Oleh: meysanda | September 24, 2008

PROFIL TOKOH

Sosok Indra Jaya Piliang:
Seputar Angka 19 dan 17

Merantau bagi laki-laki Minang sudah merupakan sunatullah. Tidak terkecualiINDRA-JAYA-PILIANG bagi Indra Jaya Piliang, tokoh muda Sumatera Barat yang acap-kali menjadi referensi utama media massa nasional. Ia tidak hanya mengandalkan filosofi Alam Takambang Jadi Guru, melainkan terus mengasah ilmu dan pengalaman, baik dalam semangat relegius ataupun bagi pengayaan batin.

Karena itu pula, banyak yang kaget ketika ia memutuskan untuk menjadi politisi, yakni menjadi calon anggota DPR RI 2009-2014 dari Partai Golkar. Ia maju lewat daerah pemilihan Sumatera Barat Dua yang meliputi Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Pasaman Barat dan Kabupaten Pasaman. Padahal, banyak anak-anak muda Indonesia dan Sumatera Barat berpikir untuk menempuh karier akademis dan popularitas seperti dirinya di tingkat nasional.

“Udara Jakarta memang makin kotor untuk dihirup. Selain itu, kemacetan membuat stress. Saya merasa kehilangan intuisi, ketika semakin banyak hidup di atas roda. Sementara, saya anak Pariaman, Mentawai, Tanah Datar dan Kampung Dalam. Saya anak kampung yang dilepas ke meja belajar di rantau orang,” begitu katanya, ketika ditemui di tengah-tengah masyarakat Nagari Ulakan di Padang Pariaman.Kalau dijumlahkan, Ia kini berusia 36 tahun. Usia yang menuju kematangan jiwa. Tapi apa arti 19 tahun dan 17 tahun baginya?

“Ya, selama 19 tahun saya hidup di Sumatera Barat, dari tempat dingin di Air Angat Tanah Datar, sampai tempat panas di Mentawai dan Pariaman. Lalu selama 17 tahun berikutnya saya hidup di rantau, walau tetap pulang kampung dalam banyak kesempatan,” katanya.

Berarti, dalam angka 19 dan 17 tahun itu, Ia lebih banyak 2 tahun hidup di ranah, bukan di rantau. Makanya tidak heran kalau Jaya, panggilannya ketika SMA, lebih banyak merasakan kehidupan di kampung, daripada di Jakarta.

Kemana saja Ia berjalan selama 17 tahun itu?

INDRA-J-PILIANG1“Ke banyak tempat. Saya dikenal sebagai back-packer alias penyandang tas punggung. Hampir seluruh pelosok di Republik Indonesia ini pernah saya kunjungi, terutama ibukota provinsinya. Saya juga melakukan penelitian atas korban kekejaman Thaksin Sinawatra di Provinsi Yala, Narratiwat dan Pattani di Thailand Selatan. Ada lebih dari 2500 orang terbunuh ketika Thaksin berkuasa,” katanya.

Bagi yang rajin mengikuti perkembangan masalah-masalah Papua dan Aceh, Indra adalah satu peneliti yang paling menonjol. Ia nyaris hafal tentang pasal-pasal dalan undang-undang yang mengatur kedua provinsi paling Timur dan paling Barat Indonesia itu. Ia mengenali gembong-gembong aktivis, kelompok separatis, pejabat pemerintah dan kalangan ahli lainnya yang di kedua provinsi itu. Tidak heran kalau anak-anak muda, khususnya mahasiswa, di kedua provinsi itu sering mengundangnya berbicara.

Yayasan Harkat Bangsa Indonesia, sebuah lembaga penelitian dimana Indra didapuk menjadi Direktur Eksekutifnya, juga telah melakukan riset dan penelitian tentang pelaksanaan otonomi khusus di Papua. Ketua Dewan Pendiri yayasan itu adalah Prof Dr Johermansyah Johan, Deputi Bidang Politik Sekretariat Kantor Wakil Presiden RI. Bagi Indra, Prof Jo adalah ayah angkat yang membimbingnya.

“Kini kedua provinsi itu relatif damai. Saya merasa lega. Apa yang saya usahakan selama ini, kadang dalam aliran air mata ketika menulis, kini semakin mendekati kenyataan. Saya bersyukur bangsa ini bisa memberikan contoh terbaik ke dunia internasional tentang cara menyelesaikan konflik separatis secara beradab,” ucapnya, sambil terbata.

Kembali Ke Akar
Indra memang beberapa kali menulis soal Sumatera Barat dalam konteks nasional. Terkadang dia menceritakan apa-apa yang dirasakan oleh masyarakat di ranah Minang, ketika menyinggung soal-soal kemiskinan, busung lapar, sampai masalah demokrasi. Sekilas, orang mungkin tidak tahu bahwa ia adalah putra Minang asli yang fasih berbahasa ibunya. Terkadang, orang mengira Ia adalah orang Sulawesi Utara atau Tana Toraja. Akan tetapi, bagi orang Minang yang tahu tentang laras Koto-Piliang segera paham bahwa anak muda yang berpenampilan serius ini di layar televisi adalah penganut sistem matrilineal yang loyal.

“Ibu saya adalah inspirasi saya. Saya takut menjadi Malin Kundang. Bagi lelaki-lelaki Minang, Malin Kundang adalah kutukan kebudayaan yang mematikan nyali apapun. Anda bukanlah apa-apa, ketika anda menistakan ibu anda. Ibu, dalam pengertian ini, juga bisa diperluas sebagai kebudayaan: bundo kanduang!” katanya, mencoba membangun penjelasan lebih dalam.

Barangkali karena itu pula Indra tidak takut kembali ke kampung dalam posisi yang berkebalikan dengan pemahaman publik Indonesia atas dirinya.

“Ya, saya kini politisi. Bagi saya, politik adalah panggilan jiwa. Barangkali inilah kutukan positif intelektual Minangkabau yang seakan selalu menemukan dirinya sebagai politisi. Saya tidak bisa melepaskan diri dari apa yang sudah saya baca dan ketahui dari kiprah Tan Malaka, Agus Salim, Mohammad Hatta, Muhammad Yamin, Buya Hamka, dan para intelektual dan sekaligus politisi Indonesia yang paling diminati. Jangan salahkan saya kalau jadi politisi hari ini. Ibarat air sungai, saya mengalir pada alur yang sudah dilalui oleh para orang-orang tua hebat itu,” kata Indra.

Indra tidak sedang membela diri. Politiklah yang membawa Indonesia merdeka. Politik juga yang dibawa oleh para perantau Minang terdahulu ke kancah nasional dan internasional. Seni diplomasi dan olahkata di kalangan politisi Minang telah membuat tercengang pihak-pihak lain yang hendak menjajah Indonesia kembali.

Atas nama politik, Indra kembali. “Pergi ke Rantau Mencari Ilmu, Pulang ke Ranah Menemui Guru!” begitu yang tertulis dalam stiker yang menghiasi mobil berplat Jakarta yang dia kendarai.

“Saya berguru dan mengaji kembali di ranah ini. Saya ingin memperkaya diri dengan pengetahuan tentang Minang. Saya masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan studi doktoral saya, barangkali menyangkut satu fenomena ilmu pengetahuan di Minangkabau,” kata lulusan Magister Sosial Sains dari Universitas Indonesia ini.

Tapi, Indra tentu tidak sedang mempresentasikan studi doktoralnya itu. Ia justru sedang mencatat, fenomena pengetahuan apa yang bisa ditulis lagi tentang Minang, ketika begitu banyak literatur yang ditulis oleh ilmuwan asing tentang negeri indah di kaki Gunung Merapi ini.

“Saya kembali ke akar. Jangan sampai pohon pengetahuan yang menjalar dalam di masyarakat Minang menjadi layu dan kuyu, ketika semakin sedikit anak-anak muda seusia saya tidak lagi peduli,” katanya.

Mengapa Harus Indra?
Indra terlahir sebagai anak pesisir, tepatnya di kampung Balacan, Kota Pariaman, pada 19 April 1972. Ibunya bersuku Piliang, sementara ayahnya bersuku Koto. Indra selama ini dikenal sebagai analis politik yang bernas, jernih dan progresif. Ia tidak memiliki catatan yang buruk. Bahkan, bagi kalangan anak-anak muda generasi intelektual baru, baik ketika mahasiswa atau setelah sarjana, Indra dijadikan sebagai role model (model acuan) bagi kiprah kaum intelektual, baik di Sumatera Barat ataupun di Indonesia.
Indra merupakan sosok tokoh muda yang mampu menjadi harapan bagi masyarakat Sumatera Barat dan Indonesia. Terdapat beberapa alasan kuat untuk menyatakan itu, diantaranya:
Indra merupakan putra daerah. Ia mewakili daerah pesisir dan pegunungan, karena hidup sampai menamatkan Sekolah Menengah Atas di Pariaman, Padang Panjang, Mentawai, Sijunjung dan Tanah Datar. Jika dibandingkan dengan tokoh lain yang sama-sama berasal dari Sumbar, pada saat memimpin tentunya Indra akan lebih mampu memahami aspirasi masyarakat Sumbar berikut persoalan-persoalan krusial yang dihadapinya. Sebagai putra Minang, Ia tentu memiliki loyalitas dan komitmen yang sangat tinggi. Ia mengerti dengan ereng jo gendeng, alur dan patut.
Selain itu, Indra fasih berbahasa Minang. Modal sosialnya berupa teman-teman semasa sekolah, sejak Taman Kanak-Kanak, SD, SMP sampai SMA. Tentu juga guru-guru yang pernah mengajarnya. Selain itu, di lingkungan mahasiswa Sumatera Barat di DKI Jakarta, khususnya, dan Indonesia, umumnya, Indra sejak tahun 1991 sudah membangun interaksi yang baik. Indra aktif di Ikatan Mahasiswa Minang (IMAMI) UI ketika mahasiswa dan menjadi penasehat bagi IMAMI UI ketika menamatkan bangku kuliah.
Ia bisa mampu menyerap aspirasi masyarakat mulai dari tangan pertama, terutama dengan mengandalkan adat dan budaya Minangkabau yang bermutu tinggi. Dengan pengalaman dan interaksi sosial seperti itu, Indra memiliki sarana yang cukup untuk melakukan sosialisasi.
Alasan lain Indra adalah aktivis mahasiswa, baik di tingkat jurusan, fakultas, universitas maupun nasional. Berbagai jabatan dalam organisasi kemahasiswaan pernah dipegangnya, antara lain di Himpunan Mahasiswa Jurusan, Senat Mahasiswa Fakultas, Senat Mahasiswa Universitas, Senat Mahasiswa se-Indonesia, Majalah Mahasiswa, Kelompok Studi Mahasiswa, sampai organisasi ekstra kampus seperti Himpunan Mahasiswa Islam.
Indra terlibat sebagai salah satu aktor intelektual di balik gerakan mahasiswa 1998, terutama di lingkungan Universitas Indonesia. Kemampuannya sebagai aktivis akan banyak membantunya dan daerah pemilihannya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan sekaligus mendorong bagi perbaikan negeri.
Bicara kemampuan akademis, Indra menamatkan Sarjana Sastra (SS) pada Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1997. Pada tahun 2008, Indra mendapatkan gelar Magister Sosial Sains (MSi) pada Program Pasca Sarjana Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Kualifikasi akademik ini tentu belum berakhir, karena pada tahun depan Indra merencanakan untuk masuk Program Doktoral di Universitas Indonesia atau Institut Pertanian Bogor. Kualifikasi akademis di bidang ilmu sejarah dan ilmu komunikasi itu akan membantunya untuk melakukan kerja-kerja politik secara ilmiah, rasional dan dingin.
Selama lebih dari delapan tahun Indra dikenal sebagai peneliti di lembaga penelitian terkemuka di Indonesia dan dunia, yakni Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Di lembaga ini, Indra termasuk peneliti paling menonjol di generasinya. Pemikiran-pemikiran kritisnya sering menghiasi media massa lokal, nasional dan internasional, termasuk majalah TIME, International Herald Tribune, Strait Times, Reuters, Kompas, dan sebagainya.
Ia menjadi acuan bagi jurnalis untuk menganalisa persoalan-persoalan sosial, politik, otonomi daerah, masyarakat sipil, partai politik, demokrasi, nasionalisme dan beragam pemikiran lainnya. Ia sudah menulis sekitar 500 artikel, termasuk buku. Selain itu, Indra juga menjadi anggota Dewan Penasehat The Indonesian Institute yang didirikan oleh Jeffrie Geovanie dan kawan-kawan. Sebagai komponen akademis dan intelektual, Ia bisa mengundang pelbagai kalangan untuk melakukan penelitian di daerah pemilihannya.
Di medan diskusi Indra juga menjadi pembicara yang menonjol dalam berbagai lembaga, baik pemerintah, swasta, masyarakat sipil, maupun kampus. Ia sudah berbicara di sekitar 500 forum, antara lain di Lemhannas, Wantannas, Departemen Dalam Negeri, Departemen Luar Negeri, UI, UGM, Universitas Syiah Kuala, DPR RI, DPD RI, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, ITB, Bappenas, Kementerian Pemuda dan Olahraga, dan Astra Internasional. Indra duduk sejajar dengan kaum intelektual terkemuka Indonesia lainnya, termasuk dengan para menteri, pejabat dan politisi. Dengan panggung yang luas itu, Ia bisa melakukan kerjasama dengan beragam kalangan bagi kemajuan daerah pemilihannya dan sekaligus juga kemajuan Indonesia.
Di ranah organisasi, Indra aktif dalam berbagai kelompok masyarakat sipil, antara lain Forum Indonesia Damai, Koalisi Konstitusi Baru, Pokja Papua, Koalisi Media untuk Pemilu Damai dan Adil, Koalisi RUU Politik, dan Gerakan Nasional Tidak Pilih Politisi Busuk. Sebagai tokoh menonjol di masyarakat sipil, Indra dipilih oleh kalangan masyarakat sipil sebagai Calon Presiden versi Masyarakat Sipil dengan nomor urut 6 (enam) dalam survei yang dimuat oleh Harian Kompas pada 21 Mei 2008.
Dia sering menjadi juru bicara dan sekaligus juga penulis untuk isu-isu yang diajukan oleh masyarakat sipil guna mempengaruhi kebijakan pemerintah dan parlemen. Dengan koneksi yang luas ini, kalangan masyarakat sipil di seluruh Indonesia tentu dengan tangan terbuka membantunya dalam melakukan advokasi dan sekaligus dukungan bagi isu-isu yang berhubungan dengan daerah pemilihannya dan Indonesia umumnya.
Berbicara tentang pengalaman dan pengetahuan akan tanah air, tidaklah elok jika kita mengeyampingkan catatan perjalanan Indra yang sudah mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia. Ia melakukan penelitian, seminar, diskusi, advokasi atau kunjungan-kunjungan resmi berdasarkan permintaan. Dalam beragam kunjungan itu, Indra menimba banyak sekali pengalaman, pengetahuan, serta membina hubungan baik dengan beragam kalangan.
Sebagai contoh, Ia sangat mengenali Aceh dan Papua, karena sering terlibat dalam pergulatan wacana di panggung publik, termasuk dalam memajukan proses perdamaian di tanah Aceh. Dengan pengalaman dan pengetahuan ini, Ia bisa menjadikan sebagai studi perbandingan untuk memajukan daerah pemilihannya.
Modal lain yang tidak boleh dianggap enteng dari seorang Indra adalah pertemanan dan hubungan baiknya dengan beragam kalangan, baik politisi, akademisi, jurnalis, aktivis, mahasiswa, kelompok gerakan perempuan, sampai pejabat-pejabat negara. Ia merupakan teman diskusi Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang dalam memajukan Kalimantan. Ia juga berdialog dengan Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad.
Karena itu pula, Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla langsung menyebut namanya sebagai calon anggota legislatif yang tengah disiapkan. Dalam bahasa Jusuf Kalla, urang sumando Ranah Minang itu, Indra adalah calon anggota legislatif yang masuk kategori khusus. Dengan hubungan baik ini, Ia bisa meminta bantuan dalam memajukan daerah pemilihannya dan juga mengatasi masalah-masalahnya.
Di kalangan ilmuwan dan pemikir manca negara, Indra juga memiliki pergaulan dengan banyak ahli, diplomat, pejabat dan sejawat yang berada di Malaysia, Thailand, Singapura, Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, Australia, Inggris dan negara lainnya. Pengalamannya dalam mengunjungi negara-negara di kawasan, yakni Malaysia, Singapura dan Thailand serta perhatiannya kepada negara-negara tetangga itu telah menempatkan pemikiran geostrategis dan geopolitiknya menjadi luas. Ia tidak hanya bisa memikirkan persoalan-persoalan dalam konteks lokal, melainkan mampu menghubungkan dengan perkembangan di tingkat nasional, regional dan internasional. Ia bisa menjadi representasi dari politisi Indonesia di tingkat regional.
Dengan kualisifikasi seperti itu, Indra terlihat matang dalam usia yang masih termasuk muda di Indonesia sebagai politisi.

“Saya sudah tua. Terlalu tua untuk menjadi politisi, jika dibandingkan dengan generasi ‘kaoem moeda movement’ pada awal abad ke-20. mereka dipaksa berpolitik di usia mahasiswa. Tetapi saya sudah siap. Sejak mahasiswa saya sudah ‘berpolitik’ dalam artian sempit. Kebahagiaan terbesar saya adalah bisa bertemu dengan orang-orang bijak di tanah kelahiran saya ini. Selain nama yang saya sandang, saya belum melakukan apa-apa untuk negeri ini. Ijinkan saya memulainya. Biar nanti masyarakat yang menilai, apakah saya bisa berbuat lebih banyak untuk negeri ini,” kata Indra, menutup pembicaraan.

Ketika semua alasan sudah dipaparkan oleh Indra Jaya Piliang, dukungan dari Ranah Minang tentulah ibarat pedang kembali ke sarung. Sebuah kecocokan. Dulu, Indra adalah seorang anak nagari yang berangkat ke Jakarta sana membawa sekeranjang harapan dari daerah secara sendirian. Kini, penempatan sebagai wakil rakyat itu membutuhkan kerja-kerja kolektif. begitulah Indra Jaya Piliang, politisi muda genuine dan otentik yang lahir dari rahim reformasi. [bobi lukman piliang/abdullah khusairi], sumber, Figur Minggu, Posmetro Padang [www.posmetropadang.com


Responses

  1. IJP
    Yes. Saya senang dengan calon yang satu ini. Parlemen kita harus diisi orang terpelajar. Cuma jangan sampai terkontaminasi prilaku jelek para gembel yang jadi OKB di Senayan.

    Untuk Ajo Indra, Maju Jo. Indak kayu, janjang di kapiang. Untuak Ajo apo yang Indak. Vote IJP for Legislator…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: