Oleh: meysanda | Mei 4, 2008

FAISAL ZAINI DAHLAN

AL-QUR’AN DAN PLURALISME
Oleh : Faisal Zaini Dahlan
Sekr. Eksekutif CES (Center for Enlightenment of Society)
& Sekjur Perbandingan Agama IAIN IB Padang
e-mail : faisal_zainidahlan@yahoo.com

Perdebatan mengenai pluralisme seyogyanya tidak lagi sekitar definisi atau interpretasi. Karena dalam wacana popular maupun akademik pemahaman bahwa pluralisme berujung pada pembenaran semua agama sudah menjadi commonsense. Pluralisme secara determinan sudah dibedakan dengan inklusivisme, agree and disagreemant (setuju dalam perbedaan), apalagi dengan konsep tasamuh (toleransi) dalam Islam. Sekedar menguatkan postulat ini, kita kutip tulisan Ulil Absar Abdalla, seorang aktivis garis terdepan penganjur pluralisme di tanah air sebagai berikut: …”Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya (http://islamlib.com/id)

Sekali lagi tampaknya kita harus membedakan antara pluralisme dan pluralitas. Pluralitas adalah realitas bahwa memang terdapat berbagai agama yang dianut manusia, begitu juga budaya, peradaban, dan seterusnya. Pada tataran ini tidak ada persoalan yang perlu diperdebatkan. Semua agama menyiratkan pengakuan adanya pluralitas, meski dengan paradigma yang berbeda dalam memandangnya. Islam dikenal sebagai agama yang mengakui pluralitas. Nash al-Qur’an dan Hadis Nabi begitu juga praktek as-sabiqul awwaluun, generasi sahabat dan beberapa generasi setelahnya, banyak yang dapat dijadikan model rujukan bagaimana menyikapi realitas pluralitas itu.
Pluralitas adalah sebuah sunnatullah, Allah-lah yang menghendaki keragaman, sehingga ia sudah taken for granted. Tetapi pluralisme bukan sunnatullah, karena ia adalah paham keberagamaan yang dikonstruk akal manusia untuk kepentingan tertentu. Ada tiga agenda besar keberagamaan yang dicanangkan dan dipropagandakan Barat sebagai paradigma beragama yang relevan dengan tatanan global versi Barat, yakni pluralisme, Abrahamic Religions, dan The Global Ethic. Ketiganya senafas seirama dan seiring sejalan, meski pluralisme menjadi agenda tersulit untuk diterima secara global.
Abrahamic Religion adalah paradigma yang dibangun atas pandangan bahwa tiga agama besar; Yahudi, Kristen, dan Islam, berasal atau merupakan pengejawantahan dari millah Ibrahim. Konstruksi postulat ini dibangun atas dasar adanya pengakuan dari ketiga agama besar ini terhadap sosok Ibrahim sebagai Nabi pembawa monoteisme. Dengan kata lain, ketiga agama besar itu bertemu pada diri Ibrahim sebagai nenek moyang mereka. Dengan demikian sebenarnya penganut ketiga agama bersaudara, sehingga tidak perlu bertengkar dan bermusuhan. Sampai titik ini relatif tidak ada problem. Tetapi ketika dipersoalkan apakah semua agama itu masih memegang teguh millah Ibrahim, maka muncul perdebatan teologis yang tidak mungkin dipertemukan.
The Global Ethic adalah paradigma yang dibangun atas kesadaran kondisi global yang sudah semakin memerlukan penanganan bersama untuk kelangsungan peradaban manusia. Prinsip-prinsip dasar untuk memakmurkan bumi dan sekaligus menjaganya dari kehancuran mesti dimiliki semua warga bumi dari agama dan etnis manapun. Karenanya diperlukan pertemuan-pertemuan para tokoh agama tingkat dunia untuk menyatukan paradigma dalam membangun sebuah etika global untuk kepentingan kemanusiaan universal. Mengiringi paradigma ini muncullah berbagai lembaga lintas agama dari tingkat dunia, hingga tingkat nasional, regional dan lokal.
Sekilas tidak ada yang salah dari agenda itu. Namun bila dilihat lebih jeli, akan tampak upaya penggiringan persepsi publik dunia kepada sebuah pemahaman semua agama setingkat, setara, dan sejajar. Artinya, agama pada dasarnya sama saja. Inilah agenda utama gerakan pluralisme yang dikembangkan ke seantaro dunia, tidak terkecuali Indonesia. Mengiringi itu, sebagai antitesa muncul pula gerakan anti pluralisme dengan berbagai derivasinya.

Pluralisme sebagai tuhan baru
Wacana keagamaan pada akhirnya tergiring untuk mengerucut kepada “pluralisme” dan “anti pluralisme” secara berhadap-hadapan. Kedua varian itu dijadikan kaca mata untuk menilai sebuah agama dan aliran-alirannya. Kaca mata yang sama juga dipakai dalam melihat aktivitas sosial politik, bahkan hampir setiap denyut nadi, detak jantung, dan gerak apapun di bumi ini. Pluralisme telah menjadi hakim yang menentukan apakah denyut nadi itu “berbahaya” atau “bermanfaat” untuk kelangsungan kehidupan. Dalam posisi demikian pluralisme telah menjadi tuhan baru bagi terjaminnya peradaban bumi di masa depan.
Konsekuensinya, segala denyut nadi harus relevan dan singkron dengan tuhan baru yang bernama pluralisme itu. Semakin relevan dengan pluralisme semakin dipandang sebagai penyelamat kehidupan. Sebaliknya jika semakin jauh akan dipandang semakin berbahaya. Seolah-olah tidak ada alternatif lain, sehingga penghuni bumi berlomba-lomba untuk menyesuaikan dan menampakkan diri sebagai yang paling pluralis. Tokoh politik, pemikir, dan tak ketinggalan agamawan yang sejatinya menyuarakan suara langit untuk kesejahteraan bumi, turut ke barisan terdepan sebagai penganjur pluralisme.
Berbagai dalih dan permainan semantik diumbar untuk membangun paradigma pluralisme. Khazanah kebijakan-kebijakan intelektual dan spritual masa lalu diidentifikasi dan diteropong dengan kaca mata itu untuk menemukan celah-celah yang -menurutnya- secara eksplisit maupun implisit membersitkan pikiran pluralisme untuk kemudian diblow-up lalu diseret ke dalam klasifikasi pluralisme. Tidak tanggung-tanggung, dari tafsir Al-Manar Rasyid Ridho hingga tafsir Al-Azhar Buya Hamka disebut-sebut berparadigma pluralisme.

Al-Qur’an dan Pluralisme
Tidak hanya hasil pikiran atau interpretasi terhadap teks -termasuk teks-teks keagamaan- yang diseret-seret kepada varian pluralisme dan anti pluralisme, tetapi juga teks-teks suci itu sendiri. Di kalangan Muslim muncul para interpretator yang begitu berani menyimpulkan bahwa al-Qur’an menyuarakan pluralisme. Ayat-ayat yang sekilas tampak cocok dengan pluralisme, dikutip, dikoleksi, lalu dijual bak mengutip receh yang tercecer di jalanan tanpa membaca utuh pesan global Kitab Suci itu.
Dengan memahami sendiri satu dua ayat -dari 6600 lebih ayat al-Qur’an- konklusi itu dibangun dengan mengabaikan sekian banyak ayat yang menginformasikan fungsi diturunkannya Islam, yang justru datang untuk meluruskan dan mengkoreksi distorsi dan kontaminasi para penganut agama terdahulu terhadap ajaran Tuhan, yang nota bene itulah yang umumnya dianut saat ini. Dengan begitu, pensesajaran kebenaran Islam dengan kebenaran agama-agama lain yang ada saat ini (bukan kebenaran ketika agama-agama itu diturunkan) sama saja mengangkangi tugas besar Rasulullah Muhammad SAW.
Menurut penulis, sebagai Kitabullah untuk hudan linnas dan bayyinaat minal huda wal furqan, al-Qur’an pasti memiliki formula sendiri sebagai solusi universal di setiap saat dan tempat. Sebagai hudan, maka semestinya al-Qur’an dijadikan rujukan oleh seorang Muslim untuk menyelesaikan persoalan. Bukan sebaliknya al-Qur’an diseret-seret menjadi persoalan untuk kemudian produk pemikiran manusia yang bernama pluralisme dijadikan referensi dan tolok ukur untuk menghakimi al-Qur’an.
Misalnya saja, al-Qur’an memiliki konsep “tasamuh” yang tidak bisa ditarik ulur dan diseret-seret menjadi pluralisme atau anti pluralisme. Ada ayat-ayat yang secara jelas dan tegas (cut and clear) menjelaskan posisi orang-orang yang menyekutukan Tuhan, dan seterusnya. Namun ada pula ayat-ayat yang menjdi pedoman menata kehidupan sosial dalam realitas yang plural. Maka, memformulasikan bagaimana sesungguhnya konsep al-Qur’an (Islam) tentang kehidupan yang majemuk -dengan tidak terbelenggu pada paradigma pluralisme dan non pluralisme-, inilah sejatinya menurut penulis yang perlu dilakukan terutama oleh para akademisi di Perguruan Tinggi Islam. Agenda besar berikutnya adalah menjelaskan, menyebarkan dan menerapkan formula itu sebagai tatanan kehidupan global dalam masyarakat dunia yang majemuk. Manakala itu terjadi, ketika itulah Islam membuktikan dirinya sebagai rahmat bagi alam. Wallahu a’lam bishshawab.[]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: