Oleh: meysanda | April 26, 2008

CERPEN

Setangkai Kisah Bunga Tulip
Cerpen Abdullah Khusairi

Burung besi itu mengaum, berlari dan landas. Ia terbang membawamu entah ke bumi mana. Kian lama kian mengecil dan menghilang di balik awan. Kau membawa segenap cinta juga menanam rindu pada hatiku.

“Libur semester aku pulang.”

Itulah janjimu menjelang mata tak lagi saling tatap. Matamu tegar meninggalkan aku di sini, sedangkan mataku bertelaga. Sayang, pergilah gapai cita-citamu. Aku siap menunggumu. Sampai kapanpun. Kau laki-laki yang selalu kutunggu dalam kesepian. Aku akan setia sepanjang waktu.

Ah, betapa sedih perpisahan itu terjadi. Sekejap saja kita sudah tak lagi berdua. Dan hari-hari ke depan aku tak lagi bersamamu. Kesepian sepertinya telah menunggu untuk memasuki relung-relung hati. Sepeninggalmu, ia akan menemaniku. Teman yang tak pernah aku mau sedikitpun.

“Begitu sampai, aku akan telepon, SMS. Kalau tidak sibuk aku akan kirim e-mail.”
Aku tahu kau menghiburku. Semampu dirimu merangkai kata demi kata. Namun semakin kau hibur aku, semakin hatiku merasakan perih yang tak tertahan.

“Nanti kalau beasiswa sudah dicairkan, aku ajak kamu melihat kota Amsterdam.”

Dek! Janjimu yang terakhir ini sungguh membuatku terpana. Sesuatu yang belum
pernah terbayangkan. Sebuah kota tua, bersejarah, bunga tulip, kincir angin, negeri penjajah dan deretan ingatan seperti bintang-bintang di langit. Berkedip-kedip ke arahku. Aku seperti menggapainya sebentar lagi. Kita akan menikmatinya berdua.

Tiba-tiba aku ingat ayah yang bercerita banyak tentang negeri itu. Ayah memang tak pernah ke sana tapi ia tahu banyak tentang kota itu. Karena ayah pernah menemani peneliti dari sana waktu ia masih remaja. Ayah mengomandoi dua peneliti itu ke dalam
hutan. Melewati kebun durian kakek. Peneliti itu meminta agar dibawa ke situs sejarah penjajahan peninggalan bangsa mereka waktu menjajah negeri ini.

“Mereka baik-baik. Ayah digaji dengan gulden seharga lima kali lipat dari gaji buruh bangunan. Kami berjalan berjam-jam di hutan karena situs peninggalan itu terpisah-pisah. Bangunan tertinggal dan bangkai meriam. Mereka mencatat semua tanggal yang tertera di setiap bangunan dan bangkai meriam itu. Tak lupa memotretnya.”

Begitu cerita ayah kepadaku yang membuat impian tentang negeri itu makin nyata. Ayah juga diberikan majalah terbitan Belanda. Diajarkan satu demi satu bahasa Belanda. Dan aku jadi menerawang tentang hubungan dua negara yang telah lama bersauh pada sejarah. Aku suka sejarah yang jujur.

Dan angan nakalku membayangkan keindahan lukisan Rembrandt van Rijn, Johannes Vermeer, Jan Steen, Vincent van Gogh, Piet Mondriaan — seperti yang dimuat di majalah yang ayah miliki. Aku yakin kau akan membawaku ke sana. Kau tahu aku suka lukisan.

Mungkin juga ke Pasar Malam Besar di Den Haag. Ah, aku tak tahu seberapa jauh antara tempat yang satu dengan yang lain.Yang jelas, betapa senang hatiku jika itu jadi kenyataan. Tak lagi hanya angan-angan.

*

Ayah telah pergi tiga bulan lalu menghadap Yang Maha Kuasa. Sungguh aku kehilangan. Kau datang sebelum ayah pergi. Seperti sudah digariskan, kau datang menggantikan ayah di hatiku. Perkenalan kita dua tahun lalu membuat aku mencoba tegar. Masih ada kamu selain ayah yang pergi.

Ayah merestui hubungan kita. Kadang aku jahat juga, membandingkan kamu seperti ayah. Nyaris sama. Punya hobi dan pemikiran yang sama. Kadang aku juga kesal, jika kau datang ke rumah, ayah yang menemanimu, bukan aku. Kalian tampak akrab main catur dan bicara politik. Aku terpaksa harus masuk kamar atau menonton televisi. Ah. Sebuah kenangan amatlah pahit untuk diingat.

Ayah amat senang dapat teman sepertimu. Mungkin tersebab, kami tak punya saudara laki-laki. Sedangkan ayah merindukan anak laki-laki. Dan begitulah, kehadiranmu seperti pengobat hati ayah. Apalagi kau amat pintar bercerita. Tentang apa saja, dari hal sepele sampai hal yang rumit, dari hobi, politik hingga filsafat.

Kalian berdua, bagiku, laki-laki yang pintar dan berwawasan amat luas. Walau ayah hanya tamat Sekolah Rakyat tapi ayah punya wawasan yang cukup luas. Apalagi tentang republik ini. Pun tidak ikut dalam kancah politik dan kekuasaan, ia tetap tak ketinggalan sejarah dan informasi terkini.

Apalagi kau, seorang aktivis, intelek, berani dan punya semua yang dirindukan perempuan. Pun aku, perempuan yang kau anggap anggun dan mampu membahagiakanmu. Ah semoga kau tak sekedar merayu.

“Semasa muda kami dulu, Chairil Anwar itulah idola. Ia potret remaja yang patut jadi tauladan. Semangat juang yang termuat dalam sajaknya menenggelamkan kami dalam perjuangan,” ujar ayah.

Waktu itu ayah menerima buku yang kau berikan. Buku Sho Hok Gie yang difilmkan itu. Ayah senang sekali. Ia membandingkan Sho Hok Gie dengan Chairil Anwar yang sama-sama dewasa sebelum waktunya. Dewasa pikiran dan wawasan. Sayang keduanya cepat pergi. Mati muda.

Dan kini, ayah telah pergi. Pun kau juga telah pergi. Ku harap kau pergi untuk kembali. Aku mengizinkan demi masa depan kita. Kau melanjutkan kuliah. Kupikir wajar, kau memang pintar.
“Suci, tabahkan hatimu. Kita harus melewati perjuangan untuk menikmati kebahagiaan. Tanpa itu hubungan kita waktu suami isteri nanti akan hampa. Percayalah pada abang.”

Kau benar-benar arif. Aku selalu mendengar hikmah dari bibirmu bila kau berkata. Selalu aku dapatkan keperkasaan pada rahangmu. Juga selalu aku menangkap ketajaman mata elang yang teduh dari tatapanmu. Selalu aku bergetar menatapmu. Tak kuat aku menikmatinya lebih lama. Padahal aku mau. Aku hanya menunduk manja untuk itu. Seterusnya merebahkan badan ke dadamu atau juga ke bahumu.

“Semoga perjuangan kita berhasil.”

Begitulah yang mampu aku ucapkan. Kau puas.

*

Aku malas beranjak dari bandara ini. Seperti ada yang tertinggal setelah perpisahan tadi. Aku tak mengerti entah apa rasanya yang tertinggal itu. Bang Malin, kapankah aku menjemputmu di bandara ini? Satu tahun, dua tahun, atau tiga lagi? Sampai siap pendidikan magister atau sampai kau bergelar doktor?

“Tidak! Aku akan pulang setiap libur semester.”

Aku percaya sepenuh hati apa yang kau katakan. Semua ingatan yang pernah aku tangkap tentang kampus, kuliah, kota Amsterdam, negeri Belanda bergelayutan dalam ingatan. Walau aku tahu, mungkin saja salah aku membayangi hari-harimu dan tempatmu berada. Tapi aku sadar, itulah yang aku mampu.

Waktulah yang memaksa aku untuk beranjak dari bandara ini. Matahari segera pulang. Pertanda kegelapan segera turun ke bumi. Malam akan tiba. Ah, malam, selalu menetaskan mimpi.

“Masuk semester tiga aku akan melamarmu. Setelah itu aku ajak kamu mendampingiku membuat tesis. Kalau aku begadang di depan komputer, kau ada di sampingku sambil menyuapiku.”

Ah, Bang Malin. Kau seperti sudah menata sedemikian rupa setiap detik waktu yang kau miliki. Masa depan sudah ada dalam kepalamu.

“Kau tidak sedang merayu?”

“Dengan apa harus membuktikan harapan? Kalau ada berikan padaku.”

Kau memintanya padaku. Aku tak mampu memberikannya. Aku percaya apa yang
kau katakan. Aku hanya ingin kepastian dan mempertanyakannya. Sekali lagi, aku teramat percaya. Tak perlu ada bukti. Harapan adalah sebuah masa depan yang absurd.

“Ya, semoga jadi kenyataan.” Begitulah yang mampu aku ucapkan.

“Harus jadi!” Kau membentak.

Meyakinkan aku yang kadang memang terlalu pesimis menghadapi kenyataan. Lebih-lebih sejak ayah pergi. Kepasrahan kadang-kadang memang kerap datang walau ia tak diperlukan. Dan kau, teramat yakin. Seperti ayah yang amat yakin dengan pendapat-pendapatnya tentang negeri kita ini. Kadang-kadang ayah aku cap sebagai pengamat politik ulung. Ayah tertawa.

“Suci, ayahmu ini sudah hidup dengan asam garam. Kata Ibnu Khaldun, sejarah itu terus berulang sesuai dengan hukum alam yang berlaku.”

Ayah jago debat dalam berbagai hal. Pun juga kau. Apakah laki-laki memang seperti itu. Ah aku tak mengerti. Semoga perdebatan bukanlah sesuatu yang perlu diperdebatkan. Semacam keharusan untuk seorang laki-laki. Bukan dijadikan senjata untuk melumpuhkan wanita.

“Hidup harus yakin dengan apa yang dikatakan hati. Hati adalah nurani yang tidak bisa
dibohongi,” ujarmu setelah memaparkan pendapat.

Kalau aku diam. Kalah. Kau meledek dan tersenyum. Menjawil dagu, pipi atau rambut. Ah, Bang Malin, aku benar-benar bahagia kalau sudah begitu. Tapi Bang Malin, kini aku sendiri, rasanya tak sanggup berjalan tanpa dirimu. Mengingatmu, melihat foto di atas meja rias kamar ini, semuanya menggores rindu demi rindu menjadi luka demi luka yang harus aku tanggung di hari-hari mendatang. Belum satu hari, aku sudah merasakannya.

Malam telah larut. Aku terjaga. Rasanya mendengar tawamu berderai di ruang depan bersama ayah. Usia ayah kau kembalikan lebih awal. Seperti muda lagi. Ayah bercerita tentang teman-temannya yang kini telah sukses jadi orang hebat. Sementara, kau memaparkan tentang peta politik terkini. Duh, bayangan silam memang tak bisa dengan mudah untuk dilupakan. Ia melekat di atas kenangan.

Bang Malin, adakah hatimu sama seperti hatiku saat ini? Fotomu hanya tersenyum menatapku. Aku tak sanggup menatapnya lama-lama. Matamu serupa mata elang. Tajam dan menukik ke relung jiwa yang sepi ini. Mataku telah perih. Tapi rasa kantuk tak jua datang. Ingin aku segera pagi. Aku coba membasahi kerongkongan yang kering. Sereguk terasa cepat mengalir di hati yang kemarau. Pecah-pecah serupa sawah-sawah yang rindu air.

“Prrraaang!” Gelas yang masih berisi air pecah. Jatuh. Aku khilaf. Meletaknya di ujung meja. Suaranya lantang membelah sunyi. Meretakkan hati. Pecahannya berserakan di lantai. Aku takut melangkah. Beling-beling itu amat tajam. Aku tak mau kakiku terluka.

*

Di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama, Malin mereguk zat arsenik. Seseorang telah memasukkan zat beracun itu tanpa ragu ke makanan untuk Malin di atas pesawat yang ditumpanginya. Jantung Malin yang bugar memompa zat beracun itu ke seluruh tubuhnya. Beberapa jam sesudahnya, nyawanya tak tertolong. Malin tewas sebelum melangkahkan kakinya di kincir angin. Sebelum semua cita-cita usai digapai.

*

Semalaman aku tak bisa tidur. Pecahan gelas dan tumpahan air itu membuat aku harus keluar kamar. Mengambil sapu dan lap. Membersihkannya dengan cepat. Duh, satu beling itu menancap jua ke kakiku. Setetes darah menyapa malam. Aku takut dengan darah. Cepat-cepat aku tutup luka itu tapi perihnya tak pernah tertahan. Perih yang tak patut aku ceritakan. Teramat dalam teramat sakit. Aku tak mengerti untuk menyatakannya. Entahlah.

Dan demikianlah malam menjadi pagi. Pagi menyapa dengan seutas duka dan sebongkah petaka. Bang Malin jadi berita di koran-koran, televisi, radio-radio. Berita yang tak pernah aku harapkan. Sebentuk badai yang membawa tubuhku terhempas ke setiap jengkal napas. Jangankan meronta, bergerakpun aku tak sanggup. Tubuhku, tulangku, hatiku, remuk redam ditikam rasa. Rasa yang tak lagi aku kenal. Sungguh.

Aku tak kuat menerima kenyataan ini. Siapa yang telah mengambil nyawa Bang Malin? Tuhan, kenapa tak kau kabulkan rencana kami? Kenapa dua laki-laki yang pernah ada dalam hidupku kau ambil cepat? Apa kau juga menyayanginya? Seperti aku menyayangi mereka?

Demikianlah pada hari-hari selanjutnya, setelah pemakaman hitam tanpa Bunga Tulip yang kau janjikan itu, terbesit kabar ada racun di tubuhmu. Siapa yang telah tega memasukkannya ke dalam makananmu?

*

Jiwaku benar-benar lebur. Hancur. Dunia gelap. Aku tak lagi mampu berdiri. Aku ingin pergi menyusul mereka. Menyusul ayah, bang Malin, ibu dan mereka yang telah pergi ke hadapan Ilahi. Aku ingin bertemu mereka. Bersama mereka. Di sini, di dunia ini, aku tak lagi mau. Hidup tak lagi berarti. Apa arti hidup jika sepi dan sendiri menjadi teman sejati? Aku tak tahu jawabnya.

Pada titik yang sulit aku percaya, tumbuh rasa benci. Entah kepada siapa. Lahir keberanian entah kepada siapa. Aku ingin melawan. Melawan apa saja.

“Suci, kau tak sendiri. Berjuanglah.”

Pesan Bang Malin waktu ayah meninggal tiba-tiba menyeruak dalam ingatan. Rahang
yang jantan itu membangkitkan semangat.

“Berjuanglah untuk tegar!”

Ah Bang Malin, sungguh aku tak memiliki siapa-siapa lagi. Dengan apa harus aku perjuangkan hidup ini? Kau telah pergi. Begitu cepat. Secepat burung besi yang membawamu ke awan waktu itu.

“Bunga tulip hadiah pertamaku nanti untukmu. Aku akan kirim langsung dari kebunnya.”

Pesanmu masih terngiang juga. Semua pesan yang terucap tak pernah terlupakan. Pesan dengan harapan dan senyuman.

Bang Malin, secepat waktu yang berlari, aku kini akan berjuang. Berjuang untuk tahu siapa yang telah tega memberikanmu zat terkutuk itu. Sampai ujung waktu yang tak bertepi, aku berjanji akan tetap mencari. Sampai ujung usia yang tak lagi memiliki arti ini. Sampai ujung negeri manapun aku akan tetap mengejarnya. Siapapun dia. Biar nak hilang sakit di dada.[]

Pucuk Andalas, 10 Oktober 2006

Catatan:

Dimuat di www.ranesi.nl, 27-11-2006, juga dibacakan di radio nederland siaran indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: