Oleh: meysanda | Juli 22, 2008

OPINI TENTANG BLOG

BLOG GOBLOK BLOGGER

“Ngeblog adalah bentuk dari aktivitas orang-orang kesepian, kehilangan panggung dan narsis,” ungkap seorang teman yang tentu sangat alergi dengan blog.

Seperti disengat listrik saya mendengar pernyataan demikian. Saya mengurut dada. Bersabar. Mungkin teman ini sedang “tak enak badan.”

Tapi memang, pernyataan ini mesti mendapat penjelasan proporsional dan profesional, menjauhkan sifat emosional. Itu lebih baik dari pada menyatakan, syirik tanda tak mampu atau masa bodoh bagi mereka yang tidak ngeblog.

Tiga hal yang disebut “teman baik” tadi mungkin ada benarnya, tapi tak mungkin bisa diterima seratus persen. Toh, orang mengerjakan sesuatu beragam motivasi. Misalnya, masuk partai untuk mendapat kekuasaan, masuk partai untuk memperlancar bisnis, masuk sekolah untuk dapat pekerjaan layak. Nah, begitu juga dengan blog.Adalah naif, pernyataan demikian bila disebutkan sebagai syirik tanda tak mampu. Biarlah, soal mampu tidak mampu dipulangmaklumkan kepada teman kita itu. Kita perlu menyatakan, soal kesepian tidak berbanding dengan orang ngeblog atau tidak! Toh dengan ngeblog, semuanya jadi rame! Soal kehilangan panggung, ini menarik sekali diulas. Bisa jadi benar kehilangan panggung, bisa juga tidak. Tetapi ngeblog adalah aktualisasi positif dibandingkan dengan chatting sepanjang online dengan program camfrog saban malam melihat gadis-gadis show. Telanjang. Porno. Memancing nafsu syahwat di dunia maya.

Blog adalah panggung aktualitas tanpa batas. Jika disebut sebagai pelarian orang-orang kehilangan panggung, maka panggung yang di dapat lebih dahsyat dari yang telah hilang. Dahsyat, karena ini panggung maya yang mendunia.

Maka soal kehilangan panggung menjadi lebur dengan sendirinya. Tiada alasan lagi, menyebut soal kehilangan panggung, toh panggung ini jauh lebih bebas. Tanyalah satu per satu, apakah blogger ini kehilangan panggung? Jawabannya jelas tidak. Jadi sebenarnya blog adalah bentuk kreativitas yang patut dihargai setingginya. Ia wadah bagi mereka yang memiliki sense terhadap dunia kreatif dan silaturrahmi. Buktinya, komunitas blog seperti Palanta di Padang, juga menjamur di setiap kota. Menkoinfo bahkan sudah menetapkan hari blog nasional. Jadi, ini persoalannya memang pemanfaatan teknologi, tiada lain. Pemanfaatan teknologi ketika saluran ekspresi terbuka lebar untuk siapa saja.

Well, pernyataan teman kita tadi mau kita apakan? Jangan pernah membantahnya, sebab ia akan terbantah dengan sendirinya. Biarkan berlalu secepat angin yang melaju. Seperi musim freindster, chatting dan ngeblog masuk negeri ini, lewat bak badai menyapu. Sampai ada kesadaran dari teman tadi, orang akan berbeda memandang sesuatu sesuai dengan kepentingannya.

Terakhir, siapa sih yang sebenarnya goblok? Blogger atau teman kita tadi? Saya tidak hendak menyebutkan teman kita tadi globlok. Sungguh. Saya menyebutnya, sedang tidak enak badan. Bisa jadi, ia akan belajar untuk menghargai sesuatu secara proporsional nantinya. Sampai pada waktunya ia sadar betapa berartinya sebuah hobi. Semoga. [abdullah khusairi]


Responses

  1. Online: One Jadi Keren

    Seorang ibu[baiknya disebut One Ciman saja] terengah-engah pulang mengantar anaknya mendaftar melalui jalur penermaan siswa baru (PSB) online. Selaksa peluh banjir di ketiak, leher, punggung dan –sorry terlalu perhatian hingga- di celananya.

    Dengan gembira ia menceritakan anaknya sudah terdaftar secara online di sekolah. Hebat, sekarang langsung ke komputer. Betapa canggihnya. Ia seolah-olah telah yakin bahwa dunia sudah berubah, beda dengan zaman ia sekolah dulu, tahun tujuh puluhan.

    Bagimana harga pendaftran online itu tidak menjadi perhatian serius bagi dirinya. Ia cuma mengaku, ternyata biaya sekolah terus melambung. Tak lebih baik atau sama dengan melambungnya harga terung atau maco siam. Apakah ada pengaruh signifikan PSB online dengan biaya pendaftran yang mahal? Dengan yakin ia mengaitkannya dengan kenaikan harga BBM.

    Secara persis ia tidak tahu, makhluk apa persisnya PSB online itu? Yang jelas ibu itu bagian dari orang-orang tak bersejarah di negeri ini yang tanpa banyak wacana dan cerita terseret-seret dengan arus budaya digital. Kata pertama yang diamininya adalah online dengan bacaan lidah onlen, beda tipis dengan molen.

    ***

    Ibu itu adalah tetangga saya. Semenjak sebulan yang lalu ia sudah mulai mebolak-balik koran. Kejadiannya terjadi begitu saja. One Ciman tanpa dosa menduduki koran second yang selalu saya baca sore sepulang kerja. Dengan gemas saya ingatkan’ “One , jangan diduduki, itu koran untuk dibaca.” One beringsut, katanya “Oooh” dengan mulut bulat tanpa cela. Semenjak itu ia mulai memperlakukan koran dengan iba.

    Sore itu hujan turun dengan lebatnya. Entah mengapa koran itu menceritakan tragedi banjir di beberapa kota. Dengan yakin ia berkata, “itu karena hutan digunduli.” Sedikit penegasan, saya katakan “digunduli untuk membuat kertas koran yang One baca.” Sekali lagi mulutnya munyong dengan nada ”Oooh”

    Hingga matanya tertumbuk pada berita berjudul “Poltabes buka pengaduan Hotline.” Dengan sigap One bertanya, “Kemaren onlen, sekarang hotline, apa pula itu?” Aha, kasihan One. Apakah karena mutu pendidikan pada masanya yang kurang sehingga tidak mampu membaca perkembangan zaman, atau zaman ini yang edan hingga sukar diikuti. Tetapi saya jawab saja, “hotline itu One, pengaduan hubungan langsung lewat telepon 24 jam, bila One kehilangan ayam atau celana dalam.” Sekali lagi One berdering “Oooh.”

    ***

    Tetapi One tidak patut terlalu jauh dipergunjingkan. Agar kelihatan samar ada baiknya tuduhan diperluas. Pertanyaannya, “kira-kira ada berapa banyak orang seperti One Ciman? Apakah segala sesuatu yang serba line-line butuh penjelasan kepada orang banyak? Sayangnya, terma line-line-an itu seperti hinggap di bahu orang-orang kelas menengah ke atas yang terdidik secara baik.

    Beberapa tahun terakhir budaya len-lenan itu merajai perilaku komunikasi orang Indonesia raya. Mulai dari saluran telpon partyline, yang berisi obrolan cinta, saluran Hotline dengan tema boleh apa saja, internet online dan sebagainya. Sepertinya, tidak sah pergaulan antar sesama manusia bila tidak ada line yang tersambungkan.

    Sejatinya line itu berasal dari Bahasa Inggris yang berarti garis. Jadi antar satu orang dengan orang yang lainnya harus dibuatkan garis agar jelas dan tepat sasaran. Sepertinya kalau itu berarti garis, orang dulu juga tidak terlalu kuno. Lihat saja istilah “garis nasib”, “garis ibu”, “nan bagaris (h) juo nan bapaek”. Perkembangan mutakhir teknologi cuma mempercanggihnya

    ***

    Line lain yang akan diceritakan adalah online-offline. Dalam sebuah chatting tertulis kotak yang tertulis offline. Itu pertanda anda belum terhubung. Dan bila tertulis online, bersiap-siaplah mengetik, membuat pesan apa saja agar line (tersambung) dan tidak menerabas ke mana-mana. Itu juga menjadi pertanda bahwa anda masih waras, tidak mencla-mencle kata Pak Lek asal Wonogiri.

    Dan republik ini memang bergerak ke arah yang canggih. Saya khawatir ada banyak republik yang terbentuk lewat media online ini. Lihatlah, kerumunan orang-orang di beberapa kafe di Jawa. Terakhir ada laporan sebuah koran, di Yogyakarta sudah diproklamirkan sebuah republik. Diproklamirkan sembari duduk (ngelesot) dan diberi nama republik HotNgelesot. Tanpa pemilu, tanpa presiden. Semua berlangsung secara damai. Semua orang bicara apa saja bebas seperti di negara Indonesia.

    Konon republik itu terselenggara oleh kemajuan “perdagangan” dengan komoditi bernama Hot Spot. Harfiahnya titik panas. Orang yang tidak ahli bisa menterjemahkannya ke mana-mana. Untuk makna pasnya serahkan saja kepada ahlinya.

    Tiba-tiba saya merindukan barang itu hadir di kota ini. Minimal untuk mengatasi mahalnya akses internet. Celakanya tidak semua tempat bahkan tidak seluruh kampus menyediakan fasilitas itu. Pada seorang dosen pernah saya tanyakan, “tak usahlah diadakan, saya khawatir digunakan untuk yang bukan-bukan.” Dalam hati saya berkata , “Jabatan bahkan negara saja sudah digunakan untuk yang bukan-bukan.”

    Kecanduan terhadap internet sebagai bentuk pergaulan baru yang senantiasa online ibarat mabuk kacang goreng. Sekali mulit menganga, tangan tak akan berhenti menyuap. Semua itu akan berhenti bila kacang goreng habis. Selagi online semuanya akan berakhir saat deposit saku habis untuk membayar tagihan warnet, atau ada gangguan jaringan, atau listrik dipudurkan PLN. Bahkan tak jarang internet dan kacang goreng dilakukan secara bersamaan.

    ***

    Dua hari kemudian One bertanya lagi. “Buku digital itu, apapula maksudnya? Apa tak cukup antene saja yang digital? Kemaren guru si Buyung menyuruh saya mengunduh buku secara online di internet. Tambah bingung ambo. Pakai HP saja sampai sekarang belum bisa?”

    Saya hanya bilang, “unduh saja, siapa tahu bisa.” One bertanya lagi “bagaimana cara membacanya?”
    Saya jawab, “Eja saja hurufnya! Tetapi lebih penting dari itu One harus ke warnet, bayar perjam atau per kilobyte, minta ke penjaga untuk mem-print lalu bawa pulang.”

    “Kalau ingin keren, beli komputer beli WiFi atau pasang hotspot. Unduhlah di rumah.”

    “Ondeh, alah mah Yuang, tambah paniang den.

    “Paniang Online!”

    Oke. Cerita amat menarik. Ini luar biasa sekali. Perlu ada rubrik tersendiri ya di online…. thanks..

  2. Dibutuhkan kekuatan mental dan kesabaran untuk melumpuhkan sebuah amarah.

    Bukankah dengan blog banyak hikmah yang didapat, menjalin tali silaturahmi dan bukan mencari permusuhan.

    Apakah nge-blog ngabisin waktu? NGGAK KOQ. Justru disini kita belajar gimana caranya me-manange waktu.

    Negatifnya, tergantung persefsi orang itu memandang Negri yang di sebut Blog ini gimana.

    Sabar….Bro!! sabar, suatu saat. dia akan tahu manfaat blog. saat ini belum saatnya dia tahu.

    Justru menjadi produktivitas, hingga saya bisa menulisnya. Seperti benar pula, tulisan akan lahir ketika sesuatu datang menikam. Menurut Hamka, ia menyelesaikan Tafsir Al-Azhar ketika di penjara, begitu pula Pramoedya Ananta Toer, Habiburrahman sekalipun, harus patah kaki dulu kecelakaan, lalu hanya bisa di rumah, maka bisa menulis Ayat-Ayat Cinta (AAC). Tapi Aswendo Atmowiloto menyatakan, tak harus terpenjara baru membuat karya. Tapi menurut saya, setidaknya mesti ada sesuatu yang menggesek urat syaraf dari luar entah apa.

  3. Sulit memang memilih dan menentukan mana teman baik mana yang belum jadi teman baik.

    dalam filsafat, teman terbaik adalah yang selalu mengkritik setiap pendapat kita dengan niat yang tulus untuk kebaikan kita. kritiknya juga menjadi pencerahan. Jalan Pencerahan seperti dikatakan Dan Brown.

  4. mari kita bunuh saja “teman baik” yg gadang g@#$k itu… asal cuap krn pada dasarnya otaknya kosong kayak lagu Slank “Tonk Kosonk” nyaring bunyinya, bukan karena tak enak badan… Yg kayak begitu itu tak perlu ragu untuk dimusnahkan dari muka bumi ini. Karena masih banyak tunas-tunas baru yang akan menghargai sebuah teknologi.

    hehehehehehehehehe

    abdullah khusairi-> Membalas? Tidak baik dengan cara apa yang dilakukan oleh penyerang. Kata Tsun Zu, jika musuh tak kuat menyerang musuhmu… dekati dia…

  5. blog bukan untuk orang kesepian, kalo sepi mah mending ke PATOS (Plaza Andalas Town Square), MItos, Matos atau yang lain…ilang tuh kesepiannya…lha wong kita cuman mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran, dan apa yang mesti di utarakan…..tapi nggk usah di musnahkan da max, dari syirik seperti itulah muncul sebuah pembuktian…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: