amal tidak sepenting iman. Iman terletak dalam hati dan tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Perbuatan-perbuatan manusia tidak selalu menggambarkan apa yang ada di dalam hatinya. Oleh sebab itu, yang penting adalah iman dan perbuatan tidak merusak iman. Ajaran ini menimbulkan bahaya bagi moral karena ajaran itu dapat mentolerir berbagai penyimpangan dari norma-norma yang berlaku. Karena yang penting hanya iman, norma-norma moral dapat dipandang kurang penting dan dibiarkan oleh penganut paham demikian.

            Pemikiran ini menguntungkan pemerintah yang sedang berkuasa. Berkedudukan dan keabsahan mu’âwiyah di saat itu secara politis tidak batal, meski ia telah berbuat sesuatu yang dianggap dosa. Dengan demikian, pemberontakan terhadap Bani Umayyah tidak sah menurut hukum. Ada kemungkinan murji’ah mendukung pemerintahahn mu’âwiyah atas dasar agama meski mereka tidak terlalu menyukai mu’âwiyah, tetapi murji’ah mementingkan hukum dan ketertiban.[22]

            Secara garis besar, aliran murji’ah terbagi dua, golongan murji’ah moderat dan golongan murji’ah ekstrem. Murji’ah moderat memiliki pemikiran, pelaku dosa besar bukan kafir dan tidak kekal dalam neraka, tetapi akan dihukum sesuai dengan besar dosanya dan ada kemungkinan Tuhan akan mengampuninya sehingga tidak masuk neraka sama sekali.

            Tokoh-tokoh barisan ini adalah, al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan ahli Hadits.

            Sementara itu, golongan murji’ah ekstrem memiliki pemikiran, Muslim yang percaya pada Tuhan kemudian menyatakan kekufuran secara lisan tidaklah menjadi kafir, Karen iman dan kufur letaknya dalam hati. Iman adalah mengetahui Tuhan dan kufur adalah tidak tahu pada Tuhan, oleh karena itu shalat tidak termasuk ibadah kepada Allah sebab ibadah adalah iman kepada Allah dalam pegnertian mengetahui Tuhan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah, al-Jahmiah, pengikut dari Jahm bin Shafwan.[23]

3. Jabbariah

            Pendapat-pendapat dalam menafsirkan Al-Qur’an dan Hadits dalam impelentasi dalam kehidupan sehar-hari memang mulai terus bermunculan. Selain khawarij dan murjiah, terdapat aliran lain yaitu, jabbariayyah berasal dari jabara yang berarti memaksa.[24] Asy-Syahrastani menyatakan bahwa paham al-Jabr berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesunggunya dan menyandarkan kepada Allah.[25] Dengan kata lain jabbariah adalah paham yang menyebutkan perbuatan manusia telah ditentukan dari semua oleh qadha dan qadar. Dalam bahasa Inggeris paham ini dikenal dengan sebutan fatalisme atau predestination.[26]

            Sebelum masa Islam, sikap jabr telah ditemukan dalam masyarakat Arab. Suasana padang pasir membuat mereka banyak bersikap pasrah, tidak dapat berbuat banyak kecuali hanya menyesuaikan diri dengan kondisi itu. Mereka tidak banyak menemukan jalan untuk mengubah keadaan mereka sendiri, mereka merasa lemah dan tidak mampu menghadapi kesukaran-kesukaran yang ditimbulkan oleh suasan padang pasir itu sehingga kehidupan mereka banyak tergantung kepada alam. Hal inilah yang membuat mereka pasrah (jabr).

            Bila khawârij melihat kepada kafirnya seseorang, murjiah melihat kepada mukminnya seseorang, aliran jabbariyah, di sisi lain, melihat kepada perbuatan Allah dan perbuatan manusia. Dalam sejarah, aliran jabbariyyah dimunculkan pertama sekali oleh Ja’d ibn Dirhâm, dikembangkan oleh Jahm ibn Shafwân. Bibit aliran ini sudah ada semenjak masa sahabat, tetapi berkembang pada masa tabiin. Aliran itu ada yang bersifat ekstrim dan ada yang moderat.

            Pemikiran yang ekstrim mengatakan bahwa manusia tida menciptakan perbuatannya. Perbuatan itu hanya ada pada Allah. Manusia tidak mempunyai pperbuatan karena dia tidak mempunyai kemampuan (istithâ’ah) untuk berbuat. Perbuatan yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia sama dengan gerak yang diciptakan Tuhan dalam arti sebenarnya tetapi dalam arti majazi. Segala perbuatan manusia merupakan perbuatan yang dipaksakan atas dirinya, termasuk perbuatan mengerjakan kewajiban dan menerima pahala dan siksa.[27]

            Dengan demikian, perbuatan manusia tidaklah timbul dari kemauan sendiri tetapi perbuatan itu dipaksakan atas dirinya. Misalnya, jika seorang pencuri, perbuatan mencuri itu bukan atas kehendak sendiri tetapi timbul karena kehendak Tuhan. Jadi jabbariyyah ekstrem berkeyakinan bahwa yang mempunyai rencana dan melaksanakan perbuatan manusia adalah Allah. Manusia dianggap sebagai pelaku yang semu terhadap perbuatan sendiri.

            Sedangkan jabbariyyah modern berpendapat bahwa Tuhan memang menciptakan perbuatan manusia baik yang baik dan yang jahat, tetapi manusia mempunyai andil dalam mewujudkan perbuatan itu. Tenaga yang diciptakan dalam diri manusia mempunyai efek dalam mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Inilah yang disebut kasb, dengan arti perolehan bagi manusia karena yang mewujudkan perbuatan bukan manusia tetapi Tuhan. Perbuatan manusia pada hakikatnya diciptakan Tuhan. Manusia dan Tuhan bekerja sama dalam mewujudkan perbuatan manusia.[28]

            Dalam Al-Qur’an dijumpai ayat-ayat yang menjadi landasan paham jabbarriyah, seperti:

            Kamu tidak menghendaki, tetapi Allah yang menghendaki….” (Q.S. al-Insân [76]: 30)[29]

            Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa paham ini masih terdapat di kalangan muslim meski pembawa dan penganjur paham ini sudah tidak ada.

4. Qadariyyah

            Qadariyyah berasal dari qadara yang berarti berkuasa. Maksud berkuasa adalah mempunyai kekuasaan (qudrah).[30] Tuhan disebut Qadîr karena Dia mempunyai qudrah yang sangat besar dan dahsyat. Manusia bisa berbuat karena dalam dirinya juga terdapat qudrah. Seperti Jabbariyyah, Qadariyyah juga mencurahkan perhatian kepada perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

            Tidak banyak diketahui, kapan dan bagaimana Qadariyyah muncul di dunia Islam. Menurut pendapat ahli ilmu kalam, orang pertama membawa paham Qadariyyah adalah Ma’bad al-Juhani (w.80 H/699 M) dan Ghaylan al-Dimasyqî (w. 105 H/722 M). Ma’bad adalah seorang tabii yang baik. Ia masuk lapangan politik, mendukung ‘Abd al-Rahmân ibn al-Asy’asy, gubenur Sijistan dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’bad terbunuh pada tahun 80 H.

            Menurut dua tokoh ini, manusia berkuasa atas perbuatannya, mempunyai kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya, dan mempunyai kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatannya. Jadi di sini tidak ada campur tangan Tuhan pada waktu manusia berbuat atau memilih untuk tidak berbuat, tidak dapat paham bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan manusia bertindak menurut aturan yang ditentukan semenjak azali. Tetapi paham yang ada ialah manusia merdeka dalam bertingkah lakunya, berbuat atas kehendak dan kemauan sendiri.

            Dalam al-Quran dijumpai ayat yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan perbuatannya, seperti:

            Katakanlah! Kebenaran datang dari Tuhanmu. Siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan siapa yang ingin kafir, biarlah kafir…. (Q.S. al-Kahfi [18]:29)[31]

            Ayat seperti inilah yang menjadi dasar keberadaan aliran qadariyyah. Seperti aliran jabbariyyah, dengan landasan ayat-ayat al-Qur’an, wajarlah qadariyyah lahir dan berkembang di berbagai belahan dunia Islam meski para pembawanya telah meninggal dunia. Bagaimanapun, paham kemerdekaan dan kebebasan manusia itu cukup berguna bagi kemajuan karena paham seperti ini menggambarkan sikap dinamis yang perlu ada pada manusia.

5. Mu’tazilah

            Kata mu’tazilah berasal dari kata i’tazala yang berarti menjauhkan atau memisahkan diri dari sesuatu. Kata ini kemudian menjadi nama suatu aliran dalam ilmu kalam, yang berdasarkan peristiwa yang terjadi antara Wâshil ibn ‘Athâ’ (80 H/699 M) dan ‘Amr Ibn ‘Ubayd dengan al-Hasan al-Bashrî. Dalam majelis pengajian al-Hasan al-Bashrî muncul pertanyaan tentang kedudukan orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan juga bukan kafir, tetapi berada di antara dua posisi yang istilahnya al-manzilah bayn al-manzilatayn. Pada pengajian tersebut Wâshil ibn ‘Athâ’ berdiri dan pergi menjauhkan diri dari pengajian Hasan. Maka Hasan mengatakan Washil menjauhkan diri atau memisahkan diri. Ada beberapa versi cerita lagi[32], yang sangat terkenal adalah cerita di atas tadi.

            Ahmad Amin, menyebutkan bahwah mu’tazilah sudah ada sebelum peristiwa Washil dan Hasan. Ini dibuktikan dengan pertikaian politik yang terjadi pada masa Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Dalam keadaan ini, ada suatu kelompok yang menjauhkan diri dari pertikaian tersebut dan mereka pergi menuju Kharibta (i’tazalat il kharbita). Oleh sebab itu, dalam surat yang dikirimnya kepada  Ali, kelompok ini menyebut diri mu’tazilin.[33]

            Ada kemungkinan Wâshil ingin mengambil jalan tengah antara khawârij dan murjiah. Ia tidak mengatakan bahwa orang berdosa besar itu kafir seperti khawârij dan tidak pula seperti mur’jiah, melainkan berada di posisi. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa orang yang berdosa besar itu masih ada imannya tetapi tidak pula dapat dikatakan mukmin karena ia telah berdosa. Orang serupa ini kalau meninggal dunia akan kekal dalam neraka, hanya azabnya saja yang lebih ringan daripada azab orang kafir. Itulah pemikiran Wâshil yang pertama sekali muncul.

      Selain Wâshil, tokoh Mu’tazillah yang cukup terkenal adalah Abû al-Hadzayil al-‘Allâf. Ia memahami filsafat Yunani dengan baik hingga ia mudah menerapkan ajaran Mu’tazilah yang filosofis. Di antara kelebihan Abû al-Hudzayl adalah kemampuan dialektiknya yang besar. Dengan kemampuan itu, ia berdialog mempertahankan pemikirannya dari serangan kritik orang Nasrani, terutama mengenai perbuatan Allah dan perbuatan manusia.

            Dalam aliran mu’tazilah ada lima prinsip pokok dari ajarannya yang dikenal dengan al-Ushul al-Khamsah, yang meliputi al-tauhid, al-‘adl, al-wa’du wa al-wa’id, al-manzilatu baina al-manzilatain dan amar makruf.[34]  Kelima prinsip pokok ini saling berkaitan dan merupakan ajaran yang harus dipegangi oleh setiap orang yang mengaku sebagai aliran mu’tazilah.

            Al-Tauhid, merupakan prinsip utama bagi aliran mu’tazilah. Walau pun sebenarnya masing-masing aliran teologis dalam Islam memegang doktrinini. Bagi aliran mu’tazilah, al-tauhid memiliki arti yang spesifik. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengari arti ke-Maha-Esaan-Nya.

            Berkaitan dengan al-tauhid, al-‘adl bagi mu’tazilah tuhan adil dan berbeda dengan makhluk dan jauh dari persamaan. Dengan al-‘adl, tuhan bisa berlaku adil dan tidak berlaku zalilm. Karena tuhan Maha Sempurna, sementara perbuatan zalim timbul dari yang bersifat tidak sempurna. Kebalikan dari hal tersebut, manusia mempunyai kebebasan dan diberi kewenangan memilih. Tidak ada paksaan dari Tuhan. Dengan kebebasan ini manusia bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Di sinilah Kekuasan tuhan tidak lagi mutlak untuk manusia. Manusia diberi kebebasan dan alam diberikan hukum (sunatullah) yang menurut al-Quran tidak pernah berubah.[35]

            Sedangkan al-wa’du wa al wa’id, merupakan kelanjutan prinsip keadilan tuhan. Bagi mu’tazilah, prinsip ini berhubungan dengan pahala dan siksaan di hari kemudian. Manusia akan menerima ganjaran berupa pahala atau siksaan, sesuai dengan perbuatannya di dunia. Orang mukmin yang taat kepada Allah dan selalu bertaubat, maka ia berhak mendapatkan pahala dan imbalan surga. Namun mukmin yang tidak taat kepada Allah dan tidak bertaubat atas dosa maka ia mendapat siksaan selamanya, tetapi siksaan yang diterimanya lebih ringan dibandingkan siksaan yang diterim oleh orang kafir.[36]

            Prinsip empat, al-manzilatu baina al-manzilatain ini sangat erat hubungan dengan keadilan tuhan. Dalam konsep ini, mu’tzilah menyatakan bahwa mukmin yang berubat dosa besar, bukanlah menjadi kafir selama ia masih percaya pada Allah dan Rasul-Nya. Tetapi bukan pula mukmin secara mutlak karena imannya tidak lagi sempurnanya. Akan tetapi ia bis dicapkan sebagai fasik.

            Pada prinsip terakhir, amar ma’ruf nahi munkar menurut mu’tazilah  perintah dan larangan tersebut kalau dapat dengan seruan saja, tetapi kalau perlu dengan kekerasan. Dalam hal ini, kekerasan yang dilakukan oleh mu’tazilah dalam menyiarkan ajaran-ajarannya.  

            1. Kedudukan Akal dan Wahyu

            Mu’tazilah dikenal dengan sebutan kaum rasionalis Islam karena dalam persoalan-persoalan teologis mereka banyak menggunakan akal. Mereka membahas secara filosofis hal-hal yang belum diketahui melalui metode filsafat dan mereka memberikan pemecahan terhadap problematika pelik dengan menampilkan pemecahan baru.[37] Menurut mu’tazilah bahwa akal bisa mengetahui tuhan, kewajiban mengetahui tuhan, mengetahui baik dan jahat, serta kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauh yang jahat.

            Sementara wahyu menurut aliran mu’tazilah dalam hal mengetahui tuhan tidak mempunya apa-apa, tetapi untuk mengetahui cara menyembah tuhan, maka wahyu diperlakukan. Akal memang bisa mengetahui kewajiban berterima kasih pada tuhan, tetapi wahyu menerangkan kepad amanusia tentang cara berterima kasih dengan tuhan. Dengan demikian, wahyu menyempurnakan pengetahuan akal.[38]

            2. Sifat Tuhan

            Tentang sifat tuhan, mu’tazilah menyatakan bahwa tuhan tidak mempunyai  sifat (nafi al-shifat), tetapi mereka tetap mengakui bahwa tuhan itu Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat dsb. Menurut mereka bahwa Maha Mengetahui itu bukanlah sifat, tetapi zat-Nya sendiri.[39] Kalau tuhan mempunya sifat, maka ada dua yang qadim (ta’addud al-qudama/multiplizity of eternals) yaitu zat dan sifat atau berbilangnya zat yang tak berpermulaan.

            Mu’tazilah mengingkari bahwa tuhan mempunyai sifat, karena mereka ingin memurnikan ke-Esaan tuhan (tanzih) dari paham antromorfisme (tajassum)[40], paham beatific vision, dan juga menolak paham yang mengatakan al-Qur’an itu qadim.  

            3. Iman dan Kufur

            Iman bukan tashdiq saja, dan iman dalam arti ma’rifah pun belum cukup, karena iman yaitu amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui tuhan.[41] Dengan kata lain, iman adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ini sangat berhubungan erat dengan konsep al-wa’du wal al-wa’id, oleh sebab itu bisa berkurang dan bisa bertambah. Sementara itu, dalam hal kufur, mu’tazilah tidak menentukan status dan prediket yang pasti bagi mukmin yang melakukan dosa besar. Apakah ia tetap mukmin atau telah menjadi kafir. Yang jelas, mereka pada mulnya menyebutkan istilah al-manzilatu bain al-manzilatain (posisi di antara dua posisi).

            4. Perbuatan Tuhan dan Perbuatan Manusia          

            Perbuatan tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dikatakan baik. Namun bukan berarti tuhan tidak sanggup bebuat atau melakukan pebuatan buruk. Tuhan tidak melakukan perbuatan buruk karena tuhan mengetahui keburukan perbuatan buruku itu. Pendapat ini dirujukkan kepada ayat: 23, surat al-anbiya [23]:

            Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan akan ditanya.[42]

            Oleh sebab itu, bagi mu’tazilah bahwa Tuhan mempunyai kewajiban untuk berbuat baik kepada manusi. Paham tentang Tuhan berbuat baik, bahkan yang terbaik (al-shalah wa al-ashlah) ini menjadi konsekwensi aliran mu’tazilah melahirkan paham kewajiban tuhan sebagai berikut;

a.       Kewajiban tidak memberikan bebaen di luar kemampuan manusia (taklif ma la yulaq). Tuhan akan disebut tidak adil, kalau tuhan memberikan beban yang tidak sesuai dengan kesanggupan manusia

b.      Kewajiban mengirim rasul untuk memberikan petunjuk pada manusia.

c.       Kewajiban menepati janji dan ancaman (al-wadu wa al-wa’id).

            Sementara itu, soal perbuatan manusia, mu’tazilah menyatakan, manusia mempunyai daya yan besar dan bebas. Ini hamper sama dengan paham qadariyyah atau kebebasan dalam berkehendak dan berbuat (free will an free act). Bagi mu’tazilah manusia itu berkuasa dan mampu menciptakan perbuatan-perbuatannya baik atau jelek dan nanti di akhirat ia berhak mendapatkan pahal atau siksaan karena perbuatan tersebut. Perbuatan yang benar adalah perbuatan yang timbul dari kebebasan yang sempurna, karena akan menjadi konsekwensi tangung jawa. Jadi, perbuatan yang baik atau yang buruk  pada manusia adalah kehendak manusia sendiri, bukan paksaan tuhan. Tuhan hanya menciptakan daya (al-istitha’ah atau qudarat) dalam diri manusia sebelum adanya perbuatan. Perbuatan manusia bukanlah ciptaan tuhan pada dirinya, tetapi manusia sendiri yang mewujudkannya.[43]

6. Asy’ariyyah

            Pada mulanya, Abu Hasan Asy’ari adalah pentolan mu’tazilah. Ia keluar dan membuat ajaran sendiri. Beragam asumsi kenapa ia keluar, namun yang paling jelas, sudah berbeda sikap dan pandangan politik. Namun para peneliti belum bisa memastikan alasan paling tepat kenapa Asy’ari meninggalkan dan melahirkan aliran kalam Asy’ariyyah.

            Salah satu kisah keluarnya Abu Hasan Asy’ari ialah, ketidakpuasannya dengan gurunya, Jubba’i, juga tokoh mu’tazilah ketika berdialog tentang kedudukan orang mukmin, kafir dan anak keci di akhirat. Dalam dialog tersebut digambarkan Jubba’i tidak menjawab pertanyaan Asy’ari tentang tuhan tidak menjaga kepentingan sikafir dengan mematikannya sebelum dewasa sebagaimana banyak anak kecil, demi kepentingan mereka dimatikan tuhan sebelum usia dewasa.

            Pada versi lain, perdebatan keilmuan murid dan guru tersebut sering tidak memuaskan sang murid. Hal ini membuat keraguan bagi Asy’ari terhadap aliran mu’tazilah. Disamping itu, ada dua aspek yang bertentang dalam diri Asy’ari, yang keduanya tidak bisa berkumpul bersama. Asy’ari dalam bidang teologi bermazhab mu’tazilah sedangkan bidang fiqh, ia bermazhab Syafii. Hal ini terjadi karena, selain belajar dengan Jubba’i, ia belajar dengan Abi Ishaq al-Maruzi, seorang ulama mazhab Syafi’i. Mazhab Syafi’i, banyak bertentangan paham dengan aliran mu’tazilah.

            Pemikiran Asy’ari dalam bidang ilmu kalam dapat diuraikan sebagai berikut;

a.      Akal dan wahyu

            Posisi Akal lebih rendah dari wahyu. Sumber kebenaran ada pada wahyu. Akal tidak mampu tanpa landasan wahyu. Bila dalil akal (logika) bertentangan dengan wahyu, maka wahyu yang dikedepankan. Karena akal terbatas nalarnya. Inilah prinsip yang fundamental dalam ajaran Asy’ariyyah. Namun demikian, peran akal sangat penting dalam merasionalisasi ajaran agama. Oleh karenanya, aliran ini membagi peran akal. Ada masalah-masalah yang mampu  bisa dipecahkan akal (al-‘aqliyyat wal al-mahsusat) yaitu masalah-masalah yang tidak ada dalil naqlinya. Kemudian ada masalah-masalah yang tidak mampu dipecahkan akal dan hanya mampu ditentukan oleh wahyu (al-sam’iyyat). Masalah ini wajib diimani dengan petunjuk dalil naqli.

b.      Sifat Tuhan

Berbeda dengan mu’tazilah, Asy’ari berpendapat bahwa tuhan mempunyai sifat, seperti disebutkan dalam al-Qur’an. Misalnya ilmu, hayat, sama’, bashar, qudrah, irada dsb. Sifat-sifat tuhan tidak serupa dengan sifat makhluk meskipun sama namanya. Sifat tuhan itu dalam arti Allah ta’ala azali, qadim dan beridir dengan zat-Nya sendiri. Tidak boleh dikatakan Dia (sifat) itu adalah Dia (zat) dan tidak pula Dia (sifat) selain-Nya (selain zat-Nya). Dengan kata lain, sifat tuhan tidak bisa terlepas (mustaqil) dari zat-Nya.[44]

c. Iman dan Kafir

            Asy’ari menolak paham tentang al-manzilah baina al-manzilaatian yang menjadi anutan mu’tazilah. Menurut pendapat mu’tazilah terdapat tiga posisi manusia, yakni posisi mukmin, posisi fasik dan posisi kafir. Seorang yang fasik bukanlah mukmin dan tidak pula kafir. Menurut Asy’ari hanya ada dua posisi bagi manusia yakni posisi mukmin dan posisi kafir. Orang-orang yang sudah mengaui dua kalimat shahadat, menurut Asy’ari bila melakukan dosa besar tetap mu’min dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya. Kalau seseorang melakukan perbuatan zina itu tidak mengeluarkan dari mukmin kafir. Seandainya orang yang berbuat dosa besar tidak mu’min dan tidak kafir, maka di dalam dirinya tidak didapati keimanan dan kekufuran. Dengan demikian tidak dpat disebut aties atau monoties, teman atau lawan. Hal semacam itu mustahil adanya.[45]   

            d. Perbuatan Tuhan dan Manusia

            Menurut Asy’ari, segala sesuatu tidak akan terjadi tanpa kemauan (iradah) Allah sehingga lupa dan alai tidak dinisbahkan kepada Allah begitu juga dia tidak disifati dengan lemah. Tidak lupu dari ilmu-Nya sekecil apa pun yang ada di ala mini semua terjadi di alami ini atau pun buruk semua sesuai dengan taqdir dan keinginan Allah. Hal ini bukan bearti  manusia boleh menyerah dan menunggu taqdir Allah seperti aliran jabbariyyah. Ada Perbuatan-perbuatan hamba yang sifatnya tidak bisa dihindari (idthirariah) dan ada yang bersifat bisa memilih (ikhtiyariah).

            Perbuatan yang pertama akan terjadi dan seseorang tidak mampu menolaknya., sedangkan yang kedua hamba mampu untuk memilih, mengerjakan atau tidak tetapi hal itu sudah didahulu oleh keinginan Allah. Perbuatan-perbuatan yang dihasilkan seseorang setelah dia berudaha dan ditakdirkan terwujud oleh Allah ini dinamakan muktasab. Dan usaha-usaha yang dilakukan seseorang itu dinamakan kasab.[46]

            Asy’ariyyah berkembang pesat dan memiliki tokoh-tokoh yang terkenal, seperti, al-Juwaynî yang terkenal dengan sebutan Imâm al-Haramayn. Ia lahir di Khurasan pada 419 H dan wafat pada 478 H/1085 M. Perkembangan kalam Asy’ariyyah di masanya sejalan dengan tampilnya Dinasti Bani Saljuk dengan perdana menteri Nizhâm al-Mulk (408 H/1018 M-485 H/1092 M) menggantikan kekuasaan Bani Buwayh. Perdana Menteri ini membangun Madrasah al-Nizhâmiyyah di Nisapur. Al-Juwaynî diangkat sebagai guru besar di madrasah tersebut. Di sini, Al-Juwaynî kalam, fikih, tafsir dan lain-lain. Dari madrasah ini, banyak para pemikir terkenal di dunia Islam yang dihasilkan. Merekalah yang mengembangkan ajaran yang diperoleh dari madrasah ini ke berbagai dunia Islam.

            Pengikut al-Asy’ari yang sangat besar dan terkenal adalah Abû al-Hâmid al-Ghazâlî yang terkenal dengan gelar hujjah al-Islâm. Ia dilahirkan di Thus, Khurasan, pada 450 H/1059 M. Bisa dikatakan bahwa pemikirannya tidak jauh berbeda dengan al-Asy’arî. Seperti al-Asy’arî, al-Ghazâlî berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat kadim yang berbeda dengan zat Tuhan. Al-Qur’an menurut dia adalah kalam Allah yang kadim. Al-Ghazâlî juga berpendapat bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat karena setiap yang mempunyai wujud dapat dilihat.

7. Mâturîdiyyah

            Seperti asy’ariyyah, mâturîdiyyah juga muncul sebagai reaksi terhadap pemikiran mu’tazilah. Sebenarnya aliran ini terdiri dari dua kelompok yaitu mâturîdiyyah yang dikembangkan di Samarkand yang dibawa oleh Abû Manshûr al-Mâturîdiy (333 H/944 M), dan mâturîdiyyah yang dikembangkan di Bukhara yang dibawa oleh al-Bazdawî (421-493 H). Seperti Asy’ariyyah, aliran ini juga banyak memakai al-Qur’an dan sunnah nabi sebagai argumen dalam pemikiran kalam mereka. Oleh sebab itu, ketiga golongan ini (Asy’ariyyah, Mâturîdiyyah Samarkan dan Mâturîdiyyah Bukhara) disebut sebagai aliran ahl al-aunnah wa al-jamâ’ah.[47]

            Literatur yang memuat ajaran mâturîdiyyah tidak banyak diketahui karena kurangnya buku-buku teologi Islam yang menyinggung aliran ini. Karangan-karangan mâturîdiyyah sendiri belum dicetak dan sekarang masih dalam bentuk manuskrip. Sebagai pengikut Abû Hanifah, teologinya banyak juga memakai akal. Oleh sebab itu, ada di antara pemikirannya yang sejalan dengan mu’tazilah, namun ada yang sejalan dengan asy’ariyyah.

            Pemikiran al-mâturîdiyyah yang sejalan dengan pemikiran al-Asy’ari adalah tentang sifat Tuhan (al-shalah wa al-ashlah), kadimnya Al-Qur’an, dan keimanan orang yang berdosa besar. Sebaliknya, pemikiran mâturîdiyyah sejalan dengan pemikiran mu’tazilah adalah al-wa’d wa al-wa’id, persoalan antropologisme dan keadilan. Selain itu, berbeda dengan mu’tazilah , al-Bazdawu membawa paham yang dekat dengan al-asy’ariyyah, terutama tentang mengetahui Tuhan dan mengetahui baik dan buruk.

            Menurutnya, akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan buruk, serta mengetahui wajibnya berbuat baik dan meninggalkan yang buruk hanya diketahui dengan wahyu. Pemikiran al-Bazdaqî yang lain umumnya dekat dengan asy’ariyyah.

            Begitulah paham teologis mâturîdiyyah sebagai salah satu mazhab kalam dalam Islam. Yang jelas, aliran-aliran tersebut juga menggunakan akal dalam memecahkan persoalan-persoalan teologis, tetapi mereka tidak melepaskan wahyu sebagai sumber ajaran ketuhanan itu.[48]

 

Ruang Lingkup Pemikiran Islam

Setelah memaparkan sejarah singkat beberapa aliran pemikiran dalam Islam, pada bagian ini penulis akan memaparkan bagaimana ruang lingkup pemikiran Islam. Hal ini untuk mendapatkan pemahaman khusus sebagai landasan penelitian pada bab selanjut. Dengan kata lain, inilah landasan teori yang menjadi dasar bagi penulis untuk mengukur objek kajian.

Pada catatan penulis, ruang lingkup pemikiran Islam mencakup filsafat Islam,  teologi Islam dan tasawuf. Ketiganya merupakan satuan yang tak terpisahkan jika berbicara tentang pemikiran dalam Islam.

Filsafat Islam merupakan kelanjutan dari filsafat Yunani. Oleh karenanya, mengupas filsafat Islam tidak terlepas dari filsafat umum yang turun dari Yunani. Baik dari segi sejarah maupun objek kajian filsafat, filsafat Islam tetapi mengacu keberadaan filsafat Yunani. Namun demikian, menurut Sirajuddin Zar, filsafat Islam bukanlah pengalihan bahasa atau jiplakan dari filsafat Yunani. Setidaknya ada tiga alasan untuk melihat karakteristik filsafat Islam:

a.       Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah dibahas filsafat Yunan dan lainnya, seperti ketuahahan, alam, dan roh. Akan tetapi selain cara penyelesaian dalam filsafat Islam berbeda dengan filsafat lain, para filosof Mulsim jug amengembangkan dan menambahkan bidang lainnya (teknik), filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan diperdalam dan disempurnakan oleh generasi sesudahnya.

b.      Filsafat Islam membahas masalah yang belum pernah dibahas filsafat sebelumnya, seperti filsafat kenabian (al-nasariyyaht al-nubuwwat)

c.       Dalam filsafat Islam terdapat pemaduan antara agama dan fislafat, antara akidah dan hikmah, antara wahyu dan akal. Bentuk seperti ini banyak terlihat dalam pemikiran filosof muslim, seperti al-madinat al-fadhilat (negara utama) dalam filsafat a-Farabi.[49]

 

Beranjak dari pemikiran di atas, filsafat Islam merupakan kekayaan khazanah ilmu pengetahuan di dunia Islam. Sebagaimana pendapat Ibrahim Madkur, seperti dinukilkan Sirajuddin Zar, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat. Ditambahkan Ahmad Fuad Al-Ahwaniy, filsafat Islam adalah pembahasan tetang alam dan manusi ayang disinari ajaran Islam.[50]

Sementara itu, teologi Islam tidak perlu dibahas lebih jauh karena sama halnya bahasan aliran kalam yang berkembang dalam sejarah Islam. Namun tasawuf, adalah bentuk lain perkembangan imbas dari konflik politik kekuasaan pasca kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Dalam pengertiannya, ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari kata yang berarti murni dan bersih[51] Sementara ada yang berpendapat tawasuf beradal dari kata as-shaf al-awwal (shaf awal), dengan alasan shaf paling baik dalam shalat dan kebiasan para sufi berada pada shaf paling awal. Ada juga yang menyatakan terambail dari kata al-shuffah,  yaitu para sahabat nabi Muhammad yang hijrah bersama nabi ke Madinah enga meninggalkan kekayaan  di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai seorang yang miskin dan tidak mempunyai apa-apa. Mereka tinggal di masjiddan tidur di atas bangku batu dengan mekakah shuffah, yaitu pelana sebagai bantalnya. Ahl ash-shuffah itu sungguhpun mereka tidak memliki harta namun mereka berhati baik dan mulia karena tidak mementingkan dunia, inliah sifat dari kaum sufi.[52]

Jirdin Zaidan berkeyakinan bahwa kata tasawuf ada hubungannya dengan shopia yang berarti kebijaksanaan.[53] Asal kata tasawuf lainnya adalah shuf yang berarti kain yang dibuat berasal dari bulu. Kain dari bulu itu adalah kain wol kasar yang merupakan simbol dari kesederhanaan dan kemiskinan. Walaupun hidup penuh dengan kesederhanaan dan kemiskinan tetpai mereka selalu berhati suci, mulia dan tekun beribadah.

Pengertian secara harfiah di atas membawa pengertian terminologi yang pada prinsipnya adalah suatu keadaan hidup yang sederhana dan memuliakan akhirat dari pada dunia. Seperti dikatakan Junaid al-Baghdadi (W.297/910 M), tawasuf adalah membersihkan hati dari sifat-sifat menyamai binatang, menekat sifat basyariah, menjauhi hawa nafsu, membeirkan tempat bagi sifat kerohanian, berpegang kepada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama tas dasar keabdilan, menetapi janji Allah SWT dang mengikuti syariat Rasulullah.[54]

Tasawuf pada dasarnya telah ada sebelum Islam datang. Namun yang paling kental kebiasaan tersebut ada dalam Islam, karena Nabi Muhammad SAW juga hidup sederhana dan mementingkan kehidupan akhirat tetapi tidak meninggalkan dunia. Namun pada praktek dan perkembangan selanjutnya, tasawuf berkembang dalam berbagai aliran dengan penekanan pada syariat, hakikat dan ma’rifat sebagai tareqat  yang mesti dijalani oleh manusia menuju Pencipta-Nya.  

Dalam menjalankan menjalani kehidupan sufi, akan ditemukan maqam dalam kehidupan seseorang. Dimulai dari taubat, zuhud, faqir, wara’, sabar, redha, tawakkal. Pada dasarnya, para sufi banyak membagi maqam sesuai dengan pendapat dan pengalaman mereka. Namun demikian, secara menyeluruh maqam yang disebutkan tadi sudah mewakili pendapat tersebut.

Tokoh-tokoh yang membawa dan memiliki pengikut tasawuf ini sepanjang sejarah Islam adalah: Hasan bin Abi al-Hasan Abu Sa’id al-Basri yang biasa disebut Hasan al-Basri (W.11.H.728 M)[55], Rabi’ah al-Adawiyah (W.801 M), Imam al-Qusyairi, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Bustami, Husain al-Hallaj, al-Gazali, Ibnu Arabi, al-Jilli. Tokoh-tokoh ini memiliki pemahaman dan pengalaman tersendiri dalam menjalani kehidupan sufi mereka. Pada abad-abad setelahnya, muncul berbentuk tarekat, yang memiliki jamaah dan organisasi yang cukup eksotik. Karena memiliki guru dan murid yang menyebar hingga seluruh penjuru dunia. Kontak pemikiran dan ajaran ini berlanjut terus dari pusat kelahirannya. Namun pada kenyataannya, pergesekan antara ajaran tasawuf falsafi—ajaran tasawuf rasional—dengan tawasuf syariat—aliran tradisional—membuat persoalan aliran dalam agama Islam menjadi dalam daging. Polemik dan politik kekuasaan akhirnya selalu berawal dari aliran-aliran yang ada.[56]

Dalam perkembangannya, tasawuf memiliki dua corak, yaitu tasawuf akhlaqi dan tasawuf falsafi.[57] Tasawuf akhlaqi juga disebut tasawuf amali dan tasawuf syariat. Berdasarkan kata dan ciri keduanya, dapat disebutkan, tasawuf akhlaqi, merupakan pendekatan tasawuf dengan mengedepankan tingkah laku, pengamalan syariat. Hal ini mendekati cara dan pola berpikir tradisional yang disebutkan oleh Harun Nasution dalam polarisasi corak pemikiran. Sebaliknya, tasawuf falsafi, tasawuf yang menggunakan pendekatan filsafat dapat disebutkan memiliki pola rasional. Namun keduanya tetap saja disebut mistisme dalam Islam.

 

Corak Pemikiran dalam Islam

            Beranjak dari sejarah yang dipaparkan sebelumnya, pada bagian ini penulis menerangkan aliran-aliran pemikiran dalam Islam secara singkat. Jika sebelumnya banyak memparkan cikal bakal pemikiran dan kenapa sampai lahir, maka bagian ini memaparkan lebih jauh bagaimana tumbuh hingga saat ini.

Harun Nasution dalam buku, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, menyatakan di panggung sejarah pemikiran  Islam teologi  rasional  yang  dipelopori kaum Mu’tazilah. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah:

1.      Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan    ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya, dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai ta’wil dalam memahami wahyu.

2.       Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berfikir secara mendalam. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah, yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran.

3.      Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha Adil. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, dalam al-Qur’an disebut Sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu, dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.

Sebagai lawan dari teologi rasional mu’tazilah teologi Asy’ari bercorak  tradisional.  Corak  tradisionalnya   dilihat   dari hal-hal sebagai berikut:

1.      Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah sehingga kaum Asy’ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan filosofis.

2.      Karena akal lemah manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa yang belum bisa berdiri sendiri tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan paham jabariah atau fatalisme yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.

3.      Pemikiran teologi al-Asy’ari bertitik tolak dari paham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini, tak terdapat, yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam selamanya membakar tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.[58]

Dalam perkembangan lebih lanjut, corak pemikiran ini memiliki wajah dan nama yang berbeda namun pada sifat yang sama. Para pakar menyebut dalam berbentuk tipologi, misalnya kaum fundamentalis lebih dekat ke pemikiran asy’ariyyah, sementara kaum liberal lebih dekat ke pemikiran mu’tazilah. Namun demikian, sering ditemukan keduanya saling berdekatan dan justru terjadi campur baur antara keduanya, yaitu kalangan moderat, mereka ini lebih dekat dengan maturidiyah.[59]

Begitulah seterusnya, dari zaman ke zaman selalu berulang. Namun bila dilihat dari akar klasik, tiga aliran besar yang terkenal dan hingga kini masih terlihat kecenderungannya adalah, Mu’tazilah[60], Asy’ariyyah[61] dan Maturidiyah.[62]

Para cendikiawan dan sosiolog menetapkan tipologi masing-masing melihat corak dan aliran pemikiran yang berkembang. Tetapi jika dilihat dan dirunut ke akar klasik akan kelihatan dasar pemikiran dan corak seperti  yang dipaparkan di atas tadi.

Pergulatan pemikiran yang berkembang dalam sejarah, yang hingga hari ini masih terus terjadi, menurut penulis merupakan dinamika beragama. Hanya saja, tidaklah mungkin bisa menyatu dua, tiga dan seterusnya pendapat di dalam dinamika tersebut. Apalagi sampai memaksa kehendak antara yang satu dengan yang lain. Atau dominasi khusus dan klaim kebenaran oleh satu pihak kepada pihak lain. Agaknya, harus ada kearifan, pemahaman yang sama, bahwa Islam memang penuh dengan dinamika dan warna namun bersatu dalam perbedaan tersebut. []


[1]Badri Yatim, MA, Drs., Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 1996), hal. 39-40.

[2]Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Mekkah pada tahun 603 M dan meninggal di Kufah pada tahun 661 M. Ia menjadi khalifah dan memerintah selama enam tahun. Orang pertama masuk Islam pada bagian anak-anak. Banyak meriwayatkan Hadits. Lebih lanjut dapat dibaca dalam, Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1987), Jilid. I, hal. 111.

[3]Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Press, 1996) Cet, ke-5, hal. 11. Lihat pula Laily Mansur, Pemikiran Kalam Dunia Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), Cet. Ke-1, hal. 29. Dan pada Badri Yatim, ibid, hal. 45.

[4]A. Syalabi, Sejarah dan Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Al-Husna Zikra, 1997), hal. 281-282.

[5]Pengikut ‘Alî ibn Abî al-Thâlib yang sangat mengedepankan kultus individu ‘Alî ibn Abî al-Thâlib. Sehingga ‘Alî ibn Abî al-Thâlib dianggap lebih penting dari Nabi Muhammad SAW dalam beberapa sisi. Sebuah sikap yang berlebihan demi kepentingan politik kekuasaan.

[6]Muhammad Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, (Jakarta: Logos, 1996), Cet. Ket-1, hal. 69

[7]Harun Nasution, op.cit, hal. 85. Lihat juga di Mustafa Muhammad  Asy-Syak’ah, Islam Tidak Bermazhab, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), Cet. Ke-1, hal. 104.

 

[8]Tim Penerjemah Depag. RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Jakarta; PT. Bumi Restu, 1974), hal. 167.

[9]Merupakan khawarij tulen. Pada awalnya adalah pengikut ‘Alî ibn Abî al-Thâlib yang fanatik. Tetapi kecewa dengan sikap ‘Alî ibn Abî al-Thâlib yang menerima tipu muslihat dari Muawiyah. Mereka berpendapat bahwa ‘Alî ibn Abî al-Thâlib, Mu’âwiyah, ‘Amr ibn ‘Ash dan Abû Mûsa al-Asy’arî telah berbuat salah karena mereka telah membuat keputusan di luar ketentuan al-Qur’an. Golongan ini sangat gencar mempertahankan keyakinan mereka sehingga membunuh siapa saja yang menjadi penentangnya. Mereka melakukan pembunuhan sampai mereka sendiri terbunuh pula. Harun Nasution, op.cit, hal. 13-14.

[10]Dipimpin Nâfi’ bin al-Azariqah yang berasal dari Bani Hanifah. Sekte ini adalah yang paling besar di antara sekte yang ada. Paham dari al-Azariqah ini, adalah: a. Orang yang tidak sependapat dengan mereka tergolong orang musyrik, kekal di neraka serta  halal diperangi dan dibunuh. b. Wilayah di luar tempat mereka adalah wilayah perang dan boleh melakukan apa saja, sebagaimana boleh melakukan peperangan melawan orang kafir. c. Orang yang berbeda paham dengan mereka akan kekal dalam neraka sebab dosa orang tuanya yang menurun kepada mereka. d. Tidak ada  hukum rajam sebab tidak ada dalam al-Qur’an maupun sunnah nabi, yang ada hanya hukum cambuk seratus kali. e. Hukum dera bagi penuduh zina, hanya diberlakukan bagi yang menuduh wanita muhshan berzina sedangkan menuduh laki-laki muhshan berbuat zina tidak berlaku hukum tersebut. d. Para nabi saja melakukan dosa besar dan dosa kecil sehingga bisa saja nabi itu kafir, namun kemudian ia bertaubat. Lihat, Muhammad Abu Zahrah, op.cit, hal. 78-80

[11]Pada mulanya sekte ini termasuk sekte al-Azariqah. Dipimpin oleh Abû Fudayl. Sekte al-Najdah inilah yang paling rasional karena menurut mereka membunuh anak dan isteri orang kafir tidak dibolehkan. Paham dari kelompok ini, adalah: a. Pelaku dosa besar yang dinilai kafir dan kekal dalam neraka hanyalah orang  yang tidak sepaham dengan mereka. Adapun pengikutnya melakukan dosa besar akan disiksa tetapi bukan dalam neraka dan setelah itu akan masuk surga. b. Dosa kecil akan menjadi dosa besar apa bila dilakukan terus menerus dan pelakuknya menjadi musyrik. c. Ummat Islam diwajibkan mengetahui Allah, Rasul, haram membunuh orang Islam dan percaya pada seluruh yang diwahyukan Allah kepada Rasul-Nya. d. Pada  hakekaktnya manusia tidak berhajat kepada pemimpin. e. Menerapkan prinsip taqiyah, yaitu merahasiakan dan tidak menyatakan keyakinan untuk keamanan atau keselamatan dari seseorang. Lihat, Harun Nasution, op.cit, hal. 15-18

[12] Dipimpin Zain bin Al-Asfar. Paham mereka adalah: a. Orang a-Shufriyah tidak berhijrah tidak dipandang kafir. b. Anak-anak musyrik boleh dibunuh. c. Dosa besar terbagi dua, yaitu; yang ada ganjarannya di dunia seperti mencuri dan berzina. Yang tidak ada ganjarannya di dunia, seperti meninggalkan shalat dan puasa. Sementara itu, orang yang melakukan dosa besar kedua adalah kafir. d. Daerah golongan Islam yang tidak sepaham dengan mereka bukan daerah yang harus diperangi, yang boleh diperangi adalah tentara pemerintah saja. e. Kufur terbagi dua, kufur bi inkar al-ni’mah (mengingkari nikmat tuhan) dan kufur bi al-rububiyyah (mengingkari tuhan). f. Taqiyah hanya boleh dalam bentuk perkataan tidak dalam bentuk perbuatan. Untuk keamanan diri, seorang wanita Islam boleh kawin dengan laki-laki kafir di daerah bukan Islam. Lihat, Harun Nasution, ib.id, hal. 18-20. 

[13]Dipimpin oleh Abdul Karim bin Ajrad, awalnya pengikut Najdah bersama pengikutinya menyingkir ke Sijistani. Paham mereka adalah: a. Anak-anak orang musyrik masuk ke dalam neraka bersama orang tuanya. b. Hijrah dari wilayah yang berlainan paham bukan merupakan suatu kewajiban tapi hanya sekedar keutamaan. c. Mereka berpaham puritanisme, yaitu tidak mengakui Yusuf sebagai bagian dari al-Qur’an sebab di dalamnya terdapat kisah cinta, sedangkan al-Qur’an suci maka mustahil mengandung cerita cinta. d. Harta orang lain tidak boleh dikuasai sewenang-wenang,  hanya boleh merampas orang yang tidak sepaham dengan mereka jika orang tersebut diperangi. Lihat Muhammad Abu Zahrah, op.cit, hal. 83. Lihat juga, Harun Nasution, op.cit, hal. 18-19.

[14]Dipimpin oleh Abdullah bin Ibad. Paham mereka adalah: a. Orang yang tidak sepaham dengan mereka bukan musyrik dan bukan pula mukmin tetapi termasuk kafir nikmat. b. Daerah muslim yang tidak sepaham mereka masuk dar al-tauhid, oleh sebab itu tidak boleh diperangi kecuali tentara pemerintah. c. Muslim yang melakukan dosa besar adalah muwahhid (yang mengesakan Tuhan), tidak mengeluarkannya dari agama Islam dan kalaupun kafir, hanyalah tergolong kafir bi al-ni’mah bukan kafir al-millah. d. Boleh merampas harta dalam perang tetapi hanya kuda dan senjata, emas dan perak harus dikembalikan kepada pemiliknya. Lihat, Harun Nasution, op.cit, hal 20-21.

[15]Muhammad Abu Zahra, op.cit, hal. 85. 

[16]Afrizal M, Ibn Rusd dan Tujuh Perdebatan utama dalam Teologi Islam, (Jakarta: Erlangga, 2007), hal. 24-25. 

[17]Secara sosiokultural, kelompok ini mewakili kalangan mapan dalam hal ekonomi dan berpendidikan di atas rata-rata. Mereka cenderung mencari pendirian yang mengamankan status dan hidup damai sejahtera. Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), Cet, Ke-3, hal. 106.

[18]ibid

[19]ibid, hal. 107.

[20]Afrizal M, op.cit, hal. 28.

[21]ibid, hal. 30. 

[22]Harun Nasution, op. cit, hal. 24-28.

[23]ib.id, hal. 24-28. 

[24]Abdul Razak, Ilmu Kalam, (Jakarta: Pustaka Setia, 2003), hal. 63. 

[25]al-Syahrastani, al-Milal wa An-Nihal, Alih Bahasa Syuadi Asy’ari,  (Bandung: Mizan, 2004), hal 137.

[26]Harun Nasution, Teolog Islam, (Jakarta: UI Press, 1996), hal. 33. 

[27]ibid, hal. 33 

[28]ibid, hal.35

[29]Tim Penerjemah Depag. RI, op.cit, hal. 1006. 

[30]Abdul Rozak, loc.cit

[31]Tim Penerjemah Depag. RI, op.cit, hal.448

[32]Menurut al-Baghdadi, Washil dan temannya ‘Amir bin ‘Ubaid diusir oleh Hasan dari majelisnya karena adanya pertikaian antara mereka mengenai persoalan qadar dan pelaku dosa besar. Lihat Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, op.cit, hal. 78.

[33]Harun Nasution, op.cit, (Jakarta; UI Press, 2002), Edisi II, Cet.1, hal.40

[34] ibid, hal.53

[35]Rosihon Anwar dan Abdul Rozak, op.cit, hal 182. 

[36]Al-Syahrastani, op.cit, hal. 87

[37]Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Alih Bahasa: Yudian Wahyudi Asmin, Judul Asli: Fi al-Falsafah al-Islãmiyah; Manhaj wa Tathbîqub, al-juz al-tsani, (Jakarta: Bumi Aksara, 19950, Cet. 1, hal.45.

[38]Abdul Jabbar menyebutkan, akal memang tidak dapat mengetahui semua yang baik, akal hanya dapat mengetahui semua  yang baik dan kewajiban-kewajiban secara umum saja, dan tak sanggup mengetahui rinciannya. Menurut Ibn Abi Hasyim, para rasul datang membawa rincian-rincian tentang apa yang telah diketahui oleh akal secara umum. Akal memang mengetahui kewajiban menjauhi perbuatan-perbuatan yang membawa kemudharatan, tetapi perbuatan-perbuatan yang tidak diketahui akal apakah membawa kepada kebaikan atau buruknya perbuatan itu? Dalam  hal ini, wahyulah yang menjelaskan dan menentukan baik atau buruknya perbuatan itu. LIhat harun Nasution, op.cit, hal. 97

[39]Al-Syahrastani, op.cit, hal. 85.

[40]Maksudnya yaitu paham yang menyatakan tentang penggambaran fisik tuhan. Menurut mu’tazilah, tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan tidak ada satupun yang menyamai-Nya, karena Tuhan adalah immateri. Seperti firman-Nya; laitsa ka mitslihi syai’un.

[41]Harun Nasution, Aliran-Aliran…., hal.147.

[42]Tim Penerjemah Depag. RI, op.cit, hal.498

[43]Ibrahim Madkour, op.cit, hal. 160

[44]Al-Syahrastani, op.cit, hal.76

[45]Abdul Aziz Dahlan, Teologi dan Akidah (Padang; IAIN IB-Press, 2001), hal.107.

[46]Syahrastani, op.cit, hal.78.  

[47]Sirajuddin Zar, Teologi Islam, Aliran dan Ajarannya, (Padang; IAIN IB-Press, 2003), hal.92

[48]Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta; UI Press, 1986) hal. 77

[49]Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filsosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT. Rajawali Pers, 2004), hal. 14

[50]ibid, hal. 15

[51]Tim  Penyusun, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Proyek Ditbinperta, IAIN Sumut, 1982), hal. 9

            [52]Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1983), hal. 51

[53]Tim Penyusun, op.cit, hal. 10

[54]Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru Van Houven, tt), hal. 139.

[55]Tokoh ini memilih jalan sufi setelah melihat konflik politik antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah—seperti dibahas pada bagian sebelumnya pada bab ini—yang banyak merugikan kepentingan Islam secara umum. Ia menyendiri ke sebuah tempat, meniru Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan ‘uzlah. Di tempat sepi tersebut beribadah dan berdoa kepada Allah SWT. Lihat Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, Terjemahan, Mulyadhi Kartanegara, (Jakarta, Pustaka Jaya, 1986), hal. 327.  

[56]Abdul Halim Mahmud, Tasawuf di Dunia Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 15

[57]Secara singkat dapat dipaparkan, pokok-pokok ajaran tasawuf secara umum adalah: Takhalli, membersikan diri dari sifat-sifat tercela; tahalli, mengisi dari dengan sifat-sifat terpuji; tajalli, terungkapnya nur gaib untuk hati; munajat, melaporkan aktivitas diri kepada Allah dengan wirid dan zikir; muqarrabah dan munasabah, selalu memperhatikan dan diperhatikan Allah dan menghitung amal dengan wirid dan zikir; tafakkur, merenungi diri. Khusus tasawuf akhlaqi: dalam tasawuf akhlaqi mesti dijalani lebih dahulu syariat sebagai tariqat menuju Allah guna mencapai haqiqat. Tariqat dan haqiqat adalah aspek batiniyah dari syariat untuk mencapai ma’rifat. Ma’rifat merupakan puncak pengetahuan tertinggi dalam tasawuf akhlaqi. Tahapan (maqamat) teknis yang mesti dijalani sebagai landasan awal adalah; taubat, pembersihan dari dosa; zuhud, sederhana dalam hal duniawi; Sabar, pengendalian diri; tawakkal, berserah diri sepenuhnya kepada Allah; Ridha, menerima qada dan qadar; Khauf, takut kepada Allah; mahabbah, mencintai Allah; raja’, optimis terhadap karunia Allah; Syauq, rindu kepada Allah; Yaqin, mantapnya pengetahuan tentang Allah.

Sedangkan tasawuf falsafi, pencapaian yang diusahakan adlah fana’  dan baqa’, yaitu lenyapnya dan kekal. Ittihad, persatuan antara manusia dengan Tuhan. Hulul, penyatuan sifat ketuhanan dengan sifat kemanusiaan. Dalam tasawuf falsafi, disebut wahdatul wujud, yaitu alam dan Allah adalah sesuatu yang satu dengan hubungan pancaran (isyraqiyah) atau iluminasi. Disarikan dari Drs. Asmaran As. M.A, Pengantar Studi Tasawuf, (Jakarta: Rajawali Pers, 1996), hal. 65-176

                [58]Harun Nasution, Filsafat Mistisme dalam Islam,  hal. 1-15

[59]William Montogomery Watt, Fundamentalis dan Modernitas dalam Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 9. Bandingkan dengan Farhad Daftary (ed.), Tradisi-Tradisi Intelektual Islam, (Jakarta: PT. Erlangga, 2006). Lihat juga Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar, Sebuah Respon Terhadap Modernitas, (Jakarta: PT. Erlangga, 2007).

[60]Mu’tazilah adalah aliran yang didirikan oleh Washil bin Atha’ (80-131 H/699-748 M), kemudian didukung dan disempurnakan ajaran-ajarannya oleh tokoh pemikir Islam yang datang sesudahnya, seperti Abu Hudzayl al-Allaf (135-226 H/752-840 M), Ibrahim al-Nazhzham (185 H-221 H/802-845 M), Abu Ali al-Jubabai (235-303 H/849-917 M), al-Qadhi Abduljabbar (320-415 H/932-1025 M) dan al-Zamarkhasyari (467-538/1075-1144 M). Mereka adalah ulama rasional dan kritis, tidak hanya terhadap hadits-hadits dan cara memahami ayat-ayat dan sunnah, tetapi juga terhadap filsafat klasik Yunani Aristoteles dan Neo-Platonis. Itulah sebabnya, aliran ini juga disebut aliran rasionalis dalam Islam. Aliran ini sudah tidak mempunyai wujud lagi, kecuali dalam sejarah. Merskipun demikian, ajarna-ajarannya mulai muncul kembali terutama di kalangan kaum terpelajar. 

[61]Asy’ariyah adalah aliran yang didirikan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H/873-935 M). Aliran ini kemudian didukung dan dikembangkan oleh ulama-ulama besar seperti al-Baqilani (w. 403 H), al-Juwaini (w.470 H), al-Ghazali (250-505 H) dan Fakh al-Din al-Razi (544-606 H). Mesikipun Imam Asy’ari yang telah mendirikan aliran pernah menjadi tokoh Mu’tazilah, ajaran-ajarannya banyak bertolak belakang dengan ajaran Mu’tazillah, Aliran ini masih dominant hingga saat ini dan dianut oleh mayoritas kaum Muslim, khususnya mereka yang bermazhab Syafi’I dan Maliki.

[62]Maturudiyyah adalah aliran yang didirkan oleh Imam Abu Manshur al-Maturidi (w.333 H). Aliran ini kemudian didukung oleh Abu al-Yasar al-Bazdawi (421-493 H), Abu Ma’in al-Nasafi (438-508), dan Najm al-Din ‘Umar al-Nasafi (462-537 H). Meskipun al-Bazdawi adalah tokoh yang mendukung aliran Maturidiyyah, antara al-Bazdawi dan al-maturidi terdapat beberapa perbedaan pendapat dan masalah-masalah teologi. Perbedaan antara kedua tokoh ini kemudian melahirkan dua subaliran, yaitu aliran Maturidiyah Samarkand yang ditokoh oleh al-Maturidy sendiri dan aliran Maturidiyyah Bukhara yang ditokohi oleh al-Bazdawi. Aliran Maturidiyyah banyak dianut oleh kaum Muslim yang bermazhab Hanafi dalam bidang hukum (fiqh). 


Responses

  1. Pusing ah pak bacanya…….
    Doain ya, saya juga bisa ngikutin jejaknya. Lagi siap-siap nih, untuk meraih gelar (kalau bisa ilmunya sekalian) yang lebih tinggi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: