Oleh: meysanda | April 20, 2008

ESAI SASTRA

PAKAI REFERENSI SASTRA

Apa jadinya jika sastra tak lagi menjadi kebutuhan masyarakat. Karya seni hanya dihargai pelepas dahaga. Ia bukanlah kebutuhan dari hati sehari-hari. Karya seni, baik sastra maupun rupa, hanya pelengkap bacaan hari minggu dan kunjungan di hari libur. Cuma segelintir orang yang mau dan mampu menikmati.

Bagi yang berminat, berkumpul dan muncul komunitas seni yang asyik dengan dunianya, sementara di dunia yang lain, di tempat yang lain, seni hanya “bahan jual” kapitalis.

Realitas ini agaknya masih banyak yang menggugatnya, tetapi sekedar wacana tentu mestinya selalu diungkapkan dengan harapan, karya seni dihargai bukan sekedar materi, tetapi juga dihayati, dirasakan dan dinikmati.
Kita mestinya berbicara dan bertanya, kemana guru bahasa Indonesia, kemana guru seni? Lalu bertanya lagi, dimana berada pejabat berkompeten dalam bidang seni? Apa dan bagaimana gerakan agar sastra tak sekedar luapan personal, dunia kesendirian? Tetapi lebih dari itu, sebagai mata dan cermin budaya yang sedang berjalan. Diaspresiasikan dalam banyak bidang dan kesempatan.

Kita belum pernah mendengar pejabat memakai referensi dari puisi dan novel orang terkenal, karena memang tak pernah membacanya. Atau tidak pernah terpikirkan untuk mencintai, menikmati, menghayati karya sastra. Ya, di negeri yang membaca hanya berarti melihat discon-discon swalayan dan iklan lowongan kerja, tentu sangat butuh political will terhadap karya sastra. Bukan dalam bentuk materi saja, tetapi juga apresiasi. Itulah maksudnya.

Seorang teman pernah bercita-cita, jika saja di Indonesia dalam 365 hari alias satu tahun ada hari sastra maka pada hari itu setiap orang membaca dan menikmati karya sastra, tentu saja suasananya jadi lain.

Atau setidaknya, ada banyak orang yang menghayati dan membaca puisi di mana ia sedang berada. Imbasnya, tak ada memikirkan kejahatan dan menyakiti satu sama lain. Dunia hening menikmati sastra beralaskan nurani. Lalu, mengedepankan nurani dari sastrawi, berharaplah kita tak ada lagi ketegangan dan perang mulut. Politik kerat kayu jauh dari budaya kita.

Ini memang persoalan hati dan nurani. Sastra adalah dunia yang damai membaca dengan hati nurani. Beda dengan masalah Pilkada, bercerita tentang kepentingan dan kekuasaan. Seorang teman pernah berkata ekstrim, politik itu kejam. Politisi kadang-kadang tak memakai hati nurani. Terlepas salah atau tidak, kiranya ini menjadi catatan, bahwa menggalakkan sastra kepada pejabat dan kita semua agaknya akan menumbuhkan nurani yang telah lama mati dan rasa dan kasih sayang yang terkubur dalam-dalam.

Harapan lain, tentu saja dengan meminati sastra, ada bahasa baru yang lahir dalam keseharian. Yang tulus dan lemah lembut. Tidak serampangan dan kadang-kadang sangat kasar.

Aduh, orang yang selalu seperti itu–kasar, apakah tak ada nurani atau memang tak perlu sastra. Atau memang tak ada kamus sedih, bahagia, kasih sayang. ”Mungkin hanya punya kamus, hidup adalah kekerasan, kekuasaan dan kepentingan,” ujar seorang teman.

Bisa jadi ya, tetapi yang jelas hari sastra nasional agaknya perlu dipikirkan. Dengan demikian, sastra tak masuk dalam lingkaran politik, atau sastra hanya terpinggir di alam yang sunyi dan kesendirian. Seterusnya, sastra tak lagi menjadi dunia yang miskin dan miris. Karena sastra adalah juga memiliki kazanah prestasi, seperti halnya olahraga. Tetapi entah kenapa, alokasi dana olahraga lebih banyak dari alokasi sastra dan seni budaya.

Pendapat ini, bisa jadi salah, kita selama ini tak begitu menghargai sastra, karena nurani kita terbilang sudah dihabisi oleh rayap kapitalisme. Nurani kita tertatih-tatih untuk menyatakan bagaimana kebutuhan rohani, terhadap keindahan dan kedamaian. Mari kikis pendapat sastra sesuatu yang tidak penting. Raut lagi rasa keindahan dan kedamaian dari sastra dan seni budaya. Ingat, dengan ini—salah satu—-kita tahu masih punya nurani yang tajam dan bersihkah kita.[]

Pernah dimuat di Harian Pagi Padang Ekspres, ketika redaktur budaya Alm. Ode Barta Ananda terus menggelitik penulis agar rajin menulis sastra.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: