Oleh: meysanda | Juni 14, 2008

BUKU RANNY EMILIA

Mendobrak Kemapanan Peran Perempuan

COVER-RANI-EMILIAJudul : Studi Konflik dan Perdamaian
Penulis : Ranny Emilia
Penerbit: Prodi HI Unand
Cetak : April 2008
Tebal : ix+210 Hal
Resensi: Abdullah Khusairi

Pemberontakan perempuan menjadi pergerakan dalam sejarah telah menjadi semangat yang tak pernah habis. Ia hidup di setiap sepanjang masa. Namun coraknya akan kita temukan sangat berbeda-beda. Ia disesuaikan dalam format dinamika kehidupan sosio kultural yang ada pada lingkungan dimana perempuan berada.

Lain cara Nawal El Sadawi, lain pula cara RA Kartini, berbeda dengan Cut Nyak Dien, kontras pula dengan Siti Manggopoh. Tetapi suara perempuan tetap melengking meneriakkan perdamaian dan kesetaraan hak dalam berkehidupan.

Aktivis perempuan hari ini menyebutnya perjuangan gender, tetapi dulu sempat pula ada yang memberi nama pemberontakan perempuan. Benang merah dari pemikiran ini adalah, memberi ruang hidup bagi perempuan tanpa dikotomi kelamin.

Buku ini agaknya memberi persepsi lain. Ia kentara dilandasi sebuah semangat pergerakan dan perjuangan, tetapi menilik lebih lugas fakta-fakta tentang perempuan dan tatanan yang terbangun karena tangan perempuan. Pemimpin dari kelompok perempuan memberikan kesempatan nurani menjadi landasan berpikir logic terhadap persoalan. Tidak melulu dengan logika politik kaum laki-laki yang melulu kalah menang atas perebutan kekuasaan. Seperti Machevillian yang mengedepankan logika kepentingan penguasa dalam bertindak atas keharusan mempertahankan sebuah kedudukan.

Perempuan lebih memilih cara yang manusiawi penyelesaian konflik. Menghindar darah tertumpah ke tanah. Sebab perempuan secara kodrati menyambung kehidupan duniawi. Pada batas ini, perempuan manifestasi dari keberlanjutan dunia tanpa dipandang dari mesin kelahiran dan melayani nafsu laki-laki.

Realitas segera terbalik! Dimana banyak kaum laki-laki mendominasi kekuasaan dalam kehidupan. Dalam dunia sastra, penulis perempuan mendobrak dengan memulangkan persoalan kelamin dengan vulgar tanpa pandang norma. Walau terkesan jijik, namun barisan ini tetap intens menyatakan kesetaraan mesti ditegakkan di bidang apa pun terhadap perempuan. Diskriminasi terhadap kesempatan bagi perempuan memang selalu ada.

Membaca buku ini, kita dibawa tamasya pada kenyataan-kenyataan sejarah yang tak terbantahkan atas kerja keras perempuan dalam memelihara tatanan kehidupan. Mulai dari berbentuk teori sampai pada praktek. Mulai dari konteks dunia sampai daerah. Mulai dari adat hingga agama.

Apa pesan yang terpetik dari sini? Perempuan semestinya tidak berjuang mewakili kaumnya, tetapi lebih dari itu, yaitu perdamaian, penjaga nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatan. Bagaimana bisa dimulai? Tidak perlu menunggu jadi presiden dan anggota legislatif. Tetapi mulai dari sendiri, mengubah format berpikir dan mengabdikannya sebagai gerakan terhadap kemandirian hidup dan perjuangan dengan viewer kemashlahatan ummat.

Sudahkah ada kesadaran itu? Sejauh ini, pola gerakan masih memperlihatkan kepentingan sesaat dan hanya mengedepankan kepentingan keperempuanan. Tidak terlihat menjadi kenyataan semacam perjuangan ibu theresha. Walau ini sangat berat dalam ukuran kehidupan di tengah arus gemerlap duniawi yang memikat.

Dalam ukuran formal struktural, kita masih melihat gerakan yang dilakukan perempuan masih di bawah bayang-bayang kemapanan struktural yang membangunnya. Dengan arti kata, perempuan masih ada dalam subordinasi kaum laki-laki.

Buku ini meneroka pola pemikiran, secara ideal, pemimpin dari kalangan perempuan tetap memungkinkan ketika kesadaran atas kemampuan diri diakui oleh siapapun secara objektif. [] 


Responses

  1. Buku Yang Bagus!
    Setidaknya tawaran Studi Konflik dan Perdamaian merupakan kawasan yang mesti terus digencarkan. Hal ini berkaitan dengan karakter manusia yang rawan konflik dan berat untuk berdamai.

    Konflik paling laten memang berada pada kawasan gender terutama “ketidakseimbangan dan ketidakadilan” peran, misalnya di rumah tangga hingga wilayah publik.

    Tetapi lebih penting dari itu, untuk mendapatkan keseimbangan kajian, Studi perdamaian justru paling penting dan bahkan sering diabaikan. Perdamaian perlu dikaji lebih dalam. Bagaimana perdamaian itu didapatkan perlu diceritakan kepada orang lain sebagai “best practice” studi perdamaian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: