Oleh: meysanda | April 24, 2008

PEMIKIRAN

Pilkada Vs Pil Pahit

OLEH ABDULLAH KHUSAIRI

WAPEMRED POSMETRO PADANG

ABDULLAH KHUSAIRI4Pesta demokrasi itu sudah menghangat. Peta politik saban waktu dibicarakan. Siapa sedang melakukan apa, dimana. Siapa mendukung siapa. Partai apa sedang bagaimana, dan seterusnya.

Pokoknya, muncul banyak prediksi, muncul banyak pengamat. Tanpa disebut sok hebat, yang jelas mereka memiliki alasan tersendiri siapa yang bakal terpilih dalam sebuah pesta nantinya.

Demokratisasi di negeri ini sedang berlari. Sistem demokrasi sedang mendapat tempat, setelah kapitalisme, komunisme dan sosialisme dianggap gagal. Tampaknya belum ada tanda-tanda nilai-nilai baru selain demokrasi yang bisa dijalankan di negeri ini. Demokrasi sebagai sistem tampak akan bertahan sekian puluh tahun mendatang. Yang jelas, sampai pula masanya nanti akan ditemukan pemikiran baru. Demikianlah, sebuah pemikiran dipakai, hidup di tengah ummat. Hidup dan akan mati.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) —sebagai proses demokratisasi— di empat kota, di Sumbar sedang dalam proses [Kota Sawahlunto, 13 Mei 2008, Kota Padangpanjang, 9 Juli 2008, Kota Pariaman 28 Juli 2008, Kota Padang 15 Oktober 2008, www.posmetropadang.com . Titik klimaknya adalah masa kampanye dan pencoblosan. Antiklimaknya adalah penghitungan suara. Di sinilah penentuan siapa yang menjadi pemimpin kita dalam lima tahun ke depan.

Adalah wajar, ketika semua pasangan kandidat bahu membahu, merasa yakin dengan pola dan pemikirannya akan bisa merebut hati rakyat. Suara demi suara akan direbut. Pemilihan langsung memang membutuhkan kerja keras agar suara bisa diraup lebih banyak.

Maka kantong-kantong suara kini dikunjungi. Beragam acara digelar, beragam proposal diajukan, titik tolaknya adalah pesta demokrasi dan penggalangan massa dan suara. Semuanya memberi arti meriahnya pesta demokrasi itu.

Sampai pada suatu saat, penghitungan suara dimulai, degup jantung mulai kencang, penentuan menang dan kalah harus diputuskan.

Di sinilah munculnya pil pahit pertama. Semacam ‘tablet demokrasi’ yang harus jadi obat dan pelajaran bagi banyak pihak; bahwa demokrasi itu mahal. Membutuhkan modal dan pengorbanan. Pertanyaannya sederhana, berapa banyak uang di kantong anda?

Ingat, yang menang satu pasang saja. Artinya, hanya satu yang tidak akan mendapat tablet demokrasi itu.

Maka, tablet ini akan mengobat rasa sesal setelah merasakan kekalahan itu teramat menyakitkan.

Berapa dana kampanye terkuras oleh tim sukses? Berapa banyak waktu dan tenaga yang sudah dihabiskan?

Sesal kemudian selalu tak berguna? Karena semuanya memang berawal dari syahwat politik yang harus terpenuhi seiring dengan terbukanya reliuting demokrasi.

Namun ada yang patut diingat sampai pilkada usai nanti, catat apa yang ditawarkan para calon pemimpin kita program kerja, jika mereka terpilih. Kontrol terus, terealisasi atau tidak apa yang dikatakannya. Pemimpin yang baik akan selalu ingat janji, karena janji adalah hutang.

Inilah sebenarnya substansi dari pemilihan pemimpin. Nasib akan disisipkan dalam kantong safari mereka.

Kalau salah pilih sopir, bakal runyamlah perjalanan pembangunan nantinya. Oleh karenanya, satu suara adalah peruntungan nasib yang mesti diserahkan kepada pemimpin. Jadi, pilkada bukan sekedar pesta, setelah usai lelah didapat. Pilkada adalah moment menentukan nasib rakyat, nasib kita, lima tahun mendatang. Satu suara adalah nasib kita tidak ikut pula menelan pilpahit tadi. Tablet ini bisa dengan sendirinya kita telan bila keliru memilih pemimpin. Akibat paling fatal adalah, tidak ada yang perubahan berarti dalam kehidupan kita setelah terpilih pemimpin baru. Sebagai rakyat, kita begini-begini saja. Miskin dan melarat. Susah mendapat pekerjaan dan harga barang kebutuhan hidup melangit.

Oleh karenanya, kita memang harus menyatakan pilkada mesti sukses memilih yang terbaik dari calon yang ada. Karena kita berharap ada perubahan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Jika tak juga berubah kehidupan kita karena demokratisasi yang kita jalan ini, ajaklah Peterpan bersenandung agar didengar para pemimpin;
kutanya malam/dapatkah lihat kau lihatnya perbedaan/yang terungkapkan tapi/mengapa kau tak berubah/ada apa denganmu? []


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: