Oleh: meysanda | April 10, 2008

MIMPI TUA

Baginya, membuat pagi menjadi indah cukup cuci muka, kopi dan rokok kretek yang dinyalakan lalu dihisap. Maka merebaklah aroma racikan
tembakau ke seluruh ruangan dihembus gemulai angin pagi bersama aroma kopi hangat. Dan pagi sangat indah sekali terasa…??
Begitulah, aktivitas pagi hari Tuan Leman semenjak masuk masa pensiun beberapa tahun silam. Menikmati embun dan harum melati di beranda
bersama sang istri. Mengenang masa muda yang bergelora, masa jaya yang bergairah. Pagi dengan rindang pepohonan di halaman rumah,
mentari mengintai di balik daun-daun Melinjo. Kuning keemasan sinarnya menerpa kaca jendela yang kusam, lama tak dibersihkan. Keok
ayam dan itik memberikan nada desa yang pasrah.
Kakek enam cucu dari lima anak ini benar-benar sangat menikmati hari- hari setelah pengabdiannya sebagai seorang pejabat. Sisa ketampanan
di raut wajahnya masih tampak tegas. Gaya berbicara yang dulu berapi- api sesekali masih tampak. Kini sudah bertambah pula dengan nyinyir.
Pertanda melewati usia tua.
Sayangnya, selama pensiun, tak lagi ada tempat resmi untuk berbicara di depan khalayak. Hanya sesekali ia mendapat kesempatan bisa
mengekspresikan dirinya secara tidak resmi jika bertemu teman lama atau kedatangan tamu. Satu tempat yang sering menjadi ajang pertemuan
itu adalah tempat mengambil dana pensiun. Bila bulan muda tiba, semangat muda juga datang, maka ia berangkat ke bank itu dengan
segala keceriaan pagi. Di sana ia bertemu teman lama.
Dan, menjelang siang, dia akan bercerita panjang lebar tentang dunia yang pernah di dalam kantong celananya. Di hari-hari biasa, ia lebih
banyak membaca koran, mendengar radio, menonton televisi. Sesekali melagukan dengan sumbang tembang lama yang populer pada masa mudanya.
Begitulah lelaki berkaca mata tebal ini menelan hari demi hari. Tak banyak lagi kesibukan menghukumnya. Dari luar tampak ia menyimpan
kebahagiaan dan ketentraman. ***
Kedamaian Tuan Leman tiba-tiba terusik beberapa hari terakhir. Ia diusik oleh mimpi yang berkelibat setiap tidurnya yang sudah beberapa
kali datang. Mimpi ini membuat Tuan Leman berkeringat dingin sesudah mimpi berlalu. Bagaimana tidak? Tuan Leman didatangi seorang laki-
laki yang menawarkan Tuan Leman menjadi tuhan. Persyaratannya tidak terlalu susah untuk dipenuhi Tuan Leman. Begitu persyaratan dipenuhi,
ia segera menjadi tuhan.

Dipilihnya Tuan Leman karena ia pernah menduduki jabatan strategis di
masa-masa sulit. Ia berhasil membawa masyarakat hidup makmur.
Begitulah lelaki dalam mimpi itu memberi alasan.

“Untuk itu, tak ada alasan, Anda segera menjadi tuhan dan penuhi persyaratannya!” Lelaki itu berlalu dan Tuan Leman terjaga. Tak ada
kesempatan Tuan Leman untuk bertanya lebih lanjut ketika laki-laki itu datang. Bila ia terjaga, keringat dingin mengucur deras dari
tubuhnya yang segera ringkih. Wajahnya pasi.

“Benar-benar konyol. Tak mungkin, itu tak mungkin.” Tuan Leman menyatakan keresahannya sambil geleng-geleng kepala.

“Ah, jangan terlalu percaya. Mimpi adalah bunga tidur, kenapa diambil pusing pula,” sang istri menyela. Ia mencoba untuk menenangkan suaminya.

Ia tahu suaminya tak bisa begitu saja terpengaruh. Hanya saja, suaminya acap terjebak dengan hal-hal sepele. Itu sering terjadi.

“Tetapi, jika mimpi itu bunga tidur. Bukankah sering terjadi, mimpi juga akan berbuah kenyataan? Nah…,” ungkap Leman membantah kenyataan demi kenyataan dan hukum akal yang bermain di kepalanya.

Sang istri yang mengerti luar dalam tentang suaminya mengurut dada. Ia memahami ambisi masa muda sang suami memang belum pudar, walau waktu memakan usia. Ia tahu betul, obsesi, harapan, apa saja atas nama untuk ketenaran dan kekuasaan membuat dada suaminya panas. Keinginan berkuasa Tuan Leman ini memang besar. Ia dengan strategi apa pun akan berusaha untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan seni dan strategi perang ala Sun Tzu. Dalam banyak pidato ia mengutip Sun Tzu: Pertahanan yang baik adalah menyerang. Sadar posisi diri, kawan dan lawan. Naluri yang tajam dan peka terhadap kompetisi politik.
***
Mimpi itu terus-menerus mengganggu Tuan Leman. Sayang sekali, setiap mimpi itu datang, Tuan Leman tak bisa berbicara dan berkomunikasi dengan laki-laki dalam mimpi itu. Lama-lama Tuan Leman jadi ketakutan, keheranan bercampur dalam kebingungan.

Dalam pemikiran sehat yang datang pada Tuan Leman, orang kaya pemilik tanah dan sawah ini memang tak bisa menerima apa pun terhadap mimpi itu. Ia berusaha untuk melupakannya. Tetapi, sejauh ia berusaha untuk melupakannya, sedekat itu pula ingatannya datang terhadap mimpi itu. Diam-diam ia jadi tertarik untuk menjalankan tawarannya itu. Menjadi tuhan? Sesuatu yang sangat tak mungkin, tetapi betapa hebatnya kalau itu bisa terjadi.

“Itu benar-benar bunga tidur. Tidak akan pernah berbuah,” tegas Tuan Leman dalam ragu dan mau yang mengganggu. Enggan berkelindan menggerus rayu mendayu. Tuan Leman berjalan di pematang yang kecil ketika padi masih baru ditanam, angin deras seperti segera badai. Ia seperti ayam termakan sepotong rambut. Diam merenungi mimpi yang selalu datang.

Melihat gelagat yang tidak baik akhir-akhir ini suaminya, sang istri resah. Gelisah. Ada keinginan untuk memanggil psikiater untuk suaminya tetapi ia takut suaminya marah. Ingin juga menelepon anak- anak di kota, tapi apakah itu mungkin, Lebaran saja mereka jarang pulang. Karena takut, ia coba memendamkan semua kemauannya demi menjaga hati suaminya yang sedang dihadang gelombang.

Sebenarnya, ia bangga sekali dengan kesuksesan sang suami. Hingga saat ini ia kagum dengan nama besar suami tercintanya itu. Amat banyak pujian untuk suaminya, ia dengar langsung dari orang-orang yang datang kepadanya. Walau tetangga sempat mengungkapkan kalau- kalau suaminya mengidap post power syndrom. Ketika kekuasaan tak ada lagi di tangan, membuatnya sedikit mengalami gangguan kejiwaan.

“Tetapi aneh, kenapa baru sekarang. Ia sudah lama pensiun. Lima tahun lalu,” sang istri mencoba mengungkap alasan kepada dirinya sendiri.

Orang mengenal Tuan Leman seorang yang sukses dalam banyak hal. Ia kaya pengalaman baik-buruk, asam-garam dunia. Tetapi yang sangat diingat orang, ketika ia sedang berkuasa, perintah yang datang dari mulut dan telunjuknya harus diselesaikan sesuai dengan maunya. Tak mau mendengar alasan jika ada kegagalan. Sungguh kadang-kadang tidak masuk akal. Satu lagi, ia paling tak suka orang yang membantah. Ia benar-benar sok tahu. Padahal, mungkin saja dalam banyak hal bisa diketahuinya, tetapi dalam satu hal harusnya ia belajar dan bertanya pada ahlinya. Itulah yang tidak berlaku pada Tuan Leman. Tetapi, kelebihannya, ia solider. Kalau ada temannya yang sedang kesusahan, bukan kepalang dia akan menolong. Ia tak perhitungan kalau sudah begitu. Sayangnya, kalau sudah dirayu dan dipuji, ia sering kali lupa diri, maka alamat habislah dana taktis yang harusnya ia manfaatkan untuk hal yang lebih baik. Itulah beberapa hal dari sekian banyak ingatan orang terhadap Tuan Leman yang sukses. Sekali lagi, masa lalunya adalah pahit, manis, dan getir..?

Suatu hari pernah terjatuh akibat sakit kepala yang sangat parah bersamaan dengan naiknya asam urat yang ada di tubuhnya. Ini persis seperti orang besar seperti Napoleon Bonaparte, yang tak takut dengan seribu tentara, tetapi sangat takut dengan surat kabar. Tuan Leman memang tak kuat dikritik, ia jatuh ketika membaca tajuk rencana sebuah surat kabar yang menusuk dadanya.

Orang besar tak selalu berdjiwa besar. Orang pintar seringkali bertingkah seperti kekanak-kanakan. Orang bidjak memang banjak tapi soesah dicari. Karena itu, kekoeasaan itu candoe, ia tak bisa lepas setelah mendapatkannya. Orang-orang jang selalu meminta pengakoean atas kepintarannja. Biasanja adalah orang bodoh. Dan, orang yang selaloe berkoar-koar sok tahoe biasanja dia tidak tahoe apa-apa. Dan, amatlah soesah saat ini, mencari orang yang adil kepada seorang moesoeh, sebuah tindakan terpoeji pada zaman nabi. Wahai bapak pedjabat! Bersikap baik, lebih baik dari pada memboeat diri menderita dan orang lain tertawa. Walau kau bentji pada seseorang, djangan sesekali berboeat tidak adil padanja, karena, doa orang jang dizhalimi sungguh didengar-Nja. Itulah seboeah derita ketika kedjoedjoeran mendjadi djalan hidoep nantinja. Wahai, boeka kaca mata keloearlah dari roeanganmu, pandanglah doenia.

Akibat membaca tulisan itu, Tuan Leman dibawa ke rumah sakit. Ia terbaring selama empat hari. Pulang sebelum benar-benar pulih karena permintaan anak bungsunya yang bongsor. Itulah salah satu episode hidup sang tuan yang waktu itu cukup mengerikan bagi banyak orang.
“Ia cukup tegar,” cerita salah seorang temannya. Hanya saja, begitu ia pensiun, satu satu orang-orang terdekat Tuan Leman menghilang bak ditelan bumi. Semua saluran komunikasi putus. Hal ini membuatnya pulang ke kampung halaman dan menghuni rumah tua yang sudah lama ditinggalkan sanak saudaranya dulu. Cucu dan anak-anaknya pun tak banyak memberikan support, hanya sapaan lewat telepon seadanya, jika diperlukan.
*
“Kalau memang benar mimpi itu, saya tunggu nanti malam. Saya bersedia memenuhi persyaratannya,” ujar Tuan Leman di tengah kebingungannya.
Istrinya tambah bingung.
“Pak, coba Bapak ke orang pintar dulu,” usul istrinya, sambil melirik polos ke sang suami. Sisa kemesraan masa muda yang masih mengilau.

“Untuk apa kalau hanya membuat mereka tertawa. Sekarang saya akan menikmati mimpi itu kalau ia datang. Saya siap lahir batin,”
ungkapnya yakin dan tak goyah sedikit pun. Masih tetap ada nada kebimbangan.

Malam yang gelap. Kelam yang hitam. Entah kenapa mimpi itu tak pernah datang. Tuan Leman menanti-nanti dan mencoba untuk tidur secepatnya, namun percuma mimpi itu tak pernah datang. Hal ini pula yang membuat Tuan Leman bertambah bingung. Ketika kemauannya menjadi tuhan memuncak, justru mimpi itu tak datang-datang. Diam-diam, istrinya lega dengan mimpi yang tak pernah datang lagi ke suaminya.

Bagi Tuan Leman, ini seperti sebuah penghinaan kepada dirinya. Tetapi siapa yang harus dimarahi? Ketika mimpi itu tak datang lagi untuknya.

“Ke mana kau wahai laki-laki dengan wajah kelam?” ujarnya geram, ketika akan tidur. Matanya tak mau terpejam. Diam-diam Tuan Leman
beranjak bangkit dari pembaringan. Ia keluar kamar hati-hati sekali, takut istrinya bangun. Ia ke dapur mencari sesuatu. Malam amat pekat.
Ia meraba-raba dan mendapatkan hulu belati.

“Crassh.” Ia menusuk dadanya dengan belati itu. Di gelap malam yang hening, Tuan Leman menggelepar-gelepar di dapur meregang nyawa. Darah mulai berceceran dari ujung hulu belati yang tertancap di dada kirnya. Lantai merah, mengalir, kental. Tuan Leman telentang sesekali ngorok, satu-satu napasnya dapat ditarik. Ia kalah dengan mimpi yang pernah datang kepadanya. Di akhir sekarat Tuan Leman, seperti ada tangis yang tertahan dari tenggorokan sang tuan. Malam menggigil, satu-satu gerakan Tuan Leman, lalu diam selama-selamanya. Kini rohnya benar-benar menuju tuhan. [] Padang, 15 Oktober 2005
Judul Cerpen : Mimpi Tua
Ditulis Oleh : Abdullah Khusairi
Dimuat : Jawapos Minggu 25 Nopember 2007


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: