Oleh: meysanda | Juni 26, 2008

EURO 2008

Reni Mintak Manang

EURO2008Kini Wan Yuro tak lagi mengigau. Ia seperti mendapat keyakinan baru. Bahwa bola memang bundar. Kalah menang adalah permainan. Namun kalah tipis memang menyakitkan. Maka, permainan harus diteruskan. Yang kalah, selain perjuangan dan kekuatan memang belum memadai, juga karena faktor-faktor lain yang tidak mendukung. Lain dari itu, yang paling penting adalah, retak tangan. Bila usaha dan doa sudah maksimal, maka pasrah adalah jalan yang sangat bijak. Inilah pelajaran dari perempat final yang mengenaskan.
Turkey tersisih karena formasi yang tidak mendukung. Selain dari itu, yang membuat Wan Yuro senang, ia dari awal sudah yakin benar Jerman akan menang. Maka malam itu, hati Wan Yuro bisa tenang, walau ada gangguan tontonan akibat badai yang melanda, hingga siaran tidak tuntas. Yang jelas, suasana menonton sangat indah. Ada Reni yang setia menonton, juga ada kopi dan pisang goreng. Tak lupa rokok anak muda yang juga masih disukai oleh Wan Yuro. Maklum tak mau ketinggalan zaman.

Usai nonton mereka sudah berada di kamar. Rasa kantuk memang menyerang hebat.
“Sasakali Itin lo nan manang baa da,” ujar Reni, menyebut dirinya Itin—ini panggilan kesayangan lho.
“E ayai. Salamo ko, kan Itin nan manang mah. Alah sabaleh kosong mah,” otak Wan Yuro mulai ngeres. Ingat anaknya yang berjumlah sebelas orang.
“Dima lo Itin manang taruih?” ujar Reni merebah diri mau tidur. Lampu kamar mati, hanya mengandal bias dari lampu di luar sana yang lewat dari ventilasi.
“Alah sabaleh mah,” sentak Wan Yuro sambil tersenyum. Senyum nakal yang tak terlihat oleh sang isteri.
“Itu uda nan manang. Caliaklah laki-laki sadonyo,” Reni juga nakal.
“Wak cubo mo lah. Kok lai Itin nan manang,” Wan Yuro menyerang.
“Dak den do. Itin latiah,” ujar Reni membalik badan, menarik selimut.
“Bekolah… awak salasai bana sia nan manang,” Wan Yuro makin bersemangat.
Pagi merambat cepat. Dua laki bini itu kesiangan. [abdullah khusairi]


Responses

  1. Kemenangan dirayakan dengan berbagai cara.
    Begitulah syare’at hidup dunia yang terbuka. Ruang publik-private hanya dibatasi dengan selimut. Indahnya…

    aha. dibatasi selimut. apa masih penting di era global warming ini?

  2. waduh, pingin tahu ceritanya, tapi gak tahu bahasanya. gimana dong? he..he..

    salam kenal pak!!

    sayang banget… saya mohon maaf, memang Wan Yuro tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik… Thanks..

  3. Wah, jalan ceritanya makin menjadi-jadi aja…
    wan Yuro sudah jadi selebritis sekarang…Di cari orang dan bertanya, siapakah Wan Yuro sebenarnya? Dan siapa itu tokoh si itin alias Reni atau sebaliknya itu…
    Apakah hanya tokoh khayalan si penulis aja atau gimana…
    He..He..He..dan sekarang Euro2008 sudah menuju puncak mengantarkan Jerman dan Spanyol..
    Siapakah jagoan Wan Yuro dan Itin..


    Nah.. gimana dengan cerita terbaru… siapa yang mengunggulkan apa? Belum jadi tampaknya. Wan Yuro masih ragu dan sedang berhiba hati. Maklum sedang sensitif. Itin tak pula mengerti, ia langsung main tembak seenak perut. Kata memang tajam dari apa saja….

  4. Hebat euy,..dalam senda terdapat pesan jiwa,…kadang yang terbaca hanya riak dipermukaan bukan gejolak yg didalam,…:)


    Semoga bermanfaat. Wan Yuro tak perlu diceritakan dengan vulgar. Cukup diwakili dengan selimut. Semua sudah ada dalam nalar masing-masing. Makasih….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: