Oleh: meysanda | Juni 30, 2008

EURO 2008

>>CATATAN SEPAK (POLITIK) BOLA

Abdullah khusairi1SATU GOL SAJA

Oleh
Abdullah Khusairi

Hanya satu kata: Lawan!
[Widji Tukul]

EURO2008“Bung! Pegang apa? Saya Jerman,” Pesan Pendek (Sandek) dari seorang teman, Sholihin SAg, alumni Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang, yang kini tengah jadi mahasiswa lagi di pascasarjana di Kota Jambi. Dia seorang guru.

Sandek itu bukanlah yang pertama bagi saya, orang yang sangat percaya diri untuk menyatakan Jerman sebagai pemenang dalam final Euro 2008, Senin dini hari itu.

“Saya pegang Spanyol. Negeri yang pernah bersentuhan dengan Baghdad, masa keemasan pemerintahan sebuah Dinasti. Sudah begitu banyak prediksi dan dukungan buat Jerman. Saya harus pegang Spanyol,” begitu Sandek yang saya reply.

“Abang pegang apa?” kata isteri saya yang cantik malam itu.

“Pegang yang banyak gol,” ujar saya sembari menyuap mie telur ke mulut isteri.

Isteri saya terpingkal-pingkal. Selalu begitu kalau ada joke. Ia selalu terkejut dan tertawa kalau ada joke baru. Tapi kalau joke basi tentu saya ditertawakan. Lalu dengan pedas menusuk hati kata-kata yang keluar. Biasanya begini, “ah! basi,” oleh karenanya, saya harus terus kreatif, mencari joke.

Saya cuma ingin melawan pendapat dari yang pernah ada dan arus yang sedang deras dan gelombang sedang naik. Saya mencoba itu untuk memperlihatkan betapa saya kuat atau tidak. Sesekali dalam hati, benar juga sebuah pendapat yang besar dan deras itu. Artinya, pendapat sedang mendapat angin harus benar hati-hati untuk melawannya.

Setelah tendangan pertama dimulai. Dengan berhentinya laporan dari Wina oleh seorang reporter yang juga ketua partai, Sutrisno Bachir, saya menyaksikan dengan seksama. Maka dimenit 33 itu adalah sebuah kejutan. Congkelan Fernando Torres setelah berpacu dari garis tengah, membuat saya harus mengirim pesan pendek kepada teman saya tadi.

“Apa kabar bung! bergetar sudah gawang suku Aria yang didukung banyak orang itu!”

Tak lama ia menelepon. Saya katakan, biasanya Klose dan kawan-kawan segera bangkit. Dia tertawa. Tawar.
“Semoga,” ujarnya pendek.

Tetapi, sepanjang 45 menit babak pertama, hanay sesekali saja Jerman melakukan penekanan ke gawang Iker Cassilas. Tapi serangan balasan itu tak membuah gol. Sebaliknya, Jens Lehman harus berjibaku sampai 90 menit berakhir.

Saya tak sekalipun menyombongkan diri. Cuma berdebar hebat. Meraung sendiri. Cemas dan sepi. Maklum, isteri saya sudah tertidur rupanya.

Saya tak boleh sombong, waktu itu. Pun secuil. Lalu saya sudah mulai menyangka-nyangka, betapa Puyol Cs takkan bisa dijebol Ballack CS. Kecemasan saya muncul ketika ingat bagaimana Jerman bisa menggulung lawan di menit-menit akhir. Itu sudah biasa terjadi sejak musim Jurgen Klinsman. Maklum, der panzer biasanya panas di akhir.

Tetapi dini hari itu, yang saya lihat emosional sekali gaya Jerman. Puak suku Arianya muncul. Dimana sejarah menyebutkan bagaimana mereka benar-benar merasakan punya darah yang tak merah warnanya.

Dalam telepon ke Sholihin saya katakan, bagaimana
Jerman Timur-Jerman Barat dengan Tembok Berlin memisahknya. Bagaimana Nazi membantai dan seterusnya. Saya menyampaikannya dengan gaya berseloroh saja. Seperti dosen sejarah yang pernah kami dengar di lokal yang sama. Nyinyir kadang juga garing.

Lalu saya sampaikan, bahwa awalnya Turkey dengan bintang bulan sabit merah putih saya dukung. Karena
Saya sempat bersentuhan dengan sejarah Kemal Attartuck dan Ir. Soekarno ingin meng-copy-paste cara Kemal melakukan reformasi sistem negara Turkey. Ah! saya bicara bola, tapi saya ungkit sejarah agama dan sejarah yang ada.

Tak apalah, Spanyol juga pernah bersentuhan tapi tak berdekatan dengan kedigdayaan Baghdad. Hanya saja, ia seperti Aceh dan Irian Jaya di mata Jakarta dalam konteks NKRI. Kurang diperhatikan oleh hegemoni Baghdad waktu itu.

Sholihin selalu memuji. Lalu mendecak, kalau saya sudah begitu. Apalagi saya, tak bisa berhenti seperti Sutrisno Bachir, yang sudah sesumbar, 3 untuk Jerman. 1 untuk Spanyol.

Benar. Di atas kertas Jerman tak bisa dipungkiri. Benar. dalam sejarah Jerman sudah menorehkan tinta emas. Tapi kita tak mengingat sebuah filosofi, kesombongan berlebihan berarti keruntuhan. Apakah itu yang terjadi? Saya tidak hendak menyatakan begitu terhadap Jerman.

Cuma asumsi saya, betapa banyak orang, seperti Shalihin, percaya pada “takhayul rasional” yang berakal pada materialism Darwin. Mengenyampingkan sebuah hakikat dari ketertindasan dan keterpurukan. Sementara, disanalah ada darah dan air mata bergejolak dan masak di dada lalu naik ke otak dan bekerja mengelupas semua adrenalin.

Meminjam kata penyair yang kini hilang entah kemana rimbanya, Widji Tukul: Hanya satu kata: Lawan!

Saya makin tak mengerti. Kenapa saya bisa mengalir menulis seperti ini. Maafkan saya teman-teman. Yang jelas, saya ingin mengungkapkan, ketinggian yang berlebihan berarti waktunya untuk terjatuh. Alpa keyakinan membuat gamang, apalagi dihinggapi virus kesombongan.

Aha. Sudahlah! Jerman memang harus menerima kenyataan. Betapa pertahanan mereka kali ini tak berarti apa-apa sekali. Dimana, el matador mengamuk, sekali der panzer yang dihadapi. Besi yang bisa berjalan di semua medan.

Begitulah. Adrenalin yang sudah matang itu berbuat. Sergio Ramos Cs, dengan postur tubuh yang tak sebanding—apalagi jika bermain bola-bola atas— memainkan gesture yang cantik. Bola-bola pendek yang menggemaskan. Membuat emosi Ballack harus meledak! Nah, apa yang bisa dipikirkan ketika emosi meninggi! Tak ada lagi, kecuali dendam kesumat yang nekad.

Mata saya perih. Pagi sudah datang. Anak-anak sudah bangun. Rame. “Siapa yang menang?” ujar isteri saya.

“Ya Spanyol. Cukup satu gol,” ujar saya.
Isteri manyun. Manis. Tanpa hendak berkomentar apa-apa. Saya pun tak hendak lagi membahasnya, takut isteri kecewa saja.

Ernst Happel menjadi saksi atas sebuah goresan sejarah. Raksasa kadang-kadang memang kalah oleh seekor semut yang punya semangat baja. Pelajaran ketiga belas yang patut diambil: Kalah menang memang harus ada. Kalah tipis itu menyakitkan. Dan sesumbar kadang-kadang menjadi belati untuk diri. Salam. [] Padang, 30 Juni 2008


Responses

  1. Payakumbuh ……….. mulai bisuak …………

  2. Angka 1 punya makna cukup dan lebih (enough and more). Angka ini mewakili rasa fakta kemenangan.

    Kelebihan 1 angka, bila itu berarti kemenangan adalah halal dan layak diapresiasi. Lain halnya jika angka 1 itu berarti kelebihan, maka ia menjadi riba bahkan mungkin saja korupsi.

    Kadang dunia ini sering juga terpenjara angka satu. Paling sering jika itu berkaitan dengan cita rasa satu-satunya (number one or never). Negasi terhadap yang lain pun muncul secara berlebihan. Setelah yang nomor satu, tak ada lagi nomor selanjutnya.

    Nah, adat politik negeri ini juga gandrung dengan angka satu. Kemenangan proses politik juga diukur dengan kalimat matematis semisal 50+1 = menang.

    Adapun bagi yang kurang dari itu, tidak rela dianggap tiada. Akhirnya ketiadaan itu dilawan dengan berbagai upaya: yang paling laris ANARKIS.

    Di negara teman saya yang beda kecamatan (sepertinya sama dengan negara saya), jika pemenang itu satu, maka pecundang itu juga satu.
    akhirnya secara berkelanjutan dialektika pemenang dan pecundang terus menerus berlangsung. Wajar negara dia tak aman.

    Tentang Jerman, meski menjadi pecundang, kekalahan cuma soal rasa yang sedikit kecut. Di luar kompetisi mereka masih mendaku sebagai jawara tanpa mahkota.

    Uhuk…uhuk…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: