Oleh: meysanda | Juni 8, 2008

SASTRA

KAREN

Cerpen Abdullah Khusairi

JP-ILUSTRASI-KARENAku mencoba untuk mengingatkannya, agar tidak menggunakan nalar nakalnya yang berbahaya itu. Ia menyentuh kawasan yang amat rawan. Menggoda iman. Mendobrak kemapanan. Tak terbayangkan, jika pendapat itu ia lontarkan di negeri ini, bisa-bisa halal darahnya oleh orang yang tak sepakat dengan gagasannya. Sungguh! Ini gagasan yang berbahaya tentang tuhan.

Semakin aku ingatkan, malah sudah berkali-kali, ia semakin lentur memainkan nalarnya. Seperti elang yang elok meliuk-liuk di tengah lubuk, menukik menyambar permukaan air dan mendapatkan seekor ikan di cakar yang menggelepar. Ia justru mengirim gambar boneka yang tertawa. Ah, dia tertawa ketika aku ingatkan agar hati-hati berpendapat tentang tuhan.

”Baca buku Ibnu Maskawih, tokoh kita ini mempertimbangkan kemanusiaan. Toleransi beragama dan pemahaman agama yang dalam membuat manusia akan tahu arti kehidupan. Dan, bila masih ada kekerasan atas nama agama, yang salah bukan agamanya, tapi cara orang yang memahaminya.”

”Saya sudah baca, tapi tak menemukan pendapat sepertimu. Aku mengenal pemikirannya yang arif.”

”Buka lagi Ar-Rumi, Ibn Arabi, Al-Jilli. Kau akan menemukannya. Agama mengajarkan kedamaian. Bukan perang suci dan permusuhan. Sobat, kita mesti menyelami persoalan lebih dalam, tidak sekadar tahu.”

”Mereka aku kenal sebagai sufi. Mereka mendalami tasawuf falsafi dan menemukan jalan kepada tuhan. Maaf, agamamu apa?” Aku mulai ketus. Tapi ia mengirim gambar kuning, kepala boneka yang tersenyum. Aku tersenyum.

”Aku tak punya agama secara institusi. Aku punya spiritualitas dengan caraku sendiri. Seperti dikatakan Ali Syariati, agama sosial, agama institusi, agama individu, aku cenderung memilih yang terakhir. Di situ ada bahasa kemanusiaan dan harmonisasi. Bagiku, hakikat beragama lebih penting,” balasnya. Aku setengah terperanjat.

”Aku setuju apa yang kau katakan. Tetapi agama untuk tatanan sosial juga diperlukan untuk menunjukkan kesalehan sosial. Sebab tuhan juga menyuruh manusia untuk hidup di dunia dengan baik. Saling mengenal, antara suku, kaum dan bangsa.” Aku coba melayaninya.

”Sobat, diskusi kita makin menarik. Tampaknya kita harus bertatap muka. Bagaimana?”

Aku agak lambat menjawab. Buzz. Ia mengejutkanku. Tapi aku tak juga menjawabnya. Ragu dan malu.

”Bertemu empat mata di sebuah tempat. Bukan di dunia maya ini. Di situ kita bisa benar-benar saling tahu tentang bagaimana sebenarnya agama itu digagas,” katanya lagi.

Aku pikir, memang chatting mengandung sesuatu yang tidak serius. Apalagi tentang hal yang kami pikirkan, tentu harus serius sekali. Bukan sesuatu yang harus dipermainkan.

”Bisa saja. Kalau kau mau.” Jawabku setengah enggan, sembari menunggu apa jawabannya. Menggantungkan persoalan dan kemauan.

”Tidak! Aku pikir kita harus bertemu di sebuah tempat yang nyaman. Di sanalah kita bisa lebih bebas untuk berpendapat dengan dasar dan dalil yang lebih masuk akal. Dan yang paling penting, sejauh mana keseriusan pendapat itu terpancar dari wajah kita. Apakah kita sekadar main-main atau iseng.”

”Lha. Di sini kita bisa pakai webcame. Jika tidak bisa sekarang, aku bisa beli peralatannya besok. Aku akan pasang alat tersebut. Teknologi mempermudah cara hidup.”

”Sekali lagi, tidak! Aku ingin engkau dan aku bertemu. Sambil berkenalan. Prancis, sebentar lagi musim libur. Aku akan berlibur ke sebuah tempat, jika kau tak keberatan, kita bertemu. Tidak engkau yang ke sini, tak juga aku yang ke sana. Tapi kita bertemu pada sebuah tempat.”

”Bagaimana mungkin aku bisa penuhi hasratmu. Sementara aku harus bekerja. Belum bisa mengambil cuti. Dan yang terpenting, aku tak punya uang untuk ke luar negeri.”

”Oke. Aku bisa mengabulkannya. Tiket pulang pergi, semua akomodasi selama di sana. Asal engkau mau. Usahakanlah cuti pada pimpinanmu. Bagaimana? Tak ada alasan yang harus dibuat-buat bukan?”

Aku terjebak dalam permainan sendiri. Kemauannya yang besar untuk mendiskusikan masalah agama dan ketuhanan telah menjebol pendirianku. Aku jawab sungguh-sungguh, perjanjian dan kesepakatan pun dibuat. Bulan depan kami bertemu.

***

Pesawat berlabuh lembut di Changi International Airport yang berkabut. Kabut asap dari Sumatera memang sampai ke sini. Kebakaran hutan setiap kemarau tiba selalu terjadi. Sepertinya manusia membiarkan kesalahan membiarkan sesuatu berulang-ulang. Kerusakan di muka bumi tiada lain karena ulah manusia.

Ini kali pertama aku ke negara kecil ini. Negara dengan merlion lambangnya, singa berbadan ikan. Perjanjian sebulan lalu memang harus dipenuhi untuk menunjukkan betapa seriusnya percakapan yang pernah terjadi tentang agama. Menurutku, ini pertemuan dialog antaragama dan silaturahmi penting dua anak manusia yang sedang mencari hakikat kehidupan dan Penciptanya.

Lima belas menit lagi aku sampai pada titik pertemuan itu. Sepanjang perjalanan, hatiku kadang-kadang berdegup kencang. Akankah pertemuan bisa sehangat apa yang pernah terjadi melalui dunia maya itu? Akankah ia benar-benar semanis dalam foto yang dikirimkan itu? Bergelayut tanya seperti aku berdiri bergantungan di tali-tali dalam kereta dalam tanah ini.

Kami telah berjanji, di ujung jalan, sebuah taman yang di dekatnya ada tempat untuk minum dan rileks. Tepat di ujung Orchad Road, jalan utama yang ramai dan tidak pernah tidur. Orang-orang bergegas. Telinga tersumbat ipod, ransel, tas jinjing, tas sandang, tak peduli antara satu dengan yang lain. Sudah punya tujuan masing-masing. Menunggu bis, duduk di halte, masuk toko, dan keramaian memang tak perlu dihitung satu-satu. Menjemukan.

Aku telah sampai di ujung jalan yang aku janjikan. Lebih cepat lima menit. Aku mencari bangku kosong. Duduk dan memesan cappuccino panas. Tiba-tiba aku ingat kata-kata seorang senior di kampusku, caf� di negeri kami biasanya hanya untuk membicarakan hal-hal remeh. Gosip artis dan harga barang sebuah mall yang sedang diskon. Caf� bukan tempat hal-hal berat yang akan kami bicarakan. Ini berbeda dengan kebiasaan bangsa Eropa, yang membuat caf� tempat diskusi yang tanpa lelah tentang eksistensialisme, hellenisme, dan platonisme. Seperti dilakukan oleh Ernest Hemingway bersama teman-temannya.

Aku masuk dan duduk di caf� yang lepas pandangan ke jalanan. Bebas dan bersahabat. Hawa sejuk menerpa. Hijau dedaunan taman, rindang dan syahdu. Sementara, masih aku renungi, kenapa pertemuan ini harus terjadi, betapa pentingnya permintaan Karen, sahabat dunia maya itu? Apakah karena ia memang pintar merayuku. Berkali-kali aku menolak, tapi ia tak pernah mundur. Akhirnya aku kalah. Ikut kemauannya. Bertemu. Inilah yang pertama aku lakukan dalam perkenalan di dunia maya. Padahal aku baru saja membaca sebuah artikel di media Inggris Raya, ada banyak gadis remaja yang hilang karena diajak oleh teman chatting lari dari rumah untuk menemukan teman di dunia maya itu di suatu tempat. Ternyata temannya itu seorang tua bangka yang fedofilia. Diam-diam aku takut. Bergidik sendiri. Seperti kedinginan. Mujurlah pelayan datang, mengantar cappuccino panas.

Belahan hatiku yang lain memberontak pula. Buat apa takut, aku seorang laki-laki, bukan gadis remaja? Toh aku sudah mengenal dan melacak hingga lebih jauh juga jelas. Namanya Karen A. Wilson, tercatat sebagai mahasiswi di Jurusan Filsafat di Universitas Sorbonne, Prancis. Ia mahasiswi terbaik yang pernah ada di universitas ternama itu. Bisa jadi di abad ini, ia meneruskan kesuksesan tokoh-tokoh penting dunia seperti Jean Paul Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire, atau Adam Smith. Mereka menekuni science, ekonomi, sastra, seni dan filsafat, hingga mengubah peradaban. Itu pula yang mendorongku untuk bertemu dengannya. Sebuah pengalaman yang berharga tentunya.

***

”Selamat siang. Senang bertemu Anda. Semua tampak jelas. Tak hanya di internet. Aku benar-benar senang. Hari ini sejarah bagi kita.” Karen mengejutkanku dari belakang. Ia tersenyum lebar dan menjabat tanganku, memelukku, dan pipinya menyentuh pipiku. Kiri dan kanan. Ah! dingin dan bergetar.

Aku kikuk setengah mati. Hanya bisa tersenyum. Dan memang begitulah aku jika bertemu dengan perempuan kala pertama.

”Dari mana kita mulai?” Karen seperti tak membiarkan suasana yang menyenangkan ini dingin dan beku. Aku mencoba untuk tersenyum dan membiasakan diri. Padahal, sebenarnya, aku benar-benar tidak terbiasa. Selama ini, aku hidup di bawah aturan yang ketat dan agamis. Lebih-lebih berhadapan dan dekat dengan perempuan. Itu jarang sekali terjadi. Maklum saja, selain aturan yang telah ada, di negeriku, filsafat ditakuti. Jangankan perempuan, laki-laki saja jarang yang mau ikut kuliah di jurusan ini. Pemeo yang selalu dekat dengan jurusan ini adalah, hanya melahirkan sarjana-sarjana pemikir seperti orang gila. Gila pada pikiran sendiri. Tidak melahirkan apa-apa, kecuali hanya pikiran. Tidak aplikatif! Oleh karenanya, untuk makhluk perempuan, di tempatku mengajar sehari-hari satu-satu perempuan yang ikut kuliah. Itu pun tak bisa dikatakan dapat membuai angan seorang laki-laki.

”Dari awal agar lebih indah. Jangan dari pertama. Aku tak mau sistematis, karena akan kaku. Dari awal apa yang kita rasakan.” Aku seperti mendapat kekuatan. Aku selalu mendapat keberanian jika sudah terdesak. Bukankah kata-kata itu aku dapatkan dari buku filsafat bisnis China Kuno yang kubaca dalam pesawat tadi? Dan, kini buku itu berdiam di dalam tasku. Aku merasa selalu ada manfaat dari sesuatu yang didapat.

”Tepat. Aku setuju. Karena pertemuan ini dirancang khusus untuk kita. Jadi, apa mau kita.” Ia tersenyum manis. Rambut pirangnya diterpa angin. Cicit burung murai batu dekat jendela menyita perhatian kami. Burung itu seperti ingin mengikuti pertemuan kami. Ah, burung itu, di kampung halaman kami habis dijerat karena harganya mahal. Di sini, burung-burung ini memiliki hak yang sama dengan manusia, dilindungi oleh hukum. Juga sama haknya di hadapan tuhan. Jangan coba-coba menyentuh burung-burung itu!

”Jika gagasan tentang tuhan tidak memiliki keluwesan, niscaya ia tidak akan mampu bertahan untuk menjadi salah satu gagasan besar untuk umat manusia,” Karen membuka pendapatnya. Aku benar-benar merasakan berhadapan dengan manusia yang berangkat dari auflkarung. Sebuah zaman pencerahan yang mendobrak titah kuno kekuasaan atas nama agama.

”Benar. Tetapi dalam agama-agama, selalu ada dua pemikiran yang tidak memiliki titik temu. Pemahaman agama yang kaku di satu sisi, yang luwes di sisi lain. Mungkin aku pada sisi yang pertama,” ujarku berat.

”Sekarang, yang bisa bertemu itu pada sisi peradaban yang luwes. Di sana ada harmonisasi kehidupan. Bukankah agama untuk kebenaran dan kedamaian dalam kehidupan? Begitu kata Seyyed Hossein Nasr.”

”Tepat. Ini namanya filsafat parennial. Keabadian. Saya pernah menyentuh beberapa buku Frithjof Schuon. Namun, perlu diingat, mana yang paling banyak antara fundamentalis dan yang modern?”

”Jelas ada banyak kaum fundamentalis di setiap agama. Tetapi mereka bisa dipengaruhi globalitas kaum modern, karena bagaimana pun cakrawala berpikir yang berkembang akan menuju ke arah yang paling plural.” Ia menyerumput cappuccino yang masih hangat. ”Ketika sebuah konsepsi tentang tuhan tidak lagi mempunyai makna dan relevansi, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh sebuah teologi baru,” Karen seperti makin asyik.

”Seorang fundamentalis akan membantah ini. Namun, jika kita memperhatikan ketiga agama besar kita, menjadi jelas bahwa tidak ada pandangan yang objektif tentang itu. Setiap generasi harus menciptakan citra tuhan yang sesuai baginya,” ia makin semangat.

Aku mencoba memahami pendapat Karen. Perempuan setengah baya berpenampilan energik, menarik, dan mandiri. Diam-diam aku makin mengaguminya. ”Bisakah engkau membatasi antara keluwesan berpikir kaum agamawan di satu sisi, dengan kaum agamawan yang kaku di sisi lain?” Aku mencoba menyerangnya.

”Ya. Ini persoalan pemahaman dan pengetahuan. Sejauh mana orang mendalami ajaran agama masing-masing. Mendalami ajaran agama sama halnya mencari sesuatu dengan menggali. Jika digali sedikit, maka ia jadi riol-riol. Jika digali lagi, akan dapat air yang keruh, lalu dapat air yang jernih, seterusnya. Jika digali lagi lebih dalam, lebih dalam lagi, saya pikir minyak bumi akan menyembur keluar. Jawaban yang tepat untuk pertanyaan tersebut adalah, pengetahuan agama diperdalam.” Ia tampak tenang dan objektif sekali memaparkan pemikirannya.

Aku ingat dengan lumpur yang menyembur dan mengusir masyarakat dari tanah nenek moyang mereka di negeriku. Ah, ini mungkin kasusnya lain lagi. Bisa jadi salah cara menggalinya, atau terlalu ambisi dan serakah mengeruk perut bumi. Tampaknya, akibat dari ketidaktahuan manusia tentang alam dan Penciptanya.

”Saya setuju itu. Namun, dapatkah engkau pikirkan, bagaimana kita mempertemukan titik temu yang harmonis itu? Karena, persoalan ideologi, iman, syariat, dalam agama-agama besar kita mengajarkan untuk saling mempertahankan prinsip. Perang suci dalam sejarah telah menggores bekas yang tak pernah hilang dalam benak umat.”

”Ya. Saya pikir kita mesti mendalami filsafat parennial, bahwa agama itu punya hakikat yang sama sebagai jalan pencarian menuju tuhan. Saya sepakat itu. Tetapi saya justru melihat, agama bila digunakan untuk urusan politik dan kekuasaan, ia akan melenceng menjadi penipuan atas nama agama. Dan itu manjur,” tegas dan mantap sekali. Suaranya makin serak dan basah dengan bahasa Inggris aksen Prancis.

***

Orchad Road mulai mengelam. Kami sudah beberapa kali memesan minuman. Persoalan yang kami bicarakan kadang-kadang melebar, kadang mengerucut. Kadang disela oleh tawa, kadang-kadang juga amarah. Ini pengalaman pertama aku mencoba untuk mendialogkan keimananku yang mapan selama ini. Aku seperti bermain catur.

”Aku rasa kita mulai lelah. Apa agendamu selanjutnya di sini?” Aku mengalihkan persoalan. Karen berpikir dan menggerai rambutnya. Raut tua makin mendekat ke wajahnya. Tetapi ia masih kelihatan cantik.

”Tidak ada salahnya kita berjalan-jalan dulu. Mungkin mencari tontonan menarik. Lalu kita kembali lagi mengupas persoalan yang sedang menggoda iman kita,” tawarannya membuat aku semakin muda sepuluh tahun. Rasa bersalah tiba-tiba menyelinap ketika senja bergulir memerah jalanan yang tak pernah sepi ini. Bukankah aku sudah berkeluarga dan ke sini dengan alasan dinas? Bukan alasan selingkuh?

”Ya. Sangat tidak keberatan. Tetapi aku mesti mendapatkan tiket pesawat pagi sekali. Masih ada banyak pekerjaan di kampusku.” Aku mencoba mencari alasan mengelak untuk tidak lebih lama di sini dan berupaya agar ia tidak tersinggung.

Ia mengangkat bahu. Setelah Karen membayar minuman, kami keluar bersamaan. Seperti sepasang kekasih. Ah, rasa bersalah itu melukai hatiku lebih dalam lagi. Aku mencoba untuk menyimpan rasa sakit itu di hadapan Karen, perempuan berambut pirang yang intelek.

”Sudah berapa kali ke sini?”

”Dua kali masuk sekarang. Dulu, beberapa tahun lalu waktu masih punya suami, saya pernah menemaninya dalam urusan pekerjaannya.”

”Maaf, kalau pertanyaan itu membuat engkau jadi ingat masa lalu,” ujarku sambil menangkap matanya yang sedikit biru.

”Tak apa. Semua telah berlalu. Hidup ini benar-benar milik tuhan. Pun pertemuan ini, seperti ada yang merencanakannya. Eksistensi tuhan akan ada di setiap sanubari manusia, namun pengakuannya saja yang berbeda-beda.” Ia seperti tak mau lari dari pencarian rasionya tentang tuhan. Aku tersenyum sendiri.

”Ah. Awalnya aku cuma memancing untuk mendapatkan pemikiranmu. Selebihnya, engkau ternyata lebih mahir menguraikannya. Sedikit memaksa, selebihnya merayu agar ada pertemuan untuk diskusi yang di negeriku teramat tabu,” balasku.

Ia tersenyum. Kami berjalan lambat dan santai di sela-sela orang-orang yang bergegas menapak waktu. Karen mendekat di sampingku. Pasti tak ada yang menyangka kami baru saja berkenalan beberapa jam lalu, pikirku. Semua orang di sini tak akan tahu itu. Karena kami sudah seperti berteman lama dan sepasang kekasih. Pada hatiku yang paling dalam, ada secuil hasrat terpendam yang paling takut aku katakan, di mana kami mesti bermalam? Apa ini juga telah jadi ditentukan oleh tuhan? Aku tak mau mempertanyakannya pada Karen, lalu membiarkan hasrat tanya itu menjadi apa saja di dalam benakku. Sampai nanti perjalanan kami benar-benar lelah. Biarlah!

***

”Selamat malam. Sampai jumpa besok.” Karen memelukku, cium pipi kiri dan kanan. Aku benar-benar masih kaku untuk hal semacam itu. Kami berpisah di persimpangan kamar.

Aku masuk kamar dan merebah diri. Terasa hati amat rawan. Tidur di sebuah kamar mewah ditemani sunyi. Percakapan siang hingga senja, senja mengantar malam, telah membuat lelah yang berbeda. Membuat mata tak juga mau mengatup dunia. Aku menyingkap gorden melirik ke bawah. Gemerlap kota masih terjaga indah. Aku merasa kecil sendiri. Sunyi.

Apa yang dirasakan Karen di kamar sebelah? Sudah tidur dan bermimpikah dia? Apakah percakakapan demi percakapan tadi membuatnya lelah? Atau masih tetap bersitungkin membaca buku-buku untuk menambah ilmu untuk mengenal ketuhanan? Apakah masih ada perasaan seorang perempuan di hatinya? Aku mengibas pikiran-pikiran nakal. Lalu malu sendiri. Sepertinya, tuhan sedang menertawakan ketololanku di kamar ini. Aku tak melihatnya tapi aku merasakannya. (*)

Padang, 8 Maret 2008, 03:15 WIB
Sumber: Minggu, 8 Juni 2008, klik www.jawapos.com



Responses

  1. Begitulah cara cerpenis mengakhir seritanya. tetapi ide yang akuat akan melahirkan tindakan sosial.

    Misalnya, bagaimana dialog yang sarat pesan sosial itu ditangkap dan diartikulasi oleh penikmat sastra menjadi tindakan kebajikan, perdamaian atas nama kemanusiaan.

    Karen dan Aku adalah personifikasi Barat dan ‘Islam’. Karet adalah barat yang intelektual dan toleran. Aku adalah Islam yang diinginkan, yang terbuka dan siap berdialog.

    lalu, di mana ruang “persetubuhan ide” Karen dan Aku?

    Bilamana keduanya masih betah dalam keresahan di kamar masing-masing, maka persetubuhan itu tidak akan ada.

    Apa nama persetubuhan itu? Agama dan Kemanusiaan.

    Apa judul dialog Karen dan Aku? Dialog antar Peradabankah (dialogue among civilizations).

    tentang dialog antar peradaban, Bung Khusairi sepertinya menjadi juru bicara Azyumardi Azra…

  2. “bersitungkin” itu sudah jadi bahasa nassional juo yo da…??
    mantab…..seperti Buya HAMKA aja.salut.

    he he he… bersitungkin, menyelip di antara kata. tanpa diberi arti pasti urang dah tahu. bersitungkin, serius, fokus terhadap sesuatu hal. iyo, yang saya tahu, benar itu bahasa minang… thanks…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: