Oleh: meysanda | Juni 30, 2008

ONDE IKONYO

Jalan Hidup

JEMBATAN-MARANSI-TEDIHukum positif memang harus ditegakkan jika ingin ia jadi panglima di negeri ini. Penegak hukum mesti tak pandang bulu, siapa pun dia, jika melanggar harus dihukum. “Walaupun dia seorang buya?”

Suatu sore yang cerah, Polan mendapat undangan ceramah agama dari sebuah masjid. Polan memang seorang penceramah agama yang baru digelutinya, selepas kuliah dan mengaji di lingkungan agamawan.

Nasib memang menggiringnya untuk hidup agamis sejak ia menghadapi pengalaman pahit. Ia sadar, jalan hidupnya selama ini keliru. Lalu, pilihannya, hasrat jiwa yang kering akhirnya ia penuhi dengan lautan pengalaman agama. Pengalaman yang tak pernah tersentuh sebelumnya, walau dengan harta dan hura-hura.

Kini Polan, laki-laki paro baya ini hidup sederhana. Harta satu-satu telah habis karena berobat dan menyekolahkan anak. Glamour masa muda sudah hilang dalam kehidupannya. Kini tampil sebagai pekerja sosial. Puncaknya, ia mendapat kesalehan yang luar biasa nantinya. Sore itu, Polan pergi dengan menyewa ojek. Niatnya membantu seorang tukang ojek yang rajin ke masjid, agar ia mendapat tambahan pendapatan.

Sepanjang perjalanan pergi ke masjid memang tak ada hambatan di jalan. Satu jam ceramah dengan semangat yang luar biasa, Polan tak merasakan sama sekali. Tiba waktunya ia menutup ceramahnya dengan berat hati.

Waktu pulang itulah masalah terjadi. Karena tak memakai helm, Polan dihentikan petugas lalu lintas. Ia dibawa ke pos jaga. Lalu ditanya surat menyurat. Malang, Polan tak membawanya. Sementara, ia janji hanya untuk dua jam sewa saja menyewa sepeda motor tersebut.

Karena tak mau berlarut. Maklum malam segera datang. Waktu shalat maghrib pun tiba, akhirnya Pulan minta maaf benar atas kelalaian tak memiliki surat izin mengemudi dan surat tanda nomor kenderaan. Maaf saja tidak bisa diterima begitu saja oleh petugas, mengingat mereka sudah menjalankan tugas mengamankan jalan dan memberi pelayanan prima terhadap masyarakat pengguna jalan. Tidaklah adil memberi peluang kepada orang yang tidak memiliki izin. Tentu akan membuat marah orang yang punya izin.

Polan akhirnya ingat, sebelum pulang tadi ia diselipkan amplop uang dari pengurus masjid. Memang seperti itu ucapan terima kasih yang sudah membudaya. Amplop itu belum dibuka. Masih utuh. Karena ingin cepat, akhirnya Pulan bersedia didenda atas kesalahannya. Lalu menyerahkan amplop itu dan berharap dilepaskan segera.

Aparat lalu lintas lalu menerima denda dan mengingatkan agar tak terjadi lagi pelanggaran. Pulan akhirnya bisa meneruskan perjalanannya. Sepanjang perjalanan, ia bertanya dalam hati, apa sebenarnya peristiwa yang baru terjadi. Sudah jelas ada hukum yang dilanggarnya, tak pakai helm dan tak punya surat menyurat. Tapi, apa hukum alam yang ia langgar? Kenapa ucapan terima kasih dari pengurus masjid tadi tidak bisa ia nikmati.

“Ampuni aku. Semoga ini petunjuk yang segera tersingkap. Cobaan selalu datang tepat pada waktunya,” ia berdoa lirih sepanjang perjalanan pulang. [abdullah khusairi] sumber, www.posmetropadang.com, Senin, 30 Juni 2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: