Oleh: meysanda | April 10, 2008

Catatan dari Pelatihan Penulisan KNPI Payakumbuh

Guruku Rindu Menggali Ilmu

Pelatihan-pelatihan teknik dan akademik untuk guru sekolah mestinya digalakkan di setiap daerah. Buktinya, ternyata mereka merindukan untuk jadi “murid” kembali.

Abdullah Khusairi—Payakumbuh

Siang itu, para guru tampak antusias mengikuti sesi terakhir yang paling rawan. Rawan karena siang itu terik mentari seperti menembus ruang SMAN 3 Payakumbuh. Tentu saja, rasa kantuk, panas terik, menyerang mereka yang didominasi guru-guru dari kaum ibu. Tetapi, jangan disangka mereka kalah dengan kondisi tersebut, mereka ternyata masih tetap semangat sedari pagi hingga siang mengantar senja. Luar biasa.
“Saya cuma mau tanya, siapa yang sudah baca tetralogi Laskar Pelangi karya Andre Herata,” penulis mengajukan pertanyaan. Cuma satu yang menunjuk tangan. Seorang guru berjilbab, masih muda dan langsung menyebut judul-judul karya selanjutnya. Dan sedikit menceritakan kisah-kisah pendidikan di dalamnya.
Penulis terhenyak. Inilah guru masa depan, itulah yang sempat terpikirkan. Tetapi anggapan itu hilang, ketika ditunggu-tungu ternyata hanya satu-satu guru yang baru membaca buku fenomenal di kalangan pendidikan dan pembaca saat ini. Buku ini, konon sebentar lagi akan difilmkan oleh Sutradara kondang Riri Reza dan Mira Lesmana. Bisa-bisa mengalahkan Ayat-Ayat Cinta yang sedang booming saat ini. Karena, setting film tentu saja akan mengambil nuansa laut dan kepulauan Belitung, bukan suasana super mewah, kuliah di Mesir sana, seperti di dalam Ayat-Ayat Cinta.
Ketika didesak dengan pertanyaan, siapa yang sudah baca Novel Ayat-Ayat Cinta, ternyata sangat mengembirakan. Dua orang guru, tetapi salah satunya tetap yang menunjuk ketika pertanyaan tentang Laskar Pelangi. Ah, sedikit mengecewakan. Diam-diam bulu roma penulis menggidik sendiri, entah kenapa. Bisa jadi, pertanyaan itu terlalu cepat didesak kepada guru-guru yang memang tidak ada waktu untuk melihat perkembangan dunia tulis menulis. Mereka telah asyik dengan tugas mengabdi sebagai guru di daerah-daerah pelosok. Miris sekali bila diingat hal ini. Tetapi bagaimana mungkin, bila seorang guru tidak menguasai perkembangan dunia pendidikan sekitarnya, sementara ia mengajar ilmu kepada muridnya. Apakah ilmu memang tidak mengikuti perkembangan? Lagi-lagi pertanyaan ini mesti ditepis jauh-jauh. Pasti ada yang peduli untuk menjawabnya nanti.
Pelatihan ini ditaja oleh KNPI DPD Kota Payakumbuh bekerja sama Pusat Bahasa Depdiknas RI dan SMA 3 Payakumbuh. Tajuk acara diberikan Pelatihan Tata Bahasa dan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru SD/SLTP/SLTA se Kabupaten 50 Kota dan Kota Payakumbuh, bertempat di Aula SMA 3 Payakumbuh, 20-23 maret 2008. Tema yang diangkat, Guru Maju dan Sejahtera Generasi Mendatang Lebih Cerdas dan Berkualitas dan Saatnya Pemuda Bangkit! Berkarya dan Berprestasi.”
Waktu berlalu begitu cepat terasa, materi yang penulis sampaikan, Teknik Menulis Artikel Koran, mendapat sambutan hangat. Tak henti pertanyaan diajukan para guru agar bisa menulis di koran. Ada keinginan yang terpendam. Ada rindu yang tenggelam. Ingin nama mereka tampil menghiasi koran-koran. Mereka memang harus diberi tempat yang layak untuk mengapresiasikan suara mereka di ranah publik. Jangan biarkan mereka tenggelam dan diam seribu basa dibawa nasib.
Tak satu pun kelihatan, dari seratusan peserta guru SD tersebut, yang tidur di saat rawan itu. Semua melihat ke layar LCD di sudut ruangan, yang berisi materi makalah yang disiapkan. Mereka rajin mencatatnya.
“Sering-sering acara seperti ini pak, kalau kami mengirim tulisan, jangan lupa jadi prioritas,” begitulah permintaan lugu seorang guru dari Pangkalan, daerah perbatasan Sumbar-Riau yang beberapa hari lalu jalannya terputus.
Menurut Tenny Putri, ia memang memimpikan jadi penulis aktif, tetapi kesempatan tidak ada. “Di kampus, beberapa tahun silam saya juga mendapatkan ilmu seperti ini, tetapi tak pernah kesampaian untuk mengirim karya. Butuh bimbingan dan disiplin agar tetap menulis,” ujarnya setengah putus asa usai acara kepada penulis.
Suara guru Tenny adalah mirip dengan suara guru yang lain. Mencoba untuk bangkit dari sudut kota dan sekolah yang kurang terperhatikan oleh pihak pengambil kebijakan. Mereka butuh informasi, pendidikan yang terus menerus, mengikuti perkembangan agar tidak tertinggal dari anak didik yang justru lebih maju dan berkembang.
Buku-buku baru mereka tidak mendapatkannya, selain buku kurikulum yang mengikat mereka untuk berpikir sesempit kurikulum yang dibuat. Apa boleh buat, sistem pendidikan telah mengepung mereka. Menulis jika didesak oleh formalitas tunjangan atau untuk mencapai pangkat. Poin penulisan ilmiah mendapat kum (point) tinggi untuk kepangkatan. Tetapi, kesempatan, lagi-lagi memang jarang berpihak kepada guru-guru daerah ini.
Agaknya, inilah catatan penting bagi pemerintah daerah agar guru-guru, tenaga pendidik garda depan di sudut-sudut daerah, diberi kesempatan untuk mendapat informasi yang setara dengan guru-guru di kota-kota besar. Mereka sudah punya modal pengabdian yang besar, militansi sebagai pengajar pelosok yang mau bangkit. Ingat, kesempatanlah mereka yang tak punya.
Ketua DPD Kota Payakumbuh, Wendra Yunaldi, SH MM, ketika diminta komentarnya, sangat puas dengan acara yang digelar ini. “Sebuah bentuk pengabdian dan terobosan dari teman-teman KNPI. Program KNPI Payakumbuh, mencoba membangunkan, membangkitkan, semua pihak agar peduli dengan persoalan. Salah satunya adalah pendidikan, dimana elemen penting itu adalah guru, sarana dan kurikulum. Nah, untuk acara ini, fokus pertama adalah membangkitkan kesadaran guru untuk menulis. Lalu menularkannya kepada siswa-siswi. Maka, dapat dibayangkan, beberapa tahun mendatang akan muncul penulis handal dari sini,” papar tokoh muda yang juga aktif menulis ini.
Tak tanggung-tanggung, KNPI Kota Payakumbuh juga menghadirkan pakar
dari Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta, Suladi.
Suladi menyampaikan sejumlah materi seputar penulisan karya ilmiah, ejaan, bentuk dan pilihan kata, serta kalimat dan paragraf dalam bahasa Indonesia. Suara yang keras dan gaya yang komunikatif, membuat para guru tertarik dengan materi Suladi. Alhasil, jadilah materi yang berat itu bak air mengalir saja.
Wendra Yunaldi juga mengaku, puas dengan banyaknya peserta yang mengikuti pelatihan. Kesuksesan ini akan dipertahankan untuk melanjutkan program-program lain. “DPD Payakumbuh mencoba menjadi motor penggerak para muda Payakumbuh yang progresif untuk maju dan terdepan,” tegas Wendra.
Tentu saja, ini sebuah program berani dan mulia.***


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: