Oleh: meysanda | Desember 23, 2008

PIDATO BUDAYA AKHIR TAHUN 2008

“Perintah Membaca dan Menulis Itu Diremehkan”

taufik-ismailSurat al-‘Alaq sudah sangat jelas memerintahkan agar manusia membaca. Membaca saudara kandungnya, menulis! Tapi kenapa anak bangsa ini selalu bermasalah dengan menulis? Karena tidak akrab dengan membaca. Padahal, perintah untuk membaca sangatlah jelas.

Perintah membaca tidak hanya untuk ummat Muslim. Tapi juga manusia. Maka, manusia yang gemar membaca, belajar, ia pasti bisa menulis dan nalarnya akan cerdas. Sudah dipastikan ia akan cerdas.
“Maka lahirnya Generasi Nol Buku di negeri ini. Ketika sistem dibangun tidak berpihak pada pentinya membaca dan menulis,” ungkap Taufik Ismail di hadapan ratusan undangan yang hadir di Ruang Tertutup Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (23/12). Pidato Kebudayaan 2008 yang ditaja Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) tersebut memberi ruang lebih kurang satu setengah jam sastrawan itu memaparkan pemikiran yang penuh keresahan. Resah tentang bangsa yang masih selalu bengal. Sistem pendidikan yang mengagungkan ilmu eksak. Taufik membuat dasar-dasar pernyataan yang sangat ironis, misalnya tentang wajib membaca sastra di sekolah-sekolah. Di negara lain, 13 SMA yang ditanyakanya sarjana dokter hewan ini yang mencintai kehidupan sastranya, ternyata SMA Indonesia nol buku. Sementara, di Thailand 5 buku sastra wajib dibaca Malaysia 6 buku, Singapur 6 buku, Brunei 7 buku, Rusia 12 buku, Kanada 13 buku, Jepang 15 buku, Jerman Barat 22 buku, Prancis 30 buku, Belanda 30 buku, Amerika 32 buku.
“Membaca sastra bukan untuk jadi sastrawan. Bukan. Tapi menumbuhkan kecintaan membaca. Membaca apa saja. Cerdas membaca akan membuat lihai menulis,” tutur Taufiq yang banyak mengenang masa lalunya. Membaca, baginya bukan karena sistem pendidikan, tapi karena tumbuh dari kehausan ilmu. Diceritakannya, bagaimana masa lalu Soekarno dan Hatta yang gemar membaca.
Pidato Kebudayaan 2008 yang mengambil tema “Membebaskan Anak bangsa dari Rabun Membaca dan Rabun Menulis” itu memang sangat penting dipahami sebagai kerisauan universal negeri ini.
Memang ada beberapa pengecualian di beberapa sekolah yang mulai tumbuh minat baca dan minat menulis yang tinggi. Tetapi itu minim. Bahkan, dari data yang dipaparkan Taufiq, seyogyanya Indonesia memiliki 200.000 ribu penulis. Namun dalam data base hanya 200 orang. Beberapa orang di antarnya telah pulang meninggal.
Latihan mengarang dan menulis di sekolah-sekolah sangat minim. Berbeda dengan masa pendidikan yang didapatkan oleh didapatkan oleh Soekarno, Hatta, Muhammad Natsir, Tan Malaka, serta M Yamin. Mereka punya latihan menulis secara intens di AMS Hindia Belanda waktu itu.
“Setelah kemerdekaan. Fenomena itu digunting habis dengan disanjungan jurusan eksak. Akibat yang terasa hari ini  adalah lahirnya tragedi generasi nol buku,” papar anak Rang Bukittinggi ini.
Penulis buku “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” ini menawarkan cara pandang dalam mengajarkan sastra di sekolah. Pertama siswa diajak memasuki sastra secara asyik, nikmat dan gembira. Kedua, siswa haruslah membaca langsung karya sastra, tidak sekedar sinopsis belaka, kelas mengarang harus dilaksanakan dengan menyenangkan, tidak menjadi beban bagi guru maupun siswa seperti yang terjadi selama ini. Keempat, ketika menafsirkan karya sastra, keanekaragaman harus dihargai. Kelima, pengetahuan tentang teori, defenisi, sejarah tidaklah utama, tetapi tersambil dari kegiatan. Keenam, pengajaran sastra mestilah menyemaikan nilai-nilai yang positif untuk jiwa siswa. Nilai positif tersebut, setidaknya dapat disebutkan: keimanan, kejujuran, pengorbanan, demokrasi, tanggungjawab, pengendalian diri, kebersamaan, optimisme, keberanian, penghargaan terhadap nyawa manusia dan kerja keras.
Masih dengan gayanya yang khas, pria berkaca mata itu memaparkan tentang Rumah Puisi di Aie Angek Tanahdatar, antara kaki Gunung Singgalang dan Kaki Gunung Merapi, yang kini sudah beroperasi. Maka perbedaan dengan orasi budayanya akhir 2006 yang sempat mengundang banyak polemik setelah itu, pidato kebudayaan akhir tahun 2008 ini tampaknya tidak banyak yang “kena” secara langsung.
Hadir dalam kesempatan orasi, Penyair Zawawi Imron, Ahmad Tohari, Maman S Mahayana, Jamal D Rahman, Rusli Marzuki Saria dan penyair-penyair muda dari Sumbar.
Ketua DKSB Sumbar, Dr Haris Effendi Thahar dalam sambutannya menyebutkan, Pidato Kebudayaan ini kegiatan DKSB yang sangat penting di akhir tahun. DKSB juga memberi piagam kepada Taufiq Ismail atas penampilann Taufiq Ismail di Ruang Tertutup Taman Budaya Sumatera Barat itu. [abdullah khusairi/padangtoday]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: