Oleh: meysanda | Oktober 17, 2006

RASA AMAN

Sesuatu terasa sangat berharga jika ia sudah tak ada lagi. Jika ia ada, sepertinya tak berharga atau kita sendiri kurang menghargainya. Begitulah sifat manusia, kurang menghargai setiap nikmat yang sudah didapat.

Sekedar misal, kesehatan jasmani dan rohani yang disepelekan. Tidak olahraga (untuk jasmani) dan tidak pula berdoa dan ibadah (untuk rohani). Padahal, keduanya adalah kebutuhan jasmani dan rohani.

Hal itu pula yang terjadi dalam keseharian kita akhir-akhir ini. Rasa aman yang kita miliki selama ini seperti tak begitu berharga. Kita tak perlu mengingat-ingat Pemilik rasa aman, seperti kita melupakan pentingnya kesehatan. Padahal, kita meminjam rasa aman itu dari pemiliknya. Kita pinjam semua nikmatnya. Rasa aman, rasa bahagia dan sekaligus rasa takut. Itulah fitrahnya manusia.

Akibat tidak terlalu mementingkan dan tidak merasa pentingnya rasa aman yang telah terpinjamkan, maka kita poya-poya ‘kan rasa aman itu. Kita cari rasa takut, seperti berminatnya kita dengan film-film horor. Kita seakan-akan dibawa untuk takut. Secara sadar, kita membutuhkan rasa takut itu.

Seterusnya kita tak beribadah untuk mensyukuri nikmat rasa aman itu. Karena memang kita tak merasakan harga sebuah rasa aman. Atau juga—bagi yang belum merasakan sakit—menyepelekan sehatnya diri kita selama ini.

Di atas kelengahan dan kealfaan itulah, datang cobaan dari Allah SWT. Rasa aman yang ia miliki ditarik ke pelukan-Nya. Maka muncullah rasa takut kita yang amat dalam. Sebenar-benar rasa takut. Tidak ada seperti rasa takut menonton film horor. Itulah peristiwa gempa dan isu tsunami yang membawa kita kepada rasa yang tidak aman sama sekali ketika kita menginjak bumi ini.

Sungguh, semua yang kita nikmati ini adalah Kemurahan (rahmat) dari Allah SWT. Tetapi, karena terlalu dekat dan banyaknya nikmat itu, kita sepertinya melupakan siapa sebenarnya yang telah memberikannya. Kita pun melupakan perjanjian ketika dihembuskannya roh kita di dalam rahim dulu, bahwa kita mengakui kekuasaan Allah SWT.

Ya, bahasa agama disebut Iman dan Taqwa. Kita tidak melaksanakan apa yang telah diwajibkan. Malahan kita meremehkannya. Kita lalu sadar, rasa takut dan cemas yang selama ini terkubur dalam ketamakan, hura-hura dan dosa, bangkit mengisi setiap sel benak kita semua. Rasa aman pun pergi dari diri kita menuju pemiliknya, Allah SWT. Inilah yang terjadi. ***
abdullah.khusairi@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: