Oleh: meysanda | April 30, 2008

RESENSI

Jerit Perempuan Nigeria

RESENSI-AMINA1Judul : Amina
Penulis : Mohammed Umar
Penerjemah: Yudith Listriandri
Penerbit : INSISTPress
Cetak : Desember 2006
Tebal : 384 Halaman

Meski langkah-langkah sejarah biasanya hampir tak bersuara, tapi tidak tidak sepenuhnya senyap. Mereka yang bertelinga tajam bisa mendengar. (hal. 378)

Mohammed Umar, penulis Novel ini, bisa jadi salah seorang dari mereka yang bertelinga tajam itu. Dan dengan nalar yang tajam pula ia membedah semua kehidupan di negeri kelahirannya, Nigeria. Hasilnya, betapa keadilan masih terus dalam arus perjuangan yang makin absurd.

Sosok Amina, seorang ibu rumah tangga muda hanyalah perwakilan dari tokoh pemberontakan perempuan terhadap dominasi di sebuah negara. Bisa dibayangkan, di sebuah negeri yang di dominasi penguasa korup dan sistem bernegara tiran, berlindung pada legitimasi hukum sepihak, ibu rumah tangga, aktivis perempuan, wanita karier, buruh perempuan, pelacur perempuan, pengemis perempuan, turun ke jalan atas nama perempuan. Atas proses panjang provokasi Amina, mereka bisa membuat kaum laki-laki harus masak sendiri untuk makan.

Mereka terpaksa makan siap saji selama perempuan-perempuan menuntut hak-hak hidup mereka. Di situlah baru terasa dunia tanpa perempuan begitu hampa.

Amina tidak hanya memberontak terhadap kehidupan di negaranya, tetapi juga peran kapitalisme yang datang dari barat. Sungguh berat tugas yang diperankan ibu muda ini. Lebih berat dari Perempuan di Titik Nol yang ditulis Nawal El-Sadawi.

Perjuangan dan misinya nyaris sama, pemberontakan terhadap sistem kelas yang mapan. Perjuangan kesetaraan gender seperti ini memang terjadi di mana saja. Namun Mohammed Umar adalah laki-laki yang menulis tentang perempuan. Berbeda dengan Nawal yang memang mewakili kaumnya. Di sinilah membuat novel ini menarik. Sesuatu yang tak mungkin terjadi akhirnya bisa terjadi. Fakta berputar dari kemapanan yang dimiliki oleh kekuasaan atas nama laki-laki. Ternyata, bila perempuan bersatu, dunia akan tunduk padanya. Bisa kita bayangkan betapa buruknya dunia tanpa perempuan.

Amina yang lugu dipaksa kawin oleh ayahnya dengan pria yang sudah memiliki tiga isteri. Menjadi isteri keempat seorang anggota legislatif membuat ia kesepian. Lebih-lebih tindakan main tangan oleh sang suami membuatnya nekad untuk memperkuat barisan perempuan. Berkat bantuan teman-temannya di kampus Bakaro, Nigeria ia ternyata siap berjuang antara hidup dan mati. Dan kematian anak pertamanya adalah cambuk yang mengiris kalbu dan kemanusiaan kita.

Berkat bantuan Fatima, Amina membuat asosiasi perempuan Bakaro, tempat ia berkiprah mendidik perempuan-perempuan. Membasmi buta hurup dan membuka cakrawala berpikir perempuan. Akhirnya, inilah yang membuat kesadaran atas ketertindasan itu muncul dan melawan. Tak mereka inginkan lagi menjadi budak siang malam di negeri sendiri.

Padahal, Amina sebagai isteri keempat ia bisa memiliki apa yang ia mau tetapi ia tak mau. Ia bisa saja masuk pada asosiasi istri anggota legislatif yang glamour. Ia tak menyukai organisasi yangmeninggalkan nilai kemanusiaan itu. Amina potret perempuan Nigeria yang jantan.

Pahit getir kehidupan perempuan Nigeria khususnya, Afrika umumnya dihidangkan ke sidang pembaca tanpa ragu; Kemunafikan negara dan kerakusan laki-laki diungkapkan secara terang-terangan; Peran negara Eropa mengambil sumber daya alam dan meninabobokan pejabat negara; Kesempatan perempuan untuk maju dan ketakutan atas hukuman sepihak mewarnai novel ini sampai akhir.

Melalui wanita bernama Amina, Mohammed Umar tampak ingin mengungkapkan ketidakberdayaan Nigeria dan memotivasi Nigeria agar bangkit dari keterpurukan. Sadar dan maju dengan pendidikan. Persoalan politik ternyata amat menarik bagi Mohammed Umar. Kalimat provokatif dan memikat yang disuarakan oleh Amina dan Fatima seperti menjelaskan, Mohammed Umar melepaskan semua kekesalan sistem politik dan ekonomi yang ada di negerinya. Maka buku Das Kapital Karl Marx menjadi bacaan aktivis perempuan. Dilengkapi dengan buku-buku pergerakan yang teramat asing pada awalnya bagi seorang ibu rumah tangga bernama Amina. Tetapi, itulah menariknya, melalui jendela pergerakan perempuan semua pesan tentang Nigeria menjadi sampai kepada dunia melalui Amina.

Izinkan saya ceritakan pada Anda konsep kekerasan. Ketika gadis–gadis muda dan tak berdosa dinikahkan dalam usia sangat muda dan bagian kewanitaan mereka dipotong, apa itu bukan kekerasan. (hal. 365)

Pada bagian lain disampaikan, anak laki-laki pejabat dengan sesuka hati memperkosa, ketika dilaporkan, perempuan korban pemerkosaanlah yang dihukum dengan alasan memancing birahi laki-laki. Hukum sangat berpihak kepada laki-laki karena yang membuatnya adalah laki-laki.

Membaca novel ini bukan sekedar mendapat cerita cinta, tetapi juga ekonomi, politik, agama dan kemanusiaan. Sebuah fakta dalam cerita dan cerita yang menyelip di antara fakta. Manis, pahit dan juga getir. []


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: