Oleh: meysanda | Juli 26, 2008

OPINI-PERS

DUNIA WARTAWAN
[Ironi Sebuah Profesi]

Wartawan hidup dalam ketakutan abadi akan kehilangan berita besar sehingga mereka jarang dihukum…
Membuang waktu seorang wartawan selama lima menit masih dimaafkan. Kehilangan sebuah berita utama , itu baru dosa besar.

Dan Brown, Angels & Demons
[Pocket Books, New York, 2006]
hal. 251

Seorang sarjana tiba-tiba menjadi wartawan —Sebuah kecelakaan sejarah di negeri yang susah mencari pekerjaan layak! Dalam penugasannya, ia mendapat wawancara eklusive. Ia bangga karenanya. Sebuah pekerjaan yang baru saja akan melambungkan namanya lewat karya jurnalistik.

Tetapi setelah ia menyetor naskah kepada redaktur, ada seorang teman seprofesinya dari media lain minta dikirimi naskah untuk diterbitkan di media sang teman. Sebenarnya sudah ada detak pada jantungnya, tetapi ia mengabaikan, karena ada sedikit kesombongan dalam memberi naskah itu kepada temannya. Dimana sang teman tahu? Ia sendiri yang menceritakannya waktu makan siang sebelum ke redaksi —sebuah ritual yang tak terpisahkan dari dunia yang satu ini. Makan siang di tempat berkumpulnya wartawan, dimana dia dengan sesumbar menyebutkan, baru saja wawancara ekslusive dengan seorang nara sumber paling dicari. Teman-teman wartawan tepuk tangan. Salut. Ia tampak angkuh sekali. Setelah usai menulis naskah di redaksi, teman dekatnya menelpon dengan rayuan maut. Mana tahan! Ia pun dengan serta merta mengirimkan naskahnya via e-mail.

Besoknya, dalam sebuah sidang redaksi, pemimpin redaksi mengungkapkan tentang ekslusivitas yang tak jadi. Karena ada berita yang sama di media saingan. Ini bukan soal kebobolan berita, tetapi penghianatan tim kerja.

Lalu dengan lugu sarjana ini mengatakan, ia memang mengirim naskah tersebut kepada sang teman di media lawan. Sementara, hal itu benar-benar tabu dalam persaingan media. Ia seakan-akan baru tahu.

Halah, lacurnya, sang teman bersama redaktur memasang berita tersebut menjadi headline, sedangkan yang punya naskah cuma berani memasangnya di second line, sedikit berani memberikan tanda wawancara ekslusive. Padahal jelas-jelas sudah tidak ekslusive lagi setelah dikirimkan kepada teman dekatnya itu. Nah teman dekatnya yang dikirim naskah tadi belakangan baru diketahui, ternyata seorang selingkuhannya.

Apa yang terjadi setelah sidang? Pemimpin sidang redaksi menepuk jidat. Tetapi tetap tak mengambil kesimpulan yang seharusnya: Pecat! Seperti di militer yang langsung main tembak ketika ada yang memberi senjata kepada pihak musuh. Padahal, pekerjaan teman tadi adalah memberikan senjata kepada pihak musuh. Tapi itu tak terjadi, selidik punya selidik, ternyata sang sarjana punya hubungan penting dengan pemimpin sidang. Apa hubungannya? Ternyata oh ternyata…. masih satu keluarga besar.

***
Apa hubungan nukilan novel Dan Brown di atas? Sungguh tidak hendak menceritakan bagaimana novel, tetapi alinia yang dinukilkan tersebut menyentak jantung. Wartawan mendapat point penuh bila mendapatkan berita besar. Beda. Ekslusiv. Tidak sama dengan yang didapatkan oleh wartawan lain. “Jika masih sama, ia tidak berbeda dengan saksi pelapor yang menjalankan rutinitas,” ujar seorang pakar komunikasi massa.

Pada alinia lain, wartawan hidup dalam harapan-harapan sehingga menjadi ketakutan-ketakutan. Tetapi ada pemaafan untuk sedikit melanggar deadline untuk lima menit saja. Ini pemaafan dengan pamrih asalkan ada berita besar. Karena kebobolan berita utama adalah dosa besar. Dosa yang tak terampuni untuk seorang wartawan. Sanksinya: Pecat!

Bagaimana bisa kita bandingkan dengan persoalan yang dilakukan sang sarjana di atas tadi? Apa sikap yang mesti diambil?

Menjawab pertanyaan seperti itu, ada sembilu menyayat nurani. Perih. Apalagi melihat realitas di lapangan. Cloning berita, copy paste, wartawan berpolitik, politik wartawan, politik media, media politik, bisnis wartawan, wartawan bisnis, semuanya sebentuk kekacauan yang tak habis disapu dalam beberapa kata saja. Akar persoalannya jelas memang, tetapi itu kadang-kadang bisa dioles dengan kata-kata.

Benar. Ini hanya sekelumit saja. Belum diceritakan bagaimana profesi yang lain dalam ironi yang menyakitkan nilai-nilai kemanusiaan karena keserakahan dan kepentingan-kepentingan. Di sinilah pangkal semua belantara persoalan; ketika mata hati tak lagi mampu melihat kemana mesti bersikap atas nama kebenaran yang dekat dengan nilai kemanusiaan. Oleh karenanya, pembohongan publik, kerakusan politik, kesalehan sosial, ambisi pribadi atas kekuasaan, dihiasi dengan indah dalam bingkai kata dan sajadah cinta. Di balik itu, ada dendam kesumat kepentingan bersama kerakusan akan membabat semua nilai-nilai kemanusiaan itu. Ingat! Kekuasaan cenderung disalahgunakan. Inilah ironi. [abdullah khusairi]


Responses

  1. Keren banget!!!
    No comment untuk tulisan ini…

    kenapa tak berani untuk berkomentar?

  2. mendapatkan berita eksklusif bagi wartawan ibarat ketiban bulan. Itu adalah hasil jerih payah bagi dia dan medianya. Jadi mengapa harus memberikan hasil jerih payah kita pada teman lain padahal dia sendiri juga bisa mendapatkan berita yang sama bagusnya?
    Namun kasus novel di atas banyak melanda jurnalis kita : yang hanya meng-copy-paste berita teman2nya padahal dia sendiri tidak berada di TKP. modus seperti ijni biasanya terbongkar setelah kesandung kasus hukum. Kok enak skali : Mau senang tapi ga mau susah payah..🙂

    kalau ada wartawan seperti Gunther Glick dan Chinita Macri dari BBC pada hal. 413, sekarang, pasti media kita menjadi tumpuan dan harapan… Thanks udah berkunjung…

  3. Wartawan, sebuah dunia yang mengasyikkan sekaligus menewaskan (jgn tnya maknanya, karena itu adalah perasaan seorang Reni)

    Keeksklusifan berita. Sangat setuju. Tapi apa artinya eksklusif, jika tiba-tiba berita itu hilang di tengah malam…

    Copy paste, cloning berita, tukar info, ngirim berita ke teman (media lain) itu adalah realita yang terjadi. Kenapa itu terjadi?

    Sekali lagi, no comment B’Eri.
    Satu lagi, Reni suka banget sama seluruh tulisan B’Eri. Ajarin Reni ya bikin tulisan seperti itu…

    Hilang di tengah malam? Biasanya pertimbangan tim redaksi lebih ketat dari apa yang ada dalam kepala wartawan. Apalagi wartawan tidak punya argumen yang kuat untuk membela. Biasanya, itu terjadi dan terbaca oleh para redaktur dan redaktur pelaksana. Setidaknya terbaca kelemahan hukum dari karya jurnalistik yang diserahkan. Nah, pertimbangan agar terhindar dari fitnah dan maka berita ditunda,. Ingat, jurnalistik yang bukan untuk menfitnah, tetapi menyampaikan fakta.

  4. iya, saya pernah lihat wartawan seperti itu– datang ke press room lgsng minta berita ma temannya. Ini pengalaman waktu saya magang jadi jurnalis.
    Blognya bagus, inspiratif.

    Makasih telah berkunjung. saya tidak hendak memutuskan pertemanan. tetapi layaknya bagi informasi di lapangan adalah keharusan, tetapi berbagi karya lalu dicomot sama dengan lengkap, adalah hal yang naif…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: