Oleh: meysanda | Agustus 6, 2008

OPINI-WARTAWAN

WARTAWAN DAN AIR LIUR

Sexton terdiam sambil memainkan amplop-amplop itu seperti menggoda para hadirin yang sedang duduk. Mata para wartawan itu mengikuti amplop-amplop itu ke kiri dan ke kanan, seperti sekawanan anjing yang sedang menitikkan air liur karena melihat makanan lezat yang sebentar lagi akan mereka santap beramai-ramai.

Dan Brown, Deception Poin, [Pocket Books, New York, Cet. Ke-2. Terj. Isma B. Koesalamwardi dan Hendry M. Tanaja, Serambi, 2006]

Kalimat yang kali ini menyentak kesadaran saya adalah, seperti sekawanan anjing yang sedang menitik air liur karena melihat makanan lezat yang sebentar lagi akan mereka santap ramai-ramai. Tetapi sebenarnya, amplop-amplop itu bukanlah berisi uang seperti yang sering disebutkan dalam boks keredaksian, wartawan &*+*&^% dilarang menerima pemberian dalam bentuk amplop atau dalam bentuk apa pun.Pada novel ini, Dan Brown memperlihatkan kepiawaian, amplop-amplop tersebut berisi informasi yang mengguncang politik Gedung Putih. Jadi, memang tak perlu terkejut. Bahwa, bukanlah amplop-amplop berisi uang. Namun demikian, teknik dengan penceritaan detektis, penulisnya melahirkan sesuatu yang menggelitik pusat syaraf ketika persoalan amplop ini dihubungkan dengan wartawan-wartawan yang ada di negeri yang susah mendapat pekerjaan ini. Wartawan-wartawan memang dilarang menerima amplop —tetapi isinya pasti diterima. Amplop yang berisi uang dan menumpulkan segenap syaraf jurnalistiknya. Tidak hanya amplop, proyek juga diambil.

Dalam novel menegangkan terbarunya ini, Dan Brown membawa pembaca mulai dari National Reconnaissance Office yang amat Rahasia menuju ketinggian dataran es di lingkar kutub utara, lalu kembali lagi ke lorong kekuasaan di Gedung Putih. Dipuji karena keahliannya mengombinasikan ilmu pengetahuan dan sejarah dalam ‘Malaikat dan Iblis’ dan digilai karena kejeniusannya meramu seni dan teologi dalam ‘Da Vinci Code’, Brown berhasil menulis sebuah novel lain dimana tidak satupun hal di dalamnya terlihat seperti sebelumnya — dan di balik setiap sudutnya terdapat kejutan yang mencengangkan. Deception Point adalah fiksi yang akan membuat jantung Anda berdebar keras sepanjang membacanya.

Membaca Dan Brown, bagi saya adalah kenyataan permainan kehidupan beranjak dari sebuah kepentingan ke kepentingan lain. Lalu, ada tumbal yang harus dikorbankan. Jangan bertanya, jangan bercerita. Inilah yang terjadi. Lalu yang akan berlaku adalah, lactura paucourm serva multos. Korbankan sedikit orang untuk menyelamatkan banyak orang. Di sinilah perbedaan mendasar memiliki titik temu, kehidupan membutuhkan kearifan. Naluriah manusia, mengakui kebenaran. Apa pun alasannya, kejahatan akan terbongkar. Oleh karenanya, hati-hatilah wahai wartawan! Jika tak mau terjebak dalam permainan yang telah diceritakan, seperti sekawanan anjing yang sedang menitikkan air liur karena melihat makanan lezat yang sebentar lagi akan mereka santap beramai-ramai. Hhhhhhmmmm…Gawat! [abdullah khusairi]


Responses

  1. Memang, “budaya amplop” merupakan salah satu ciri jurnalistik negara berkembang. Menurut Albert L. Hester dalam Handbook for Third World Journalist (sudah diterjemahkan dengan judul Pedoman untuk Wartawan, USIS, 1987), fenomena itu muncul karena kurangnya permodalan industri pers sehingga pers belum mampu memberikan imbalan yang laiak bagi wartawannya.

    Yang memprihatinkan, akibat “budaya” itu, bermunculan wartawan gadungan, wartawan tanpa suratkabar (WTS), atau “wartawan pemeras” yang merugikan citra wartawan dan menjengkelkan masyarakat. Jika kebiasaan panitia acara, para humas instansi atau perusahaan, atau pihak mana pun memberi “amplop” kepada wartawan tidak dihentikan, maka jangan harap “budaya” itu sirna.

    —-

    saya humas instansi. berada dalam posisi yang tak kalah dilematis dengan wartawan. Artinya, pesan ini tidak hanya tertuju kepada wartawan, tetapi kepada siapa saja yang bergelut dalam dunia informasi atawa perkhabaran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: