Oleh: meysanda | Juni 28, 2008

RESENSI

Jejak Kelam
Ribuan Perawan

COVER-DONTJudul : Don’t Ever Tell
Penulis : Kathy O’ Beirne
Penerbit: esensi
Cetak : Februari 2008
Tebal : 352 Hal
Resensor: Abdullah Khusairi

Ketika semua hal menjadi lembaga, terorganisir dan memiliki aturan, maka akan lahir sisi buruk yang dapat menghancurkan apa saja demi sebuah kekuasaan yang ada di dalamnya.
Satu lagi yang menciptakan sisi buruk tersebut, menutup aib dan menciptakan citra suci dari lembaga tersebut.
Tanpa menutup sisi baik yang terciptakan oleh sebuah organisasi yang terbentuk, mulai dari agama, ras, negara dan apa saja, buku ini mencoba mendobrak sisi buruk itu agar bisa berubah dan tidak menciptakan sejarah buruk bagi kehidupan.

Seorang bocah perempuan Irlandia, berumur 8 tahun, memaparkan pengalaman pahit masa kecil yang terampas. Ia diperkosa oleh orang-orang suci tetapi tak pernah diakui ceritanya. Ia dianggap gila dan disiksa dalam penjara. Tidak hanya dia, ada ribuan anak-anak yang mengalaminya.
Kebenaran faktual ini agaknya menjadi cermin bagi kehidupan baru, bahwa tidak mungkin lagi diperlakukan makhluk tuhan apa pun dia dengan bengis dan mencabut harkat martabat hidupnya.
“Aku diberitahu bahwa ak akan dijadikan contoh dan harus membayar perbuatank. Selama beberapa waktu berikutnya, aku dicelupkan ke air dingin dua kali seminggu hingga wajahku membiru dan ujung jari-jariku mati rasa. Tubuhku gemetaran selama berjam-jam setelah itu dan aku merasa sepertinya takkan merasa hangat.”[hal.89]
Kenakalan anak-anak pada dasarnya adalah alamiah. Pencarian dan kreativitas yang hidup dalam benak mereka. Jika kenakalan itu dihubungkan kepada dogma agama, maka hukuman setimpal perlu dilakukan. Hanya saja, yang terjadi adalah penyiksaan lahir bathin selama bertahun-tahun yang membentuk sebuah karakter dendam kesumat bagi anak-anak yang dipelihara dalam asrama.
Mereka memiliki postur tubuh kurus kering dan tekanan bathin yang luar biasa. Generasi apakah yang bakal lahir dari proses lembaga agama seperti ini? Selain dendam kesumat tentu perih dan luka kehidupan dari mereka-mereka yang masuk ke dalam lembaga seperti ini.
“Ia minta maaf atas semua kasus pemukulan, perkosaan, penganiayaan seksual, dan penyiksaan mental terhadap ratusan gadis dan anak laki-laki yang terjadi saat mereka dalam pemeliharaan negara.”
Apalah arti maaf? Jika itu tidak mengubah keadaan pahit yang bertahun-tahun dialami. Maaf itu harus diiringi dengan hukuman yang setimpal pula.
Buku ini enak dibaca. Katarsis dan mengiris kalbu. Fakta dari arogansi sebuah lembaga yang memiliki pengakuan suci dan dihormati. Hidup memang penuh misteri. Terseret ke jalan penuh duri amatlah menyakitkan. Selamat membaca. []


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: