Oleh: meysanda | Agustus 7, 2008

OPINI-JIWA

TITIK KESEPIAN HIDUP

PENANG-BUKITBENDERA-2005-REL Lori menuju ke atas bukit-abdullah-khusairiTiba-tiba terdengar suara dari ruang gelap. “Pak Habibie, sudah hampir pukul 04.00 pagi dan Bapak belum tidur dan belum istirahat, sementara acara Bapak sudah mulai pukul 07.00 pagi. Mohon Bapak beristirahat sejenak.”
Ruangan gelap, karena tidak ada lampu yang menyala kecuali sinar monitor komputer yang menerangi wajah saya. Lalu saya bertanya, “Siapa yang berbicara?”
“Siap, Kolonel Hasanuddin, ADC Bapak,” sambil menyinari wajah dengan lampu senter.
Saya bertanya, “Mengapa Kolonel belum tidur?”
“Siap, lagi dinas dan mohon Bapak istirahat sejenak,” jawabnya.
Saya segera istirahat, demikian ucapan saya sampil mengakhiri catatan, dan berdiri meninggalkan ruang kerja. Pertama kali dalam kehidupan saya, saya merasa seorang diri di dunia ini, dengan lingkungan yang ramah dan baik terhadap saya pribadi. [Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-Detik yang Menentukan, THC Mandiri, Jakarta, 2006. Hal. 58-59]WILLIAM PICKERING merasakan perasaan kesepian yang tidak biasa ketika dia mengendarai sedannya di.Leesburg Pike. Saat itu hampir pukul 2:00 pagi, dan jalanan sudah kosong. Sudah bertahun -tahun dia tidak mengendarai mobilnya pada jam seperti ini. Suara serak Marjorie Tench masih mengganggu pikirannya. Temui aku di FDR Memorial. [Dan Brown, Deception Poin, Pocket Books, New York, Cet. Ke-2. Terj. Isma B. Koesalamwardi dan Hendry M. Tanaja, Serambi, 2006, hal.95]

Dua kutipan buku di atas tadi melintas cepat. Saya menangkapnya. Mempertanyakan, sejauhkah itu hidup ini menghujam sepi? Bagaimana dengan orang-orang di sekitar kita? Apa itu bukan berarti keramaian dan ada orang lain tempat berbagi? Entah, pergaulan dalam kehidupan sepertinya lewat melintas saja. Seperti taksi dengan penumpangnya.

Lalu dimana cinta? Dua jiwa yang bersatu? Hidup semakin memberi keraguan. Skeptis! Apakah ini dinamakan kesepian itu? Sesuatu yang menyesakkan. Di antara ketakutan dan harapan. Buka lagi buku-buku kejiwaan, agama, kitab suci, memang ada tentang jiwa. Jiwa manusia yang memiliki pengharapan, ketakutan dan kebahagiaan. Namun, kenapa ada kesepian yang selalu menghantui? Tiba-tiba saya ingat ada banyak orang yang tersenyum, bangga, sombong, akankah mereka akan sampai pada titik kesepian?

Jiwa, sesuatu yang absurd menyempal dalam raga kadang-kadang memiliki kehendak lebih besar dari raga yang dihinggapinya. Di sini, agaknya, spiritualitas itu dibutuhkan. Dimana logika, tak lagi memiliki daya untuk menyatakan tentang kehebatannya. Entahlah, akal dan jiwa memang sebuah keseimbangan yang niscaya. Hanya saja, manusia kadang-kadang melupakan di antara satunya. Kekosongan, kesepian, ketiadaan, sering menghujam ketika logika memang mendominasi dalam hidup ini, meninggalkan jiwa. Namun pada klimak logika, barulah terasa ada yang tertinggal dalam hidupnya. Maka kesepian, kekosongan, sering menghujam pada saat itu. Begitulah yang ada dari buku-buku. [abdullah khusairi]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: