Oleh: meysanda | Mei 6, 2008

UNIQUELY SINGAPURA

SINGAPURA-SENTOSA-ISLAND

FINIS: Abdullah Khusairi (Harian Pagi Padang Ekspres) menyentuh garis finis pertama di Ride Circuit Sentosa Island, 7 April 2006, disusul Chaerunnisa (Seputar Indonesia). Setelah itu baru disusul oleh jurnalis lain dari Indonesia.

Tawarkan Kebanggaan dan Kelangkaan

Singapura. Kemajuan dan percepatan pembangunan terus menggeliat menapaki zaman lebih dahulu dari negara lain. Pemerintah dan masyarakatnya telah memikir dan berbuat apa yang belum tersentuh oleh yang lain. Maka perubahan begitu cepatnya di negara kecil ini.

LAPORAN—ABDULLAH KHUSAIRI—SINGAPURA

Koran ini bersama delapan jurnalis dari Indonesia, diundang untuk melakukan perjalanan jurnalistik yang bertajuk, Singapure Education FAM Itinerary For Indonesian Media, digelar 22 – 25 April 2006.
Media yang mendapat kesempatan kali ini selain Harian Pagi Padang Ekspres, Seputar Indonesia (Chaerunnisa), Pikiran Rakyat (Anwar Effendi), Kedaulatan Rakyat (Ronny Sugiantoro), Suara Merdeka (Sugiarto), Jawa Pos (Ratih Pramita Aisyah), Sumatra Ekspres (Santi Virgianti), Jambi Independen (Kristian Edi Candra) dan Riau Pos (Henny Elyati).
Selain menggelar mengunjungi lembaga pendidikan terkemuka milik Singapura, jurnalistik dari Indonesia juga mendapat kesempatan ke beberapa tempat wisata. Seperti Sentosa Island, sebuah pulau yang “disulap” menjadi tempat libur yang nyaman dengan fasilitas terlengkap. Secara umum tak ada yang baru memang, tetapi pembenahan terus dilakukan setiap waktu di pulau seluas 400 ha tersebut.
Jika di Indonesia masih bisa menonton film dengan garapan 3 Dimensi, Sentosa Island menawarkan 4 Dimensi. Selain teknologi 3 Dimensi seperti yang ada di Indonesia, Singapura telah menambahkan pada dimensi ruang penonton yang tidak hanya diberi kaca mata mata khusus, tetapi juga kursi yang bergoyang seketika, air dan angin yang berhembus seperti kenyataan sesungguhnya. Stop, jangan coba-coba bagi ibu hamil, jantungan, atau punya gangguan pada penyakit lain. Karena kejutan dalam film cukup membuat kita berdebar, seterusnya tertawa.
Film yang diputar tidaklah lama, hanya 15 menit. Tetapi dimensi yang digarapnya sangat menarik. Dari serangga yang mengencingi penonton hingga merasa jatuh sebenarnya dari sebuah kapal dalam film tersebut. Siap dan siagalah untuk tidak terkejut kena bom yang “seakan-akan” ada di depan mata.
Setelah menonton film tersebut kita diajak untuk mengunjungi Images of Singapore, sebuah gedung peninggalan Inggris yang disulap pula menjadi “gudang” sejarah masyarakat Singapore. Juga terdapat foto tua yang bisa hidup setelah diolah dengan komputer. Foto ini terdiri dari etnis, China, Inggris, Melayu dan India yang sepakat menyatakan perbedaan yang dibina akan membuat kemajuan. Menakjubkan.
Ke pulau ini sangatlah tidak sulit. Karena di Singapura semua hotel menyediakan peta yang bisa dibawa oleh pelancong. Ke Sentosa bisa naik Mono Rel Train (MRT) dari beberapa terminal yang tak jauh dari pusat kota. Hanya beberapa menit akan sampai dan kita akan melihat dari dekat pelabuhan di Singapura. Menurut Guide (STB) Fern Wong Siu Huang, pelabuhan adalah pemasukan devisa terbesar Singapura. Ada enam pelabuhan yang bisa melayani 800 kapal perhari.
Di Sentosa, layaknya sebuah pulau tempat rekreasi terdiri dari banyak tempat hiburan. Salah satunya Luge, seperti go kart tapi tanpa mesin yang menuruni bukit puluhan meter berkelok-kelok. Sedangkan untuk naik kembali menggunakan chairlift, yang bisa melihat dengan jelas pemandangan sekitar pulau Sentosa. Chairlift, seperti sky way tetap terbuka dan hanya sebuah bangku panjang yang digantungkan kabel, diber pengaman. Gamang tetapi asyik. Dari atas Chairlif ini, pemandangan yang cukup jelas bisa dinikmati.
Sebelum itu, cobalah menaiki Sky Tower setinggi 131 meter dari permukaan laut. Pemandang lebih menakjubkan. Indah di waktu siang, bak permata di waktu malam. Dari Sky Tower seluruh pulau Sentosa bisa dilihat. Beginilah teknologi diciptakan untuk menyuguhkan view menarik untuk pariwisata. Sementara di Ranahminang, view itu sudah ada. Beberapa tempat di Sumbar justru memiliki panorama natural yang tiada taranya.
Selain pemandangan dari atas, Pulau Sentosa juga menyuguh dunia bawah laut. Sebuah dunia yang kaya dengan spesies. Underwater World milik Sentosa Island memiliki lebih dari 2500 spesies ikan 250 dari itu adalah spesies langka. Pelancong akan dapat penjelasan detail seputar dunia bawah laut yang dimiliki Sentosa Island.
Belanja & Pendidikan
Singapura bukanlah melulu kota bisnis dunia. Ia juga memiliki tempat untuk belanja barang-barang khas Singapura. Apa khas Singapura? “Singapura dihuni oleh etnis Melayu, China, Inggris dan India. Keempat etnis ini hidup berdampingan dan menghormati perbedaan. Pendiri negara ini menyatakan agar menghormati perbedaan budaya. Nah, budaya empat etnis inilah yang dimiliki,” tutur Fern.
Koran ini diajak untuk menikmati suasana belanja di India. Namanya Little India. Sepertinya India dipindahkan ke sini. Karenanya apa yang kita inginkan tentang India ada di sini. Dari pakaian hingga asesoris budaya.
Setelah itu, yang tak asing lagi bagi mereka yang ke Singapura. Naik Boat menelusuri sungai dan mendekati Merlion—lambang negara berkepala Singa dan berbadan ikan. Singa melambangkan kekuatan dan ambisi, ikan melambangkan kedamaian. Setengah jam mengelilingi dan mengikuti sungai yang membelah Singapura dengan Pulau Sentosa, kita seakan-akan ada di Mahattan. Hal yang tidak berlebihan, karena dari sungai ini kita melihat gedung bertingkat dan metropolitan yang selalu sibuk, tidak pernah tidur.
Setelah itu, berbelanja ke Chinatown, Toa Payoh. Tempat masyarakat Singapura berbelanja murah meriah dan selalu ramai dikunjungi turis dari seluruh dunia. Kalau sudah tak kuat perut menahan lapar, jangan khawatir kalau tidak ada nasi padang. Nyaris tempat atau deretan restoran ada selalu Nasi Padang. Jangan segan berbahasa minang atau setidaknya berbahasa Indonesia, mereka akan menyapa dengan ramah.
Singapura selain transportasi laut, darat, juga ada di bawah tanah, yaitu Mono Rel Train (MRT). Jalur kereta ini membelah Singapura menjadi empat, satu dengan yang lainnya berhubungan pada pusat atau terminal. Kalau dari Toa Payoh ke Bugis, sebuah tempat belanja juga, kita bisa naik MRT selama 15 menit dan dengan peta di tangan kita bisa turun di salah satu terminal dan naik MRT arah ke Bugis. Menikmati MRT agaknya perlu dipelajari, karena ia dilayani secara teknologi. Menukar koin lebih dahulu, seterusnya memasukkannya tempat kartu MRT. Sejenak setelah itu, kita diberi waktu menekan pilihan tujuan kepergiaan. Harga langsung tercatat dan keluarlah kartu masuk yang bisa digunakan untuk masuk ke terminal dan MRT.
Di Singapura, jenis unggas dilindungi bisa bermain dengan kita di tangah kota. Seperti burung jalak, burung gagak, murai batu, bisa dilihat sewaktu-waktu. Bahkan bisa bermain di depan hotel. Hal yang berbeda di Indonesia, unggas seperti burung jalak dan murai batu, sangat diburu untuk dimiliki.
Objek wisata yang juga memiliki kesan natural lengkap flora dan fauna adalah Eksplore Nigh Safari. Beragam spesies dari yang ganas hingga yang langka di sini. Sama dengan taman safari di Indonesia, hanya saja kesan natural dan pelayanan cukup prima. Kita dibawa dengan kereta di tengah hutan yang seakan-akan mengerikan. Tentu saja, bagi mereka yang hidup di perkotaan merindukan hal seperti ini. Hewan di kiri dan kanan jalan yang kita kelilingi selama setengah jam amat banyak. Seperti si Raja Hutan, Singau, Harimau, Gajah, Beruang, kancil, rusa dan masih banyak lagi. Mereka dekat sekali dengan kita, tapi jangan coba-coba memberi makanan kepada mereka.
Satu catatan penting sebelum melancong ke Singapura, dana tak perlu banyak tapi ukur kemungkinan “demam” belanja. Setelah itu jangan lupa memilih hotel. Ada banyak pilihan-pilihan hotel, dari yang termurah sampai yang paling mahal. Biasanya Singapura Toursm Board (STB) memiliki data dan siap memberikan secara cuma-cuma.
Hotel paling strategis di sekitar Orchad Road, walau masuk kalangan hotel berbintang, mereka dekat dengan semua jurusan transportasi yang akan dituju. Salah satu hotel yang representatif adalah Orchad Hotel, gaya eropa pelayanan asia dan jenis makanan yang disiapkan di event tertentu cukup memikat. ***
Publicing in Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu (07/05/06)


Responses

  1. nikmatnya jadi wartawan tuh di sini nih–menikmati a round the world dengan gratis, hehehehehe…kalo ada perjalanan keliling dunia [yang gratis kayak gini] ajak2lah…kita kan wartawan juga, hahahahaha…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: